Sunday, August 28, 2011

Ketaatan

TAAT ITU SEDERHANA (Kejadian 3:1-10)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan (Amsal 13:13)

Seorang anak dilarang makan permen oleh orangtuanya, karena sedang batuk. Namun ketika ia melihat satu stoples permen di meja makan yang warnanya begitu menarik, maka ia mulai tergoda. Ada keinginan untuk mengambil dan menikmati permen itu. Lalu ia teringat pada larangan orangtuanya. Hatinya bergumul. Ia tahu bahwa sebenarnya ia tidak boleh makan permen selama masih batuk, tetapi keinginannya untuk menikmati permen tersebut ternyata jauh lebih besar dari larangan orangtuanya. Akhirnya, ia lebih memilih keinginan hatinya.

Demikian juga dengan Hawa. Ia tahu bahwa buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, tidak boleh dimakan. Akan tetapi, godaan dan keinginan hatinya mengalahkan larangan tersebut. Ia melihat bahwa buah itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, apalagi buah itu akan memberi pengertian. Sungguh buah yang menarik hati. Dan, dari keinginan tersebut lahirlah perbuatan yang melanggar larangan Allah. Hingga jatuhlah Hawa ke dalam dosa karena ketidaktaatannya.

Sesungguhnya, ketaatan itu sederhana. Kita hanya diminta melakukan apa yang dikatakan Allah, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, mengapa dalam kondisi tertentu kita sulit untuk taat? Sebenarnya yang sulit bukan perintah atau larangannya, tetapi mengendalikan keinginan hati kita. Keinginan hati yang bertentangan dengan perintah atau larangan Allah, bisa membuat kita merasa keberatan untuk taat. Mari terus kenali Tuhan dan segala kehendak-Nya, agar setiap keinginan hati kita semakin selaras dengan kerinduan-Nya --RY

KETAATAN ITU SEDERHANA SAJA: LAKUKAN APA YANG ALLAH MINTA, JAUHI APA YANG DIA LARANG

Sumber : Renungan Harian

Anugerah

PAGAR PERISAI (Mazmur 5)

Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai (Mazmur 5:13)

Anugerah, atau dalam bahasa Yunani charis, ialah kemurahan Allah yang berlaku secara cuma-cuma dan universal. Allah memberikannya bukan karena kita mampu dan hebat, tetapi justru karena kita payah dan tidak berdaya. Anugerah juga berbicara tentang pengaruh kemurahan Allah itu di dalam hati penerimanya, yang selanjutnya melahirkan perbuatan yang penuh rasa syukur kepada Dia yang memberikan anugerah. Anugerah memberi kita kuasa dan kemampuan untuk hidup sebagai orang benar.

Daud menggambarkan kedua aspek anugerah itu secara indah. Ia melukiskannya sebagai pagar dan perisai dalam konteks pertempuran melawan musuh. Pagar menggambarkan perlindungan yang mengelilingi kita, menegaskan batas, memberikan rasa aman, menjaga kita terhadap serangan dari berbagai penjuru. Allah menaungi kita karena kita tidak berdaya dan memilih untuk berlindung kepada-Nya (ayat 12). Berlindung dari apa? Dari serangan kejahatan yang diuraikan dalam ayat-ayat sebelumnya. Pagar anugerah Allah memisahkan kita dari si jahat.

Perisai juga melindungi kita, namun dari serangan yang spesifik. Berbeda dari pagar, kita perlu mengangkatnya untuk menangkis serangan musuh. Perisai anugerah, dengan demikian, memampukan kita untuk secara aktif menolak kejahatan, mengelakkan cecaran pencobaan, memadamkan panah api si jahat yang mengincar jiwa.

Setiap hari, dari waktu ke waktu, kita memerlukan anugerah Allah. Di dalam Kristus, kita menerima anugerah demi anugerah (Yohanes 1:16). Dalam perlindungan pagar dan perisai anugerah-Nya itu, kita sepenuhnya aman dan tenang, lega dan puas --ARS

BAGI ORANG YANG MENYADARI KETIDAKBERDAYAANNYA ANUGERAH ADALAH PELUKAN PERLINDUNGAN ALLAH

Sumber : Renungan Harian

Bertemu Dengan Allah

ALLAH DI EMBUN KELAM (Keluaran 20:18-21)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada (Keluaran 20:21)

Setiap kali halilintar menggelegar di udara, di tengah hujan deras dan angin yang berembus kencang, anak-anak selalu akan menjerit dan segera lari ke pelukan saya. Ya, suara halilintar yang mengerikan itu, selalu membuat mereka ketakutan.

Kedahsyatan guntur juga pernah membuat umat Israel ketakutan-seperti dalam bacaan hari ini. Keluaran 20 menyaksikan kehadiran Allah dengan sedemikian megah: "guruh mengguntur, kilat sambung-menyambung, sangkakala berbunyi, gunung berasap" (ayat 18). Bagaimana umat tidak tergetar dengan tanda-tanda itu? Mereka takut, gemetar, dan berdiri jauh-jauh ... bahkan tak berani mendengar Allah yang dahsyat itu berbicara (ayat 19). Ya, kedahsyatan alam yang mewakili kehadiran Allah memang menggetarkan.

Namun, betapa menarik apa yang ditulis pada ayat 21: "tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada". Allah yang dahsyat ternyata juga bisa berada di tengah kekelaman embun, yang dalam bahasa Ibrani disebut "araphel", yang bisa berarti "awan pekat". Di sini kita mendapat kesan yang berkebalikan dari gambaran kedahsyatan. Tiba-tiba muncul suasana tenteram, dingin, dan teduh. Demikianlah Allah menjelaskan bahwa selain dahsyat, Dia juga bisa teduh. Kedahsyatan dan keteduhan Allah tak perlu dilawankan. Allah bisa hadir dalam kedua suasana itu.

Firman Tuhan mengajar kita bahwa Dia dapat dijumpai dalam hal-hal yang besar dan hebat, juga dalam keteduhan yang menenteramkan. Dia bisa hadir dalam berbagai persoalan hidup. Dalam segala keadaan kita. Sudahkah Anda bertemu Allah hari ini? --DKL

DI DALAM KRISTUS BAHKAN ALLAH MENDEKATKAN DIRI-NYA KEPADA KITA

Sumber : Renungan Harian

Suka Duka

DUA JALUR KERETA API (1 Tesalonika 5:16-18)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Mengucap syukurlah dalam segala hal (1 Tesalonika 5:18)

Pada masa yang sama, Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, mengalami dua hal yang bertolak belakang. Ia menuai kesuksesan besar karena bukunya tercetak hingga 15 juta eksemplar. Namun bersamaan dengan itu, hatinya merasa berat karena istrinya, Kay, diserang kanker.

Menyikapi hal bertentangan ini, Rick berkata, "Saya terbiasa berpikir bahwa hidup adalah deretan gunung dan lembah-kita berjalan melalui saat-saat gelap, mencapai puncak gunung, kemudian kembali lagi, begitu terus-menerus. Kini saya tidak percaya itu lagi. Hidup ini lebih seperti dua jalur kereta api yang menyatu di ujung, dan di sepanjang waktu Anda akan menjumpai hal baik dan juga hal buruk. Sebanyak apa pun hal baik yang Anda terima, Anda tetap akan menghadapi hal buruk yang mesti diatasi. Sebaliknya, seburuk apa pun hidup yang Anda jalani, selalu ada hal baik yang dapat disyukuri."

Menyadari bahwa manusia tak dapat menghindar dari hidup yang berdinamika seperti dua "jalur kereta", Paulus mengungkap tiga nasihat sederhana tetapi sangat penting untuk selalu dilakukan, dalam segala keadaaan-baik dan buruk-yakni: bersukacita, berdoa, mengucap syukur. Agar ketika suka datang, manusia tak menjadi takabur. Atau, ketika duka menyapa, manusia tak menjadi habis asa. Sebab, sesungguhnya melalui jalan ini Tuhan menolong manusia untuk selalu melihat hidupnya secara seimbang. Bahwa hidupnya terselenggara bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi selalu ada Tuhan yang berdaulat. Dan, bahwa manusia hidup bukan hanya untuk menikmati dunia, tetapi bahwa ada urusan kekekalan yang harus dipersiapkan sekarang --AW

DUKA DAN BAHAGIA KADANG DATANG BERSAMAAN AGAR KITA TAK LUPA DIRI DAN LUPA TUHAN

Sumber : Renungan Harian

Melakukan

LAKUKAN LEBIH DULU (Matius 7:12-14)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 7:12)

Sering orang berkata, intisari kekristenan ialah kasih. Indah, ya? Hanya masalahnya, bagaimanapun kasih adalah suatu kata benda abstrak. Kita masih punya "pekerjaan rumah". Bagaimana meng-ungkapkan kasih secara membumi dalam kehidupan sehari-hari? Syukurlah, Yesus bukan hanya ber-wacana tentang kasih. Dia memberikan teladan. Dia juga menyampaikan petunjuk praktis. Salah satunya ialah nas hari ini, yang dikenal sebagai Kaidah Kencana. Perintah ini berlaku dalam hubungan kita dengan sesama, siapa saja, baik saudara seiman maupun bukan.

Orang kerap menyatakannya dalam bentuk negatif: "Jangan berlaku buruk terhadap sesamamu, kalau kamu tidak ingin diperlakukan secara buruk." Yesus memilih bentuk positif untuk menegaskan signifikansinya. Lebih mudah bagi kita untuk menahan diri tidak melakukan sesuatu yang mencelakakan sesama kita. Yesus mengundang kita untuk melangkah lebih jauh: berinisiatif melakukan kebaikan kepada sesama kita. Berprakarsa memikirkan dan mengutamakan kepentingan orang lain. Istilah gaulnya, menjemput bola. "Kamu ingin dikasihi? Kasihilah orang lain lebih dulu."

Jadi, bagaimana mengasihi orang yang Anda jumpai hari ini? Ikuti Kaidah Kencana. Bayangkanlah bila Anda berada dalam posisi orang itu, dan pikirkan bagaimana Anda ingin diperlakukan. Anda ingin disambut dengan senyuman? Tersenyumlah lebih dulu kepada orang itu. Anda ingin didengarkan? Dengarkan lebih dulu curahan hati dan keluh kesahnya. Anda ingin dimaafkan? Maafkanlah orang itu lebih dulu-bahkan sebelum ia meminta maaf. Dan seterusnya. Ya. Lakukanlah lebih dulu --ARS

KASIH ITU TIDAK PASIF MENANTI SEBALIKNYA, IA AKTIF MEMBERI

Sumber : Renungan Harian

Kuatir

TEGURAN TENTANG KEKHAWATIRAN (Matius 6:25-34)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu (Matius 6:32)

Jangan kamu kuatir, burung di udara Dia pelihara ... Jangan kamu kuatir, apa yang kau makan minum pakai ... Jangan kamu kuatir, Bapa di surga memelihara". Ini adalah lagu yang kerap kita nyanyikan di gereja. Nadanya enak, liriknya bagus dan menghibur hati. Ya, memang ayat mengenai ucapan Tuhan Yesus lebih sering kita pakai untuk memberi kekuatan dan penghiburan, khususnya tatkala kita sedang menghadapi kekhawatiran dalam hidup. Namun, pernahkah kita melihat ayat ini dari sisi yang lain, yakni sebagai sebuah teguran?

Di pertengahan perikop ini, Tuhan Yesus mengatakan bahwa segala apa yang hendak kita makan, minum, dan pakai, adalah hal-hal yang dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (ayat 32). Artinya, kita yang mengenal Allah seharusnya tidak perlu mengedepankan hal-hal itu, karena kita memiliki Allah yang maha mengetahui segala kebutuhan kita. Jadi selain menghibur, sesungguhnya ayat ini juga menegur dengan keras. Menegur kita yang mengaku percaya kepada Allah, tetapi masih mengkhawatirkan hal-hal materi. Sebuah teguran agar kita tidak lagi memiliki hati seperti bangsa yang tidak mengenal Allah.

Kekhawatiran memang bisa menggeser fokus pandangan kita kepada Allah. Itu sebabnya Allah meminta kita mencari kerajaan-Nya terlebih dulu dalam segala hal (ayat 33). Bila Allah ada di tempat terbesar di hati kita, bila Allah menjadi yang terutama di hidup kita, maka kita akan memiliki pengharapan yang pasti. Percayailah Allah dengan sepenuh hati, maka atas segala yang kita perlu, Dia tidak pernah akan berdiam diri --RY

KEKHAWATIRAN BISA MENJADI TEMBOK PENGHALANG YANG MENUTUPI PANDANGAN KITA KEPADA ALLAH

Sumber : Renungan Harian

Harta

NILAI KEKAL HARTA (Lukas 16:1-13)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Ikatlah persahabatan dengan menggunakan mamon yang tidak jujur, sebab jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Lukas 16:9)

Lam Kin Bong adalah pengusaha restoran ternama dari Hongkong. Dalam pelelangan kapal induk bernama HMS Invincible dari Inggris, Mr. Lam menawarnya seharga Rp71.720.000.000, 00. Kapal ini berperan penting dalam perang Inggris-Argentina, ketika memperebutkan Falkland pada 1982. Bila menang, Mr. Lam akan mengubah kapal itu menjadi sekolah internasional, guna membina hubungan komunikasi dan budaya antara Inggris-China.

Alangkah indah bila orang-orang kaya di dunia menginvestasikan uang untuk tujuan kemanusiaan, perdamaian, dan kemajuan peradaban. Bukan untuk memicu perang atau mengeksploitasi alam. Dalam bacaan kita, cara si bendahara memang tidak benar. Namun, mari pelajari kecerdikannya dalam merencanakan masa depan (ayat 8). Ia sadar, kelak ia akan meninggalkan jabatan dan kehilangan otoritas mengelola harta tuannya. Maka, sebelum saat itu tiba ia memakai kesempatan untuk membangun persahabatan, dengan menggunakan harta tuannya. Supaya kelak ia mendapat balasan dengan diberi tumpangan.

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa harta yang ada pada kita, bukan milik kita. Kita dipercaya, tetapi hanya untuk mengelolanya. Suatu saat, semua akan kita tinggalkan. Jadi, gunakan kesempatan untuk mengelolanya dengan cerdik, untuk tujuan yang kekal. Harta duniawi memang sangat kecil nilainya dibanding harta surgawi. Namun jangan menyepelekannya. Cara kita mengelola yang "kecil" ini mencerminkan apakah kita orang beriman yang setia kepada Allah atau penyembah Mamon (ayat 10-13). Apakah kita memakai harta dan kemampuan untuk melayani Allah, atau kita diperhamba harta untuk memuaskan nafsu daging? --SST

TUHAN MEMPERCAYAKAN HARTA BUKAN AGAR KITA MEMULIAKAN DIRI NAMUN AGAR KITA MEMULIAKAN DIA SETINGGI-TINGGINYA

Sumber : Renungan Harian

Kematian

RAJAWALI MENANTI AJAL (2 Timotius 4:6-8)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)

Seorang rekan misionaris menceritakan pengenalannya akan burung rajawali, yang banyak dijumpai di daerah pegunungan di mana ia menghabiskan masa kecilnya. Menurutnya, jika rajawali sudah lanjut umur dan tahu ia akan mati, rajawali akan terbang dan mencari tempat persembunyian di ketinggian. Di situ ia bertengger di puncak bukit, lalu seolah-olah bersiap menghadapi kematian sambil menatap matahari. Seakan-akan ia mau berkata, "Sekarang saya siap ..."

Wajar bila manusia takut menghadapi kematian. Biasanya manusia melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Paling tidak, awet muda. Sebab ketuaan menunjukkan semakin dekatnya kematian. Iman kristiani berbicara tegas tentang kematian. Ke mana kita pergi dan dengan siapa kita akan bertemu setelah mati, sudah jelas. Kuasa maut telah dipatahkan oleh Yesus (1 Korintus 15:26, 54-55). Dialah kebangkitan dan hidup (Yohanes 11:25). Siapa yang percaya kepada Yesus, kematian adalah keuntungan baginya, karena ia akan berjumpa Yesus (Filipi 1:21-23). Berjumpa di rumah-Nya yang kekal (Yohanes 14:1-3). Paulus bukan hanya mengajarkan hal ini, melainkan menghidupinya sampai ajal menjemput. Kala hukuman mati mengancam, ia melihatnya sebagai akhir yang baik dari pertandingan iman. Ia tahu Siapa dan apa yang menantinya di balik kematian. Maka, kapan pun, ia siap "pergi".

Bagaimana perasaan Anda tentang kematian? Gelisah? Takut? Menghindar? Pasti beragam. Tergantung usia dan situasi Anda. Yang terpenting, siapkan diri Anda sebab kematian bisa mengunjungi siapa saja, kapan saja. Dengan menjadikan Kristus tumpuan pengharapan, kita sanggup berkata kepada kematian, "Aku siap ...." –PAD

INILAH PEDOMAN DI BALIK KEMATIAN: SAAT YESUS SIAP MENYAMBUT KITA, KITA PUN SIAP MENJUMPAI DIA

Sumber : Renungan Harian

Saturday, August 27, 2011

Biji Sesawi

PERMULAAN KECIL (Zakharia 4)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil, mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel (Zakharia 4:10)

Biji sesawi adalah biji terkecil di antara benih yang biasa dibudidayakan para petani Israel. Bentuknya bundar, berdiameter 1-2 milimeter. Hebatnya, benih paling kecil ini bila ditanam akan bertumbuh menjadi tanaman paling besar di ladang. Begitu besarnya, sampai burung pun dapat bersarang di cabang-cabangnya (Matius 13:31-32).

Biji sesawi mewakili salah satu prinsip Kerajaan Allah: jangan terkelabui oleh ukuran dan penampilan. Nabi Zakharia mengingatkan bangsa Israel akan hal itu ketika mereka membangun kembali Bait Allah. Menurut Alkitab versi New Living Translation, ia berkata, "Jangan meremehkan permulaan yang kecil ini, karena Tuhan bersukacita melihat pekerjaan dimulai, melihat batu penjuru sudah di tangan Zerubabel" (ayat 10). Bait Allah yang baru ini jelas tidak akan dapat menandingi kebesaran dan kemegahan bait yang dibangun Salomo. Mereka tidak memiliki sumber daya dan tenaga melimpah seperti dulu lagi. Namun, lebih besar dan lebih megah tidak selalu berarti lebih baik. Yang penting, Tuhan menyertai mereka dan mereka mengerjakannya dengan penuh dedikasi. Kalau