Friday, September 22, 2017

Jadilah Bunga Api

Bacaan: Ibrani 10:19-25
NATS: Marilah kita saling memperhatikan ..., janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita (Ibrani 10:24,25)

Akhir-akhir ini gereja mengalami penurunan jemaat. Bagi beberapa orang, pergi ke gereja merupakan ide buruk untuk menggantikan piknik di hari Minggu, meskipun hujan. Begitu banyak alasan yang dikemukakan. Banyak orang yang mengaku kristiani tetapi tidak menganggap bahwa pergi ke gereja sebagai hal yang amat penting. Mereka pikir mereka dapat menjadi seorang kristiani yang sempurna tanpa menjadi bagian dari persekutuan setempat.

Penulis Kitab Ibrani tidak setuju dengan hal ini! Pertama-tama karena kesejahteraan rohani kita bukan hanya urusan kita semata. Kita pergi ke gereja bukan hanya untuk mendapat, melainkan juga untuk memberi, untuk mendorong orang kristiani lainnya "dalam kasih dan dalam pekerjaan" (Ibrani 10:24). Jika kita tidak ke gereja, maka kita akan mendorong mereka untuk berbuat ceroboh.

Sebaliknya, jika kita hadir di gereja dengan penuh semangat, kita mendorong orang-orang percaya lain untuk mendekat kepada Kristus. Jika kita setia dalam persekutuan bersama mereka, kita akan memuliakan Tuhan, bertumbuh dalam iman, dan menjadi saksi yang teguh bagi dunia.

Iman kristiani tidak memberi ruang kepada orang yang egois. Untuk menyalakan api, Anda memerlukan lebih dari satu batubara. Anda juga membutuhkan sepercik bunga api dan udara. Mungkin Anda seorang yang rendah hati, terbuka, dan mudah terlibat serta telah dinyalakan oleh api Kristus menjadi bunga api. Jika demikian Roh Kudus, sebagai napas Allah, akan meniup bunga api itu dan menjadikan seluruh persekutuan terang benderang. -HWR

PERSEKUTUAN MEMBANGUN DAN MEMPERSATUKAN KITA

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Buah Kesengsaraan

Bacaan: Roma 5:1-5
NATS: Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan (Roma 5:3)

Seorang pemuda kristiani menemui seorang jemaat yang lebih tua dan bertanya, "Bersediakah Anda berdoa supaya saya lebih sabar?" Lalu mereka pun berlutut bersama, dan pria itu mulai berdoa, "Tuhan, kirimkan kesulitan kepada anak muda ini di pagi hari; kirimkan padanya kesulitan di siang hari; kirimkan padanya ...." Sampai di sini, pemuda itu memotong, "Bukan, bukan kesulitan! Saya meminta kesabaran." "Saya tahu," jawab orang kristiani yang bijaksana itu, "tetapi melalui kesulitanlah kita belajar untuk bersabar."

Kata ketekunan dalam bacaan Kitab Suci hari ini dapat berarti kemampuan untuk tetap tegar di dalam tekanan kesulitan tanpa menyerah. John A. Witmer menulis, "Hanya orang percaya yang telah menghadapi penderitaanlah yang mampu membangun ketegaran. Dan pada akhirnya juga membangun karakternya."

Ketika Rasul Paulus mengajar jemaat di Roma bahwa "kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan" (Roma 5:3), ia berbicara berdasarkan pengalaman pribadinya. Ia telah menderita karena dipukul, dicambuk, dirajam, karam kapal, dan penganiayaan. Namun, ia tetap tegar dalam imannya dan tidak mundur dari tanggung jawabnya untuk mengabarkan Injil.

Jika saat ini Anda sedang menghadapi ujian berat, muliakanlah Allah! Di bawah kendali-Nya yang penuh hikmat, maka segala sesuatu yang terjadi pada kita -- entah menyenangkan atau menyakitkan -- dirancang untuk membangun karakter yang serupa dengan Kristus. Oleh sebab itu, kita dapat bermegah dalam penderitaan --Richard De Haan

ORANG YANG SENANTIASA MENANTIKAN TUHAN
TIDAK AKAN DIHANCURKAN OLEH BEBAN KESULITAN

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Sistem Pertahanan

Bacaan: 1Petrus 5:6-14
NATS: Baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan (1Tesalonika 5:8)

Beberapa tahun yang lalu Dinas Rahasia Amerika Serikat mengamati bahwa para pejabat pemerintah tingkat atas tampaknya adalah pejabat yang "paling tidak terlindungi" dibandingkan anggota kabinet yang lain. Karena itu, untuk melindungi mereka dipasanglah empat buah pintu keamanan dari kaca di rumah dinas Washington. Semua itu menelan biaya 58.000 dolar. Pintu-pintu itu ditambah sepasang pintu kayu tebal besar yang tidak mungkin dirobohkan.

Kemudian ketika seorang pengawas memeriksa hasilnya, ia melihat bahwa pintu-pintu keamanan yang baru itu "selalu terbuka dan tidak dijaga." Jadi, nilai keamanannya adalah nol!

Saya melihat adanya kesamaan antara peristiwa ini dan keadaan rohani kita. Tuhan telah menyediakan semua senjata yang kita perlukan untuk menghadapi setiap ujian dan pencobaan. Sebagai contoh ada di 1 Tesalonika 5:8: "berbajuzirahkan iman dan kasih." Ketika kesulitan masuk ke dalam hidup kita, maka iman dapat mengalahkannya. Dan kasih mencegah kita berbalik pada sikap mengasihani diri sendiri. Kasih memusatkan perhatian kita pada kebutuhan dan kebaikan orang lain.

Ketopong "pengharapan keselamatan" merupakan harapan yang kuat akan penyelamatan terakhir yang dapat mencegah kita kehilangan iman di tengah-tengah kekacauan.

Namun perlu kita ingat, bahwa sistem pertahanan kita tidak bekerja secara otomatis. Kekuatan yang bersumber dari Allah harus digunakan agar sistem pertahanan kita dapat bermanfaat -MRDII

TAK ADA KEJAHATAN YANG MAMPU MENEMBUS BAJU ZIRAH ALLAH

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Kesalahan Terbesar

Bacaan: Kisah Para Rasul 2:22-36
NATS: Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus (Kisah Para Rasul 2:36)

Para pengikut Kristus memandang penyaliban-Nya sebagai kesalahan terbesar sepanjang sejarah. Namun mereka menghiasi gedung gereja dengan salib, mengenakan salib sebagai perhiasan, dan bernyanyi tentang penyaliban itu. Mengapa orang mengenangkan simbol penderitaan dan peristiwa memalukan yang sangat buruk itu?

Pada zaman dulu, penjahat dan pemberontak dihukum mati dengan disalib. Dalam kekacauan yang terjadi setelah kematian Herodes Agung pada abad ke-4 S.M, para tentara Romawi memagari jalan di Galilea dengan 2.000 salib. Pada masing-masing salib tergantung tubuh seorang pemberontak. Dengan memasang salib-salib itu mereka hendak membuat ngeri siapa pun yang bermaksud melancarkan pemberontakan melawan Roma.

Namun kematian Yesus tidak seperti kondisi di atas. Memang Dia menanggung penderitaan fisik yang sama, tetapi Dia mengalami perasaan ditinggalkan yang menakutkan sehingga Dia berseru, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Markus 15:34). Sebagai Anak Allah, Dia mengalami murka Bapa-Nya yang ditujukan terhadap dosa seluruh manusia. Dalam kematian-Nya, Dia menebus dosa kita dan mematahkan kuasa maut. Untuk membuktikan karya Kristus di kayu salib, Allah membangkitkan Dia dari kubur (Kisah Para Rasul 2:24; Roma 1:4).

Kesalahan terbesar dalam sejarah telah menjamin kita memperoleh pengampunan dosa. Kebangkitan-Nya memastikan kemenangan akhir kita terhadap maut. Itulah sebabnya kita mengenangkan peristiwa penyaliban! --HVL

SALIB KRISTUS MENYATAKAN KASIH ALLAH YANG TERINDAH
DAN KEBURUKAN DOSA MANUSIA

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Pertobatan Yang Membawa Dampak Positif

Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata :" Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."  Sebab ia dan semua orang yang bersama- sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; ....Kata Yesus kepada Simon :" Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia. " ( Lukas 5:8,10b)

Simon Petrus melihat mujizat yang dilakukan Yesus dengan mendapatkan ikan banyak padahal semalaman ia sudah bekerja keras tetapi tidak mendapatkan ikan. Sikap Petrus ketika mendapat mujizat Dari Yesus tersungkur di depan Yesus , ia merasa seorang berdosa dan akhirnya menjadi pengikut Tuhan dengan menjala manusia.

Ketika manusia berhadapan dengan Tuhan pasti ada sesuatu perubahan yang terjadi di dalam hidupnya. Manusia disadarkan Tuhan bahwa ia seorang berdosa , bertobat, menerima Tuhan dan akhirnya menjadi saluran berkat untuk menolong orang lain yang belum mengenal Tuhan.

..." Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa- Ku, sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yoh 14:6-7).

"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid- Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang tekah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. " ( Mat 28: 18-20)

Mari mengikut Tuhan dan bersaksi demi kemuliaan nama- Nya. Tuhan Yesus memberkati!

Sumber : Rina Adhisurya

Tawar Hati

Katakanlah kepada orang- orang yang tawar hati : " Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah , Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu! Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak- sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber- sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. ( Yes 35:4-7)

Orang yang tawar hati adalah orang yang banyak mengalami kekecewaan atau yang sedang dalam menghadapi masalah tetapi tidak tahu jalan keluar. Orang yang tawar hati tidak bisa melihat jalan keluar dari permasalahannya. Mereka melihat masalah lebih besar dari pada segalanya sehingga tawarlah hatinya. Hilanglah semangatnya. 

Ketika menghadapi masalah jangan mengatasi dengan kekuatan sendiri tetapi ingatlah akan Tuhan yang sanggup menolong kita. " Tetapi orang- orang yang menanti- nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru ; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. ( Yes 40: 31) . Tuhan kita adalah Tuhan yang dahsyat , tidak dibiarkannya anak- anakNya jatuh tergeletak. Ia memberi kekuatan kepada kita untuk mengatasi masalah. Maju terus di dalam Tuhan! God bless you all the best!

Sumber : Rina Adhisurya

Bahagia Orang Benar

Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah- Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Di dalam gelap  terbit terang bagi orang benar ; pengasih  dan penyayang orang yang adil. ( Mzm 112:1-3)

Tuhan itu baik kepada orang benar. Ia memberkati orang benar sampai kepada anak cucunya. Apa yang dikerjakan orang benar itu terlihat dan diingat orang. Ia tampil beda karena ada penyertaan Tuhan pada dirinya. Apa ciri- ciri orang benar? Ada beberapa ciri- ciri orang benar: 

- Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. ( Ef 5: 20)

- Sebab itu ambilllah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kami dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu ( Ef 6: 13)

- Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! ( Rm 12:12)

Mari kita menjadi orang benar selama kita masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan. God bless you all the best!

Sumber : Rina Adhisurya

Wednesday, September 20, 2017

Didikan Tuhan

Sebab orang- orang itu datang maju dengan ternaknya dan kemahnya, dan datangnya itu berbanyak- banyak seperti belalang. Orang- orangnya dan unta- untanya tidak terhitung banyaknya, sekaliannya datang ke negeri itu untuk memusnahkannya, sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu. Lalu berserulah orang Israel kepada Tuhan. (Hakim- hakim 6:5-6)

Setiap kali orang Israel selesai menabur, datanglah orang Midian, orang Amalek  dan orang- orang dari sebelah timur, lalu maju mendatangi mereka ; mereka berkemah di sana dan memusnahkan hasil tanah itu dan tidak meninggalkan bahan makanan apa pun di Israel, juga domba, atau lembu atau keledai pun tidak sehingga orang Israel sangat menderita. Ini disebabkan orang Israel tidak menyembah lagi Tuhan yang benar. Mereka menyembah allah orang Amori. Setelah mereka berseru meminta pertolongan kepada Tuhan maka Tuhan menolongnya. 

Kita dilahirkan dan hidup untuk menyembah Tuhan karena Dialah pencipta kita. Jangan sampai kita menyembah allah lain sehingga Tuhan perlu menghajar kita dengan proses yang tidak enak. " Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan- Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi- Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui- Nya sebagai anak."( Ibr 12: 5-6)

Hiduplah dalam kebenaran firman Tuhan dan jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri jika tidak ingin dihajar Tuhan. Hiduplah dalam kasihNya. Tuhan Yesus memberkati!

Sumber : Rina Adhisurya

Taat

Lalu berkatalah Elisa : " Pergilah, mintalah bejana- bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana- bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak- anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!" (2 Raja- raja 4: 3-4)

Seorang janda meminta pertolongan kepada Elisa karena penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua anaknya menjadi budak. Tuhan menjawab permintaan janda itu dengan menyuruh janda itu mengumpulkan bejana- bejana kosong supaya mujizat mengalirnya minyak bisa terjadi untuk janda itu.

Bagi Tuhan membuat mujizat itu mudah mungkin semudah membalikkan telapak tangan tetapi mengapa Ia mau menyuruh orang untuk melakukan perintahNya dahulu baru terjadi mujizat? Ternyata Tuhan ingin kita melalui proses apa yang dikehendakiNya baru terjadi mujizat. Jika kita hanya berpangku tangan, malas- malasan maka tidak akan terjadi mujizat. Ada bagian kita yang harus kita lakukan dan ada bagian Tuhan. Ia ingin melihat ketaatan kita mengikuti perintahNya.

Di dalam Alkitab selalu ada perintah Tuhan terlebih dahulu baru janji- janjiNya. Jika kita taat melakukan perintahNya maka janjiNya digenapi. Tidak bisa jika kita hanya ingin janjiNya tanpa melalui proses ketaatan melalui perintahNya. " Hiduplah sebagai anak- anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis : Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1 Ptr 1:14-16)

Mari kita taat akan perintah Tuhan karena kita mengasihi Dia. Tuhan Yesus memberkati!

Sumber : Rina Adhisurya

Tuesday, September 19, 2017

Memelihara Mulut Dan Lidah

Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran. (Ams 21: 23)

Dari mulut dan lidah keluar perkataan dan perkataan itu sebenarnya keluar dari luapan hati yang sudah penuh. Jika hati kita tidak benar maka yang keluar di dalam perkataan juga tidak benar begitu sebaliknya jika hati kita benar maka perkataan kita benar.

Sebelum berkata-kata hendaklah kita mempertimbangkan dahulu apakah perkataan kita berguna bagi orang lain atau tidak. Jika yang keluar dari mulut kita tentang ' nama binatang di kebun binatang', sumpah serapah, gosip maka itu berarti kita masih hidup di dalam kedagingan.

Kita tahu bahwa perkataan kita mempunyai kuasa mencipta. ..." Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu. "( Rm 10: 8) . Oleh karena itu pakailah mulut dan lidah kita untuk kemuliaan Tuhan. Baiklah mulut kita dipakai untuk : 

"Mulutku penuh dengan puji- pujian kepada-Mu, dengan penghormatan kepada-Mu sepanjang hari" ( Mzm 71: 8)

" Mulutku akan menceritakan keadilan- Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya." 

Hiduplah dengan apa yang firman Tuhan katakan karena dengan begitu kita akan selamat. Tuhan Yesus memberkati!

Sumber : Rina Adhisurya

Kebenaran Tidak Dapat Ditutupi

Dan sesudah berunding dengan tua- tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu- serdadu itu dan berkata : " Kamu harus mengatakan , bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. " ( Mat 28: 12-13)

Pada waktu Yesus bangkit dari kematian maka imam-imam kepala berunding dengan tua-tua untuk memberi sejumlah uang kepada  serdadu-serdadu yang menjaga kubur Yesus dengan maksud supaya memberitahukan kepada rakyat bahwa jasad Yesus dicuri murid-murid-Nya ketika mereka tidur. Mereka bisa saja merekayasa yang tidak benar dengan menyuap sejumlah uang tetapi kebenaran kebangkitan Tuhan tidak dapat ditutupi. Sampai sekarang kita tahu melalui Alkitab bahwa Yesus sudah bangkit dari alam maut untuk menebus dosa manusia.

Menutup-nutupi kebenaran tidaklah bisa. Suatu hari pasti akan terbuka. Kegelapan akan terlihat ketika terang itu muncul. Begitu pula kebenaran firman Tuhan tidak dapat ditutupi tetapi Ia akan masuk dan tidak akan kembali dengan sia-sia kepada orang yang mendengarNya. " demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku : ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." ( Yes 55: 11) Tuhan Yesus memberkati!
 
Sumber : Rina Adhisurya

Mengandalkan Tuhan

Celakalah orang- orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan , yang mengandalkan kuda- kuda , yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu banyak, dan kepada pasukan  berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari Tuhan....Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda- kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. ( Yes 31:1,3)

Tuhan berfirman melalui nabi Yesaya bahwa celakalah manusia yang mengandalkan kekuatan Mesir yang pada waktu itu sangat kuat. Sebab orang Mesir adalah manusia biasa saja dan tidak ada kekuatannya. Tuhan ingin mereka mengandalkan Dia.

Ketika di dalam masalah sadar atau tidak sadar kita bisa mengandalkan manusia, uang, kepandaian, dll. Mungkin juga kita sudah minta kepada Tuhan dan pertolongan itu belum datang sehingga kita lari mengandalkan kekuatan dunia. Sekuat- kuat atau sehebat- hebat nya manusia pasti bisa lemah atau jatuh. Ketika kita sedang di dalam masalah janganlah mengandalkan kekuatan manusia tetapi andalkan Tuhan.  Dialah satu- satunya penolong kita.  

"Diberkatilah  orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar- akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." ( Yer 17:7-8). Andalkan Tuhan selama hidup kita. Tuhan Yesus memberkati!

Sumber : Rina Adhisurya

Monday, September 18, 2017

Dipenjara Untuk Membebaskan

Bacaan: Ibrani 11:1-6,32-40
NATS: Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26)

Utusan Injil itu telah mendekam dalam penjara selama lebih dari dua minggu. Ia dijebloskan ke sebuah penjara di Kosovo karena mencoba bersaksi tentang Yesus Kristus kepada orang lain.

Beberapa utusan Injil lainnya mencoba melakukan tawar menawar untuk membebaskannya, tetapi mereka selalu ditolak. Akhirnya mereka menerima kabar baik bahwa teman mereka akan segera dibebaskan. Dan mereka pun pergi ke penjara untuk memberitahunya.

Para utusan Injil ini menjumpai teman mereka sedang bersaksi kepada orang-orang di dalam tahanan. Ketika para utusan Injil ini memberitahu bahwa ia akan segera dibebaskan, ia berkata, "Jangan. Saya belum siap. Beri saya waktu seminggu lagi. Saya perlu lebih banyak waktu untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang ini."

Apa gerangan yang membuat seseorang begitu terbeban bagi orang lain sehingga ia rela tetap dipenjarakan agar dapat terus mengabarkan Injil? Pertama, karena iman yang teguh bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga (Yohanes 14:6, Ibrani 11:1-6) dan bahwa hidup tanpa Dia akan mengarah pada masa depan yang tak berpengharapan. Kedua, karena iman bahwa Allah memegang kendali dan bahwa kita dapat menyerahkan seluruh hidup kita yang sama sekali tidak dapat kita kendalikan (Amsal 3:5-6, Ibrani 11:32-40). Dan yang ketiga adalah karena iman yang menghasilkan tindakan, bukan hanya pikiran dan kata-kata (Yakobus 2:26).

Apakah kita memiliki iman seperti itu? -JDB

IMAN YANG BENAR MENGHASILKAN
HIDUP PENUH PERBUATAN, BUKAN GAGASAN

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Salah Siapa?

Bacaan: Lukas 13:1-5
NATS: Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya? (Lukas 13:2)

Sepasang suami-istri tewas seketika saat mobil mereka ditabrak oleh pengemudi yang sedang mabuk. Mengapa peristiwa ini bisa terjadi? Mereka berdua adalah orang-orang yang baik, aktif di gereja, dan disukai banyak orang. Mereka tidak bersalah, dan kita pun tidak dapat menyalahkan Allah karena ada pengemudi lain yang mabuk dan menabrak mereka.

Sebagian orang yang menyalahkan setan. Namun, kita harus menyadari kenyataan bahwa seorang pengemudi mabuk yang kehilangan kendali atas mobilnya dapat menewaskan orang lain.

Yesus memberikan contoh dua tragedi yang terjadi pada zaman-Nya. Tragedi yang pertama, Pilatus telah membunuh beberapa orang Galilea dan mencampur darah mereka dengan darah korban yang mereka persembahkan (Lukas 13:1). Yang kedua, 18 orang Israel tewas karena tertimpa menara (ayat 4). Orang-orang yang mati dengan cara demikian dianggap memiliki dosa yang mengerikan.

Yesus menyanggah pemikiran seperti itu. Dia memberi tahu para pendengar-Nya bahwa daripada mencoba mencari siapa yang bersalah, mereka harus melihat peristiwa semacam itu sebagai panggilan untuk bertobat. Jika mereka bersikeras menolak Dia sebagai Mesias mereka dan tetap hidup di dalam dosa, hidup mereka pun akan berakhir dengan tragis.

Manakala kita mendengar tragedi yang sulit dipahami, biarkan saja pertanyaan "mengapa" itu tetap tidak terjawab. Dengan jaminan kasih Allah (Roma 8:39), marilah kita memandang segala peristiwa itu sebagai saat untuk memeriksa diri sendiri dan bertobat --Herb Vander Lugt

TRAGEDI HIDUP MERUPAKAN PANGGILAN
UNTUK BERCERMIN DAN BERTOBAT

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Cerminan Citra Allah

Bacaan: 2Korintus 3:7-18
NATS: Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2Korintus 3:18)

Beberapa tahun yang lalu, seorang pebisnis yang sudah senior bertanya kepada saya, "Apakah masalah terbesar Anda?"

Saya merenungkan pertanyaan ini sejenak sebelum menjawab, "Tatkala saya bercermin setiap pagi, saya melihat masalah terbesar saya sedang menatap saya."

Bacaan Kitab Suci hari ini mengajarkan kepada saya bahwa orang kristiani harus seperti cermin. Paulus berkata bahwa kita tidak boleh menutupi wajah kita. Perkataannya itu memang masuk akal. Tidak ada orang yang memasang cermin lalu menutupi cermin itu dengan tirai. Cermin yang berselubung tidak akan dapat menjalankan fungsinya yaitu memantulkan objek yang ada di depannya.

Dalam 2 Korintus 3:18, digambarkan bahwa kita "mencerminkan kemuliaan Tuhan". Apabila kita mencerminkan kemuliaan-Nya, kita akan diubah "menjadi serupa dengan gambar-Nya", yaitu menyerupai Kristus.

Barangkali kita bertanya-tanya mengapa cara berpikir dan perilaku kita masih jauh dari serupa dengan Kristus. Mungkin pertanyaan berikut ini dapat menolong: "Hidup siapakah yang kita cerminkan?"

Umat Allah harus mencerminkan kemuliaan Allah. Untuk itu kita harus membiasakan diri mencerminkan kemuliaan-Nya. Kita harus membaca dan merenungkan firman-Nya. Kita harus berdoa dan memercayai Roh Kudus Allah untuk bekerja di dalam hati kita. Barulah setelah itu kita dapat menaati perintah-Nya dan berpegang pada janji-Nya.

Kemuliaan siapakah yang Anda cerminkan hari ini? --Albert Lee

RAUT MUKA ADALAH CERMINAN HATI
APAKAH ORANG LAIN MELIHAT YESUS PADA RAUT MUKA ANDA?

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Nama Yesus

Bacaan: Filipi 2:5-11
NATS: Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1:21)

Seandainya Anda diharuskan untuk memilih beberapa pribadi yang paling berpengaruh di sepanjang sejarah, pria dan wanita yang telah mempengaruhi hidup jutaan jiwa, nama siapa sajakah yang akan masuk di dalam daftar Anda? Saya pikir satu nama yang pasti akan muncul dalam semua daftar kita adalah nama Yesus.

Reynolds Price menulis tentang "Yesus Orang Nazaret" dalam majalah Time (Desember, 1999). Ia menyatakan bahwa "sebuah argumen yang serius dapat dibuat, bahwa tak ada seorang pun yang dalam kehidupannya terbukti berkuasa dan tahan uji seperti Yesus". Maka, ketika Laki-laki yang dilahirkan di sebuah desa terpencil dua ribu tahun yang lalu itu menyatakan, "Akulah terang dunia" (Yohanes 8:12) dan "Perkataan-Ku tidak akan berlalu" (Lukas 21:33), Dia telah memprediksi bahwa sejarah akan membuktikan kebenaran perkataan-Nya.

Tak disangkal lagi, Yesus telah menjadi Pribadi yang paling berpengaruh di seluruh dunia. Namun, sudahkah Dia mempengaruhi kehidupan Anda secara pribadi? Apakah Anda menempatkan Dia sejajar dengan sosok berpengaruh lainnya, atau sudahkah Dia mengubah hidup Anda? Tidak seperti orang-orang penting lainnya yang akhirnya mati, dengan menakjubkan Yesus tetap hidup.

Apakah Yesus adalah Juruselamat dan pendamping tetap Anda? Jika Anda menjawab "bukan", Dia dapat menjadi Juruselamat dan pendamping tetap Anda. Panggillah nama-Nya dengan iman dan undanglah Dia untuk masuk ke dalam hidup Anda. Setelah itu, nama Yesus akan menjadi nama yang paling berharga bagi Anda --Vernon Grounds

APA YANG ANDA PUTUSKAN MENGENAI YESUS
AKAN MENENTUKAN MASA DEPAN ANDA

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Sungguh Tidak Adil!

Bacaan: Maleakhi 1:1-5
NATS: Bukankah Esau itu kakak Yakub?" demikianlah firman TUHAN. "Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau (Maleakhi 1:2,3)

Kita cenderung lebih sering menggunakan beberapa anggota tubuh daripada yang lain. Kita lebih sering menggunakan mulut daripada telinga, lebih sering memperhatikan kebutuhan perut daripada pikiran. Kita juga lebih sering berkata, "Sungguh tidak adil!" daripada "Saya sungguh tidak layak."

Dalam Maleakhi 1:1-5, kita membaca tentang kasih Allah kepada Yakub dan kebencian-Nya terhadap Esau. Sepintas hal ini tampak tidak adil, terutama ketika kita ingat sifat Yakub yang sebenarnya. Ia mengelabui ayahnya agar memperoleh berkat yang seharusnya diterima kakaknya, Esau (Kejadian 27). Dengan mudah kita dapat mencapnya sebagai "penipu murahan."

Tidak adilkah Allah jika Dia mengasihi Yakub dan membenci Esau? Mengapa Esau tidak layak dikasihi Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat sulit dijawab atau dijelaskan. Namun sudahkah kita mempertimbangkan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: adakah orang yang layak dikasihi Allah? Allah itu sempurna. Bahkan pada masa yang "terbaik" sekalipun, kita tetap harus bergumul dengan dosa. Bukankah itu berarti kita ini sungguh tidak layak di hadapan-Nya?

Kita tidak tahu mengapa Allah memilih mengasihi Yakub. Namun yang pasti kita tahu bahwa tak seorang pun di antara kita layak dikasihi Allah. Mengapa Dia mau mengasihi kita sedemikian besar sehingga Dia utus Anak-Nya sendiri untuk mati bagi dosa-dosa kita? Kita tak dapat menjelaskannya. Kita hanya dapat menanggapi kasih dan karunia Allah yang mengagumkan dengan ucapan syukur-AL

KARUNIA ALLAH MEMBERI KITA SESUATU
YANG TIDAK SEPANTASNYA KITA TERIMA

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Belajar Memberi

Bacaan: Lukas 19:1-10
NATS: Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin" (Lukas 19:8)

Banyak orang di negara-negara makmur merasa terganggu oleh tumpukan barang-barang yang sudah tidak mereka butuhkan atau gunakan lagi. Mereka menemui kesulitan untuk menyingkirkan berbagai barang yang memenuhi rumah dan kantor mereka. Seorang wanita yang telah berpindah rumah sebanyak lima kali dalam empat tahun mengeluh, "Tahukah Anda berapa banyak barang yang saya bawa setiap kali pindah rumah? Saya jadi bertanya pada diri sendiri, 'Kenapa tak kugunakan otakku untuk memindahkan semua barang ini?'" Akhirnya wanita itu menyewa seorang ahli untuk membantunya belajar merelakan barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.

Banyak orang terikat pada harta benda mereka dengan alasan yang berbeda-beda. Tampaknya Zakheus bergumul dengan masalah ini karena sifat serakahnya (Lukas 19:1-10). Namun, kisah pemungut cukai kaya yang memanjat pohon untuk melihat Yesus mencapai klimaks dengan terjadinya perubahan hati secara total ketika Zakheus berkata, "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin" (ayat 8). Kemudian ia pun berjanji, "Dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Yesus menanggapi perkataannya dengan berkata, "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini" (ayat 9).

Pembaruan rohani yang dialami oleh Zakheus dapat dilihat dari perubahan sikapnya, yaitu dari menerima menjadi memberi. Cengkeramannya yang mengendur mengungkapkan hati yang telah diperbarui.

Apakah hal ini juga terjadi pada diri kita? --David McCasland

KITA BELUM BELAJAR UNTUK HIDUP
JIKA KITA BELUM BELAJAR UNTUK MEMBERI

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Dia Meredakan Badai

Bacaan: Mazmur 46
NATS: Kota Allah ... disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai (Mazmur 46:5)

Pada musim gugur tahun 2001, sebuah badai yang bergemuruh berembus melewati Danau Michigan selama 36 jam tanpa henti. Angin yang bertiup terus-menerus dengan kecepatan 97 kilometer per jam dan dengan terpaan yang semakin keras, menimbulkan ombak tertinggi dalam 15 tahun terakhir ini. Ombak berbuih itu bergulung-gulung, dan sebagian mencapai ketinggian 5,5 meter, menghantam bendungan pemecah gelombang dan memukul pantai dengan dahsyat.

Penulis Mazmur 46 pasti pernah mengalami krisis rohani dan emosional yang tak kunjung usai seperti hantaman badai besar yang tak henti-hentinya sehingga ia menuliskan tentang air yang bergejolak dan laut yang bergelora. Ia juga menyebutkan tentang gunung-gunung yang berguncang (ayat 3,4).

Hal di atas mungkin menggambarkan kehidupan Anda saat ini. Jika demikian, lanjutkan membaca ayat 5, yang menyatakan tentang sungai yang tenang dan menyukakan, serta menyegarkan umat Allah. Airnya yang tenang mengalir terus-menerus sebagai sumber sukacita dan berkat yang takkan pernah berakhir.

Mazmur ini melukiskan Allah sebagai "tempat perlindungan dan kekuatan" (ayat 2). Kita tidak perlu takut, bahkan bila negara-negara di dunia dikuasai kemarahan dan saling bertikai dengan alat-alat perang mereka (ayat 3,7), karena "TUHAN semesta alam menyertai kita" (ayat 8).

Biarkan Tuhan meredakan badai dalam hati Anda. Dia berkata, "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (ayat 11) --DCE

ALLAH TIDAK MEMBENTENGI KITA DARI BADAI KEHIDUPAN
TETAPI MELINDUNGI KITA DALAM BADAI KEHIDUPAN

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat


Saturday, September 16, 2017

Senyum Sukacita

Bacaan: Habakuk 3:17-19
NATS: Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna (1Yohanes 1:4)

Ingatkah Anda pada stiker kuning bundar bergambar wajah dengan senyum bahagianya yang kerap menghias berbagai alat tulis dan kartu pos? Gambar itu sering disertai pesan satu kata: "Tersenyumlah." Secara tidak langsung gambar itu menyatakan bahwa Anda dapat memasang senyum di wajah semudah mengenakan topi di kepala. Namun hal ini tidak sepenuhnya benar. Hanya seorang aktor hebat yang dapat menampakkan raut wajah bahagia ketika hatinya hancur.

Kondisi yang menyenangkan juga dapat membuat kita tersenyum. Orang yang sehat, berpenghasilan cukup, dan memiliki rumah bagus cenderung lebih mudah tersenyum. Namun, secara alami senyuman yang termanis berasal dari dalam batin. Senyuman itu mencerminkan sukacita dalam hati seseorang meski hidupnya tidak berkelimpahan secara materi. Senyuman sejati datang setelah orang mengenal Allah, mempercayai dan menaati firman-Nya, yakin akan pengampunan dosa, memiliki hidup kekal, dan menantikan kemuliaan di surga. Orang percaya yang bergantung kepada Allah untuk mendapatkan berkat-berkat ini akan mampu tersenyum walau dalam kesengsaraan.

Dalam bacaan Kitab Suci hari ini, Nabi Habakuk dengan penuh kemenangan menyatakan, "Aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku" (Habakuk 3:18). Kendati segalanya diambil dari padanya, Tuhan tetap menjadi kekuatannya. Ia tidak perlu "memasang" senyuman, karena sukacita di hatinya dengan sendirinya memunculkan senyuman itu untuknya --RWD

KEBAHAGIAAN TERGANTUNG PADA PERISTIWA TERTENTU
SEDANGKAN SUKACITA TERGANTUNG PADA YESUS

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Harta Karun Tuhan

Bacaan: Kol 1:24-2:3; Mzm 62:6-7.9; Luk 6:6-11

Renungan
Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menyatakan bahwa ia adalah pewarta rahasia “harta karun” Allah yang selama ini tersembunyi. Dan isi harta karun itu adalah “Kristus”.  Kristus, sebagai puncak perwahyuan Allah, tidak hanya hadir dalam sejarah masa lalu, tetapi hadir di sini dan sekarang. Paulus mengatakan bahwa “Kristus hadir di antara kamu”. KuasaNya bekerja pada pelayanan Paulus yang menyempurnakan jemaat. Rahasia dan kekayaan ini ini tidak boleh disimpan tetapi harus diwartakan. 
Kristus adalah harta karun Allah yang juga dinyatakan kepada kita sekarang ini. Banyak orang ingin mengenal Allah, tetapi bingung. Tetapi bagi kita orang kristen, kita mengenal Allah Bapa kita dalam diri Yesus. Kita tidak usah mencari lagi rahasia Allah; Betapa beruntung dan bersyukurnya kita. Kita tinggal mengenal dan menjadikanNya sebagai teladan unggul dalam hidup beriman kita. 
Kekeringan rohani dan keraguan iman yang dialami orang sebagian orang kristen menjadi tanda bahwa mereka belum sungguh tahu bagaimana de fakto Allah mewahyukan diri. Mereka juga belum sungguh mendalami dan mengalami bahwa tidak ada pribadi yang lebih agung di dunia ini, yang unggul, yang luar biasa, selain Yesus Kristus. Kita beruntung dan bersyukur mendapat warisan pengenalan akan Yesus Kristus itu dalam keluarga kita. 

Kontemplasi
Gambarkan bagaimana Paulus sampai dapat menangkap bahwa Yesus Kristus adalah Rahasia Allah yang tersembunyi dan sekarang dinyatakan.

Refleksi
Apakah aku masih hidup dalam keraguan iman akan rencana Allah? Apakah aku masih dibingungkan oleh aneka pengajaran lain? Yakinkah aku bahwa Kristus adalah puncak perwahyuan Allah dalam sejarah manusia? Apakah ada pribadi agung selain Yesus Kristus dalam sejarah hidup manusia?

Doa 
Ya Bapa, syukur dan terima kasih karena aku boleh menemukan dan mendapatkan harta rohani yaitu Yesus Kristus PuteraMu .  Amin.

Perutusan
Aku merenungkan betapa beruntungnya dan terberkatinya aku karena mengenal Yesus (Morist MSF)

Sumber : Lentera Keluarga
Senin, 11 September 2017
Harta Karun Allah 

Hari Bersama Tuhan

Bacaan: Kol 1:21-23; Mzm 54:3-4.6.8; Luk 6:1-5.

Renungan
Para murid Yesus tentunya tahu  bahwa hari itu adalah hari Sabath dan mereka harus mentaatinya sesuai dengan pengetahuan yang diajakan oleh orang tua dan masyarakat mereka. Namun nampaknya para murid Yesus mempunyai penafsiran berbeda dengan beberapa orang Farisi mengenai  “tidak melakukan pekerjaan” seperti berjalan dan memetik gandum pada hari Sabath. Yesus menanggapi teguran orang farisi kepadaNya dengan kasus khusus yaitu kelaparan/kebutuhan dasar. Yang kedua hari sabath tidak boleh diartikan sebagai hari “istirahat” saja, tetapi sebagai hari khusus untuk bersama dengan Allah. 
Hari minggu bagi kita adalah hari yang secara istimewa kita baktikan bagi Allah dan kita diwajibkan untuk misa hari minggu. Bagi beberapa orang, hari minggu kadang dilihat sebagai hari istirahat dari kerja, refresing dengan hoby, menikmati liburan bersama keluarga ke pantai dll, tetapi kita lupa bahwa hari minggu (domingo) adalah hari Tuhan: hari yang kita baktikan bagi Tuhan, termasuk dengan merayakan ekaristi. Namun juga, ada situasi dimana karena kebutuhan hidup, ketergantungan terhadap pekerjaan terhadap orang lain, atau karena tinggal terpencil yang tidak dapat terjangkau oleh gereja-transportasi, orang tidak dapat ikut merayakan perayaan ekaristi pada hari Minggu.  Situasi seperti ini kewajiban misa hari minggu tidak mudah dipenuhi. Namun walapun tidak dapat dipenuhi, merekapun tidak dapat melalaikannya begitu saja. Mereka masih dapat mengkhususkan Tuhan pada hari minggu dengan membaca firman, merenungkan dan doa serta mengikuti Ekaristi pada hari-hari lain.  Hari sabath bukan hanya sekedar hari istirahat tetapi hari kita bersama keluarga dan bersama Allah. 

Kontemplasi
Gambarkan bagaimana Yesus menjawab orang farisi berkaitan dengan kasus para murid yang berjalan dan memeting gandum serta memakannya. 

Refleksi
Bagaimana sikapku terhadap hari Tuhan? Apakah aku menggunakannya untuk bersatu dengan Tuhan sebagai keluarga? Ataukan aku menggunakannya semata sebagai hari “istirahat”? 

Doa 
Ya Bapa, semoga dengan tekun aku bersama dengan seluruh keluargaku menjadikan hari Minggu sebagai Hari bagi Tuhan .  Amin.

Perutusan
Aku menjadikan hari minggu sebagai hari yang istimewa kubaktikan untuk Tuhan (Morist MSF)

Sumber : Lentera Keluarga
Sabtu, 09 September 2017
Hari Bersama Allah

Rencana Tuhan Dalam Kelahiran

Bacaan: Mi 5:2-5a; Mzm 13:6ab-6cd; Mat 1:1-16.18-23. 

Renungan
“Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamai Dia Immaenuel” yang berarti : Allah menyertai kita. Harapan dan sukacita kelahiran Immanuel diawali dengan sukacita kelahiran anak dara yang akan menjadi ibuNya. Dan ketika dilahirkan tentunya Maria tidak akan tahu pengalaman dan rencana Allah, tetapi ia telah menjaga hidupnya benar sejak awal, dalam asuhan Yoyakhim dan Ana. 
Setiap kelahiran anak di dunia ini mengandung sebuah rencana Allah yang akan semakin jelas di kemudian hari selaras dengan pertumbuhan anak itu sendiri. Kita lahir tidak tanpa maksud Allah, entah kita lahir secara wajar atau lahir dalam ketidaksempurnaan. Maka penting bagi kita orang tua untuk memberikan lahan yang terbaik bagi anak-anak kita dengan cara hidup perkawinan dan keluarga yang baik.  Walaupun kita tidak dapat memberikan harta, sekolah yang terbaik, kecukupan hidupnya, tetapi kita dapat memberikan cinta yang sempurna dan warisan iman yang tak ternilai harganya serta membantunya bertumbuh menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah. Jangan sampai kita melahirkan anak-anak tetapi tidak mempersiapkan lahan pertumbuhan hidup yang baik bagi mereka. 

Kontemplasi
Gambarkan bagaimana kelahiran Maria menjadi tanda harapan yang semakin mendekat akan kehadiran Immanuel. 

Refleksi
Apakah aku sebagai anak menerima kehadiranku di sebuah keluarga sebagai bagian dari rencana Allah? Apakah aku sebagai orang tua menjadikan perkawinan dan keluarga sebagai tempat yang subur bagi kehidupan anak-anakku?

Doa 
Ya Bapa, semoga keluargaku menjadi tempat bertumbuh yang baik bagi hidup setiap anak  Amin.

Perutusan
Aku menerima kehadiranku di tengah keluarga sebagai rencana Allah dan menjadikan keluargaku sebagai tempat yang baik bagi pembinaan hidup setiap pribadi (Morist MSF)

Sumber : Lentera Keluarga
Jumat, 08 September 2017. Pesta Kelahiran SP Maria
Rencana Allah Dalam Kelahiran

Tuhan Menentukan Langkah Manusia

Hati manusia memikir- mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya ( Ams 16: 9)

Suatu hari saya membeli sebuah buku resep membuat kue kering. Tertarik sekali ingin mencobanya karena bentuknya cantik- cantik di buku itu. Saya selalu ingin mencoba dan bereksperimen sesuatu hal yang baru dan jika berhasil alangkah senangnya. Hari minggu saya sudah merencanakan kalau senin saya akan mencoba resep kue kering tersebut. Saya menyiapkan bahan dan peralatan. Kenyataannya......berbeda! Hari senin saya tidak jadi membuat kue kering tetapi.....terbaring di UGD  karena diare dan demam tinggi dan pada akhirnya dirawat di rumah sakit. 

Di dalam hati saya berpikir : " Mimpi apa ya semalam? Saya telah merencanakan hari ini membuat kue kering tetapi kenyataannya berbeda. Saya berada di rumah sakit. " Hati ini tidak menerima tetapi akhirnya saya sadar semua terjadi seijin Tuhan dan hikmahnya dari sakit adalah adanya renungan ini. Tanpa melalui sakit penyakit pasti renungan ini tidak pernah ada.

Segala sesuatu ada dalam kendalinya Tuhan. Manusia memang merencanakan sesuatu tetapi semua peristiwa terjadi atas seijin Tuhan bukan atas kemauan manusia. Kita sadar bahwa untuk menentukan hari esok saja kita tidak mampu. Hanya Tuhanlah yang sanggup menata kehidupan kita semakin hari semakin baik oleh karena itu jangan kuatir akan hari esok. " Siapakah di antara kami yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? ( Lukas 12: 25) . Tidak ada! Jadi setiap saat hidup kita adalah berkat kasih karuniaNya. Tuhan Yesus memberkati!

Sumber : Rina Adhisurya

Friday, September 15, 2017

Sukacita Dalam Berbagi

"Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya".
(Ibrani 13:15).

Yesus tahu bahwa salah satu ujian yg menunjukkan kebersandaran kita pada Tuhan  adalah kemauan kita untuk berbagi pada sesama.
Kalau kita tidak memiliki belas kasihan pada sesama  itu menunjukkan bahwa kitapun belum pernah atau tidak  merasakan Belas Kasihan Tuhan kepada kita.
Emerson tentunya tahu mengukur belas kasih seseorang ketika ia berkata , " Siapakah anda, bersuara begitu keras namun saya tak mendengar yg anda ucapkan" .
Setan tak peduli seberapa ahli anda berteori tentang KeKristenan,  atau seberapa anda mengaku mengenal Kristus. Tapi yg ia lawan  adalah bila anda hidup dalam Kasih Kristus dan  membagikan Kasih itu.

Beberapa waktu lalu seorang wanita  menulis dan berkata, "Semua anak saya sudah menikah , suami saya meninggal dan saya menjadi salah satu orang paling kesepian di dunia ini".
Saya menyarankan pada wanita itu untuk ikut sharing dalam sebuah grup, ikut berbicara ,  mendengar dan berbagi dengan  teman-teman grup nya.
Beberapa minggu kemudian  ia menulis dan berkata, "Saya wanita paling happy di kota ini. Saya menemukan sukacita ketika saya sharing &  berbagi dengan yang lain ".
Itulah yg dijanjikan dan diberikan Tuhan.


Doa hari ini :
Bapa, tidak ada sukacita yg melebihi kebahagiaan membagikan KasihMu pada sesama.
Tolonglah saya untuk membawa dan membagikan KasihMu dalam setiap hubunganku dengan sesama.
Amin.

Dari : HOPE FOR EACH DAY by Billy Graham

Benih Yang Ditaburkan

"Benih yang ditaburkan di tanah yang baik . . . berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat".
(Matius 13:23)

Baca: Matius 13:1-9

Saya menerima sebuah e-mail istimewa dari seorang wanita yang menulis, “Ibu Anda pernah menjadi guru kelas 1 saya di Putnam City pada tahun 1958. Beliau adalah guru yang hebat dan baik hati, tetapi juga sangat tegas! Beliau mengharuskan murid-muridnya menghafal Mazmur 23 dan mengucapkannya di depan kelas, dan saya sangat ketakutan. Itulah sekali-sekalinya saya membaca Alkitab, sampai kemudian saya menjadi Kristen pada tahun 1997. Saya pun teringat pada ibu Anda saat saya membaca kembali Mazmur 23.”

Kepada orang banyak yang mendengarkan-Nya, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang petani yang menaburkan benih yang jatuh di atas beragam jenis tanah—di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik (Mat. 13:1-9). Meskipun sebagian benih itu tidak dapat tumbuh, “benih yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (ay.23).

Selama dua puluh tahun, ibu saya mengajar murid-murid kelas 1 di sejumlah sekolah negeri. Sambil mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung, beliau menaburkan benih-benih kebaikan dan kabar tentang kasih Allah.

E-mail dari mantan muridnya itu diakhiri dengan kalimat, “Tentu saja ada banyak orang yang telah mempengaruhi perjalanan iman saya setelah saya percaya kepada Tuhan. Meski demikian, saya selalu mengenang Mazmur 23 dan kelembutan ibu Anda dalam hati saya.”

Benih kasih Allah yang ditaburkan hari ini mungkin akan menghasilkan tuaian yang luar biasa kelak.

Tuhan, aku ingin hidupku menaburkan benih yang baik bagi orang di sekitarku. Tolonglah aku meneruskan apa yang telah Engkau percayakan kepadaku.

Kita yang menabur benih, Allah yang menghasilkan tuaian.

Sumber : OUR DAILY BREAD by David McCasland.

Wawasan:
Kita kembali melihat metafora “menabur benih” dalam kitab 1 Korintus. Rasul Paulus mengajar orang percaya di Korintus selama 18 bulan (lihat Kisah Para Rasul 18:1-11) lalu Apolos menyirami benih rohani yang telah ditaburkan Paulus (Kisah Para Rasul 18:27; 1 Korintus 3:4-9). Paulus menjelaskan bahwa orang-orang yang menyebarluaskan Injil hanyalah hamba-hamba Allah yang mengerjakan tugas yang telah diberikan Tuhan kepada mereka (1 Korintus 3:5). Sementara Paulus menaburkan benih ke dalam hati jemaat di Korintus dan Apolos menyiraminya, Allah sendirilah yang menjadikannya bertumbuh. Di waktu-waktu tertentu, mungkin kitalah yang menaburkan pesan tentang kebenaran dan kasih Allah, dan di waktu-waktu lainnya kita menjadi orang yang menyiram. Namun, yang terpenting adalah Allah yang membuat benih itu bertumbuh.

Sebagai orang yang bekerja bagi Allah, benih apa yang bisa kita taburkan dalam hidup sesama kita?

Hitung Terus Berkatmu ...

" Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. 
Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN"
(Mazmur 27 :5-6)

Orang Kristen tidak kebal dari depresi. Faktanya  begitu banyak kejadian yg menggunung tentang berbagai kebusukan, kejahatan yg menjadi beban serius, baik orang Kristen maupun bukan.
Daud, sebelum menjadi Raja Israel juga dikenal sebagai penyanyi , iapun sering tertekan depresi.

Kita bisa melihat dari Mazmur  yg ia nyanyikan dari lagu yg penuh sukacita berubah menjadi lagu yg sedih tertekan.  Seperti tertulis dalam 
Mazmur 42:3,  "Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?" 
Juga  dalam Mazmur 42:11, " Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?".

Saya menemukan bahwa cara menghilangkan depresi adalah bersyukur dan memuji Tuhan.
Atau dengan kata lain , ayo kita sibuk menghitung berkat yg ada pada kita, terus dan terus.... maka  kesuraman dan putus asa akan hilang menguap...

Doa: 
Terima kasih ya Tuhanku, untuk Mazmur Daud yg bahkan dalam kekelamannya tetap datang padaMu. Biarlah apapun keadaannya aku terus bisa memujiMu.

Sumber : HOPE FOR EACH DAY by Billy Graham

Hiduplah Dengan Kerendahan Hati

"Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan."
Amsal 18:12  


Dear  my Friends, 

Kerendahan hati adalah salah satu karakter Yesus yang tidak bisa ditiru oleh iblis. 
Kerendahan hatiNya dibuktikan dengan kedatanganNya sebagai manusia, sekalipun Dia adalah Allah. 
Dia mau berteman dan makan bersama-sama pemungut cukai dan bersedia diurapi oleh seorang wanita tuna susila. 
Puncak kerendahan hatiNya nyata ketika Dia rela mati di kayu salib sebagai seorang yang terkutuk, sekalipun Ia tidak bersalah. 

Setiap orang percaya tidak hanya dipanggil untuk diselamatkan dan menikmati berkat-berkat saja, melainkan juga dipanggil untuk menjadi berkat, mengikuti semua perintah dan teladan yang Tuhan Yesus berikan, yaitu untuk hidup dengan rendah hati. Kerendahan hati harus menjadi pakaian setiap orang Kristeiani yang dapat dilihat dan dirasakan oleh semua orang. 
Orang Kristiani yang masih tinggi hati, merasa lebih hebat, lebih utama, lebih pandai, sebenarnya ia masih belum mengerti dan mengalami arti kekristianian yang sesungguhnya.

Marilah kita belajar menjadi pribadi yang rendah hati sehingga semakin banyak orang diberkati dengan kehadiran kita.
Amin .

Sumber : LUMEN2000

Pencobaan

"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."
Yakobus 1:12

Kehidupan ini berjalan bagaikan seorang bayi yang baru lahir yang hanya bisa menangis, lalu seiring waktu ia mulai dapat merangkak dan berjalan. Mungkin ia sering jatuh saat ia belajar berjalan, namun itu tidak menjadi alasan agar ia tidak berjalan lagi daripada harus mengalami jatuh bangun. Ayah dan ibunya akan melindungi dan tetap melatih anaknya melangkah walaupun kelak saat anaknya bisa berjalan lalu belajar berlari, resiko si anak terjatuh semakin besar.

Demikian juga dengan Bapa yang mengasihi kita, Dia tidak akan berdiam diri melihat kita tertatih-tatih menjalani kehidupan ini. Dia selalu mengawasi dan menjaga, lalu ketika kita terjatuh, tanganNya siap mengangkat kita lagi. Saat kita terluka, dengan kasihNya, Dia membebat dan menyembuhkan, saat kita takut, Dia katakan: " Jangan takut, Aku menyertai kamu." Dengan demikian, sebenarnya apapun yang terjadi dan harus kita alami dalam hidup ini, Dia bertanggung jawab atas hidup kita.

Ingatlah firman Tuhan yang mengatakan: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Rasul 4:12). Dan itu mencakup dalam segala hal, apapun nama penyakit kita, atau apapun persoalan kita, semua ada di bawah Nama Yesus yang mengatasi segala yang ada. Dialah yang pertama dan yang terutama harus kita hadirkan di dalam penyelesaian masalah kita. 

Di saat kita melewati lembah kelam dan kita masih mengasihi dan mempercayaiNya, maka Tuhan akan menghargai iman kita. Rasul Paulus dalam Roma 5:3-4 mengatakan: "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan." Oleh sebab itu, "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10b).

Jadi jelas ada satu tujuan yang mulia yang ingin kita capai, bukan hanya sekedar terlepas dari permasalahan dan mencari kelimpahan dalam hidup ini. Ujian memang dibutuhkan, agar kita bisa lulus dengan predikat yang baik dan mendapatkan hadiah. Jangan menjadi lemah, apapun yang terjadi, kita tetap lebih dari pemenang di dalam Dia yang mengasihi kita!

Sumber : Pdt Sylvia Supangkat, GPIA El Shaddai, Bekasi

Menguji Diri

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu. " ( Mat 7: 3-5)

Pada waktu saya di rawat di rumah sakit karena diare dengan demam tinggi, maka banyak waktu untuk diri sendiri. Biasanya saya banyak beraktivitas tetapi sekarang 'berbaring manis ' di ranjang rumah sakit. Satu hiburan yang disediakan rumah sakit hanyalah sebuah tv. Pada waktu itu saya senang menonton film komedi di tv.  Di dalam film komedi kita diajak tertawa melihat tingkah laku pemain yang bodoh, tolol, konyol, atau menertawakan kemalangan orang lain . Memang film komedi dikemas seperti itu untuk memancing tertawa penonton. 

Di dalam kehidupan sehari- hari tanpa kita sadari kadang kala kita suka mentertawakan kebodohan, kemalangan, perbuatan orang lain. Padahal seharusnya kita prihatin kepada mereka yang masih hidup di dalam kedagingan. Kita melihat kesalahan orang lain tetapi kita lupa menginstrospeksi diri sendiri.  " Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus  ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. " ( 2 Kor 13: 5)

Karakter kita memang belum sempurna tetapi semakin hari kalau berjalan bersama Tuhan kita pasti semakin disempurnakan. Mari kita menyelidiki hati , pikiran dan perbuatan , apakah sudah sesuai dengan firman dan kehendak Tuhan ? Bila belum berusahalah dan kejarlah kesempurnaan seperti yang Tuhan kehendaki .God bless you all the best!

Sumber : Rina Adhisurya

Wednesday, September 13, 2017

Goncangan-Goncangan Kehidupan

"Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia : Iman kita."
(1 Yohanes 5: 4 )
 
Dear  my friends,  
Karena pekerjaan saya, maka saya sering bepergian dengan pesawat terbang. Pada umumnya  perjalanan selalu menyenangkan.  Tetapi pada suatu hari dalam penerbangan ke Manado tiba-tiba ada pengumuman supaya mengencangkan  sabuk pengaman, dan terjadilah goncangan yang keras.  Saya ketakutan  dan tegang. Demikianpun seluruh penumpang.     
Setelah beberapa menit (yang saya rasakan begitu lama) maka goncangan itu berhenti dan pesawat kembali tenang melaju terbang.  

Dalam kehidupan kita di dunia ini, Allah juga tidak menjanjikan hidup selalu mulus tanpa ada goncangan. 
Goncangan selalu ada di setiap kehidupan manusia, siapapun mereka.  Kaya, miskin, bodoh, pandai, muda, tua, semua pernah mengalami goncangan. Tetapi goncangan itu tentu hanya sesaat dan akan reda.     

Kalau goncangan datang dalam hidup kita, ingatlah bahwa kita hanya harus melaluinya beberapa saat dan Tuhan selalu beserta dengan kita.  

Tuhan selalu bersama kita saat hidup bergoncang dan meresahkan.  
Tetapi pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat.  
Amin.

Sumber : LUMEN2000

Meninggikan Atau Ditinggikan

Orang Filistin itu berkata kepada Daud : " Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat." Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud. Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: " Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung- burung di udara dan kepada binatang- binatang di padang." Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: " Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. ( 1 Sam 17: 43- 45)

Goliat orang yang tinggi hati dilihat dari perkataannya sedangkan Daud orang yang rendah hati. Kenyataannya apa yang diucapkan Goliat tidak terjadi malahan ia mati di tangan Daud dengan umban dan batu. Daud dengan kuasa Tuhan dapat mengalahkan Goliat yang ditakuti seluruh bangsa Israel.

Meninggikan beda dengan ditinggikan. " Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. "  ( Mat 18: 12) . Jadilah orang yang rendah hati, orang yang tahu bahwa dirinya hanya bisa bergantung kepada kekuatan Tuhan. Biarlah Tuhan yang mengangkat kita ke tempat lebih tinggi bukan karena gagah perkasa kita. Tuhan Yesus memberkati!

Sumber : Rina Adhisurya

Segenap Hati

Maka bangkitlah murka Tuhan pada waktu itu dan Ia bersumpah : Bahwasanya orang- orang yang telah berjalan dari Mesir, yang berumur dua puluh ke atas , tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, oleh karena mereka tidak mengikut Aku dengan sepenuh hatinya, kecuali Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu dan Yosua bin Nun, sebab keduanya mengikut Tuhan dengan sepenuh hatinya.  ( Bil 32: 10-12)

Orang- orang yang keluar dari bangsa Mesir berumur 20 tahun ke atas tidak akan melihat negeri Kanaan karena mereka tidak mengikut Tuhan dengan sepenuh hati. Tuhan marah dan itulah hukuman kepada mereka.

Rupanya mengikut Tuhan harus dengan segenap hati. Jika sedikit- sedikit mengeluh, marah, kecewa, tidak percaya kepada Tuhan maka kita tidak mengikut Tuhan dengan segenap hati. Mengikut Tuhan dengan segenap hati berarti kita bergantung kepada Tuhan dalam suka dan duka. Kita percaya bahwa semua ada di dalam kendalinya. Kita tahu sekarang , bahwa Allah turut bekerja  dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. ( Rm 8:28) Tuhan Yesus memberkati!

Sumber : Rina Adhisurya

Monday, September 04, 2017

Patuh Tanpa Alasan

" Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani ".
(1 Korintus 2 :14)

Banyak orang bukan Kristen bahkan juga orang Kristen  tak bisa mengerti Injil. Ini bukan hal yg aneh untuk jaman kita sekarang ini. Ketika Paulus menulis untuk orang-orang Korintus,  dia juga dianggap aneh dan bodoh oleh orang Yunani. Untuk orang biasa memang bisa demikian. Allah mengirim Yesus yg tak berdosa ke dunia untuk mati disalib bagi orang orang jahat yg berdosa, inipun bagi orang-orang yg tak percaya dianggap sebagai kebodohan. 
Orang biasa tidak bisa mengerti kekuatan Injil karena ini hanya bisa dicerna secara rohani.

Ini juga banyak kita temui dalam hidup sehari hari. Terkadang kita mendengar Tuhan berkata kata, mungkin juga melalui FirmanNya, dan ketika kita mencoba menerangkan kepada mereka yg tak mengenal Yesus, mereka berpikir ini tak masuk akal.

Sebuah contoh, saya ingat sepasang suami istri yg pergi ke Afrika menjadi misionaris. Mereka tidak disponsori atau disupport oleh sebuah lembaga ataupun gereja. Mereka memakai tabungan bahkan menjual cincin kawinnya .

"Menjual cincin kawin nya ? ", keluarga yg skeptis bertanya. 
" Jadi Tuhan tidak menyediakan untukmu, sehingga kamu harus menyiapkan sendiri?"
Istrinya tersenyum dan berkata, "Kita sudah memutuskan  bahwa melayani Yesus jauh lebih penting dari harta dan kenyamanan".
Pasangan suami istri itu merasa sudah melakukan pilihan yg benar, tetapi toh tidak bisa diterima oleh keluarga yg skeptis tadi.

Adalah sangat sulit untuk banyak orang mendengar, menangkap dan memahami kehendak Tuhan apalagi untuk mematuhinya tanpa banyak bertanya.
Alkitab juga menuliskan hal serupa dalam Yohanes 4,  ketika Yesus bersama perempuan Samaria.
Ketika itu Yesus berada di Yerusalem dan Dia ingin pergi ke Galilea yg ada di Utara. Samaria terletak diantara Yerusalem dan Galilea. Jaman itu orang Yahudi tidak suka dengan orang Samaria, sehingga menghindari rute melewati Samaria. Yesuspun sebenarnya bisa mengambil jalan yg lain bila mau menghindari Samaria.
Tapi  mengapa Yesus mengambil jalan yg 'tidak normal' yaitu tetap melewati Samaria.  Akhirnya kita tahu bahwa   Dia bertemu dengan perempuan Samaria itu yg akhirnya membawa seluruh desa itu mendengar FirmanNya.

Orang orang biasa yg hati pikirannya belum diterangi RohKudus seringkali mencemooh kita. Yg kita lakukan dalam tuntunan RohKudus seringkali tidak masuk akal bagi mereka.
Jadi sebenarnya siapakah yg mengatakan semua tindakan kita harus masuk akal? Alkitab pun menuliskan bahwa akal pikiran biasa tidak bisa memahami hal-hal rohani.
Seringkali ada pikiran yg kita kesampingkan dan kita berkata,  " ini tidak logis...." . Hal semacam ini terkadang kita mengabaikan tuntunan Tuhan. 
Memang setan sering membanjiri pikiran kita dengan berbagai hal , tapi bila kita membuka hati kita dalam doa dan minta Roh Kudus membuka hati kita serta menunjukkan jalan Tuhan, maka kita bisa merasakan dan melihat perbedaannya.
Coba kita ingat kisah Petrus si nelayan yg sudah semalaman menjala ikan tidak mendapat sesuatu, kemudian Yesus si tukang kayu datang dan memberitahu si nelayan, untuk menebarkan jalanya di air yg dalam... Baca Lukas  5:4.
Petrus punya alasan kuat untuk menolak perintah Yesus itu karena ia sudah semalaman kelelahan menjala di situ tanpa hasil. Tapi dalam Lukas 5:5 Petrus menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya,  _aku akan menebarkan jala juga."_ 
Dan kepatuhan Petrus, termasuk yg sudah tidak logis tadi, ternyata tidak mengecewakannya. Ia mendapatkan ikan begitu banyaknya sampai jaringnya koyak dan  perahunya hampir tenggelam karena banyaknya ikan yg diperoleh.

Ini adalah prinsip yg sangat penting yg harus kita pegang  yakni patuh pada FirmanNya tanpa alasan apapun. 
Seorang teman saya memakai istilah prinsip bagaimanapun.
Dia berkata bahwa dia merasa Tuhan minta dia melakukan sesuatu yg menurut dia kurang pas... tapi segera ia berkata " bagaimanapun  aku patuh ".

Itulah sesungguhnya  yg diminta Tuhan , yaitu patuh tanpa alasan

Tuhanku yg penuh hikmat dan mahabaik, kadangkala banyak hal tidak masuk akalku, tapi bagaimanapun aku ingin ada di dalam kehendakMu. Tolonglah aku  agar aku makin bertumbuh dalam  mencerna kehendakMu, agar tak satu kesempatanpun hilang  bagiku untuk melayaniMu.
Ajari aku untuk makin percaya padaMu dan tolong aku  untuk patuh padaMu tanpa alasan.
Terima kasih untuk mendengar doaku Tuhan.


From : The Book Battlefield of the Mind.
By Joyce Meyer.

Sahabat Setia

Bacaan: 2Timotius 1:15-18
NATS: Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17)

Salah seorang kerabat saya terkena stroke, sehingga ia memerlukan bantuan untuk berjalan. Ia juga tidak bisa mengingat kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya. Suatu hari, istri saya Ginny menyarankan agar kami mengajaknya keluar untuk makan malam. Saya ragu apakah itu perlu, karena setelah itu ia tidak akan mengingat apa yang telah kami lakukan. Ginny berkata, "Ketika kita bersamanya, ia akan tahu bahwa kita mengasihinya." Benar sekali!

Kita semua ingin mengetahui bahwa kita dikasihi. Saya teringat jawaban dari seorang jompo berusia 90 tahun yang tidak pernah ke luar rumah, ketika saya menanyakan kabar cucu-cucunya. Ia berkata, "Tidak tahu. Saya tidak pernah melihat mereka."

Rasul Paulus terkunci di dalam penjara bawah tanah yang lembab di Roma, menanti hukuman mati. Ia merasa menderita karena teman-temannya telah meninggalkannya. Namun, ia sangat bersyukur karena persahabatannya dengan Onesiforus!

Orang ini meninggalkan keluarga dan pelayanannya yang aktif di Efesus untuk menemani Paulus. Ketika tiba di Roma, dengan cermat ia mencari tempat Paulus dipenjarakan (2 Timotius 1:17). Dan ia dengan berani mengunjungi Paulus berkali-kali. Tentang Onesiforus Paulus berkata, "[Ia] berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara" (ayat 16).

Ingatlah, "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu", khususnya di waktu kesukaran (Amsal 17:17). Seperti Onesiforus, marilah kita berkomitmen untuk setia kepada sahabat-sahabat kita --Herb Vander Lugt

KESUKARAN ADALAH UJIAN BAGI PERSAHABATAN SEJATI

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Jalan Setapak

Bacaan: Mazmur 104:16-25
NATS: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11)

Di atas pegunungan dekat rumah kami terdapat sebuah jalan setapak yang naik dan kemudian turun sampai ke sisi sebuah ngarai yang curam. Pada akhirnya jalan itu menuju sebuah sungai, yang setelah melalui tumpukan batu besar seperti puri, mengalir ke hutan-hutan yang lebat dan berlumut. Di tempat itu pemandangan begitu tenang dan damai. Di sana bunga-bunga liar mengembang begitu indah, walaupun daerah itu terpencil dan jarang dikunjungi orang.

Bahkan jika tak seorang pun mengunjunginya, tempat itu tetap indah karena Allah yang menciptakannya. Yang menakjubkan adalah Dia menciptakan keindahan ini bagi siapa saja yang mau menerimanya, sebagai ungkapan kasih dan kreativitas-Nya yang kasat mata. Inilah sebabnya saya suka mengamati dan menjelajahi alam.

Saya menyembah dan bersyukur kepada Allah atas tempat tersembunyi yang penuh kedamaian ini. Bersama Daud saya berseru, "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu" (Mazmur 104:24).

Saya merasa kasihan terhadap mereka yang memuja alam tetapi tidak mengenal Allah yang menciptakannya. Ketika mereka datang ke tempat-tempat seperti itu, mereka tidak bersyukur kepada siapapun.

Kita yang mengenal Allah dapat menemukan Dia melalui ciptaan-Nya. Itu sebabnya kita dapat selalu bersyukur kepada-Nya karena Dia menunjukkan kasih-Nya dengan cara-cara yang begitu indah-DHR

SEGALA CIPTAAN MEMILIKI TANDA-TANDA YANG MENUNJUK KEPADA PENCIPTANYA

Sumber : Pdt Bambang Soebowo, GBI Eben Haezer - Jl. K.H.Wahid Hasyim no.67 - Jakarta Pusat

Popular Posts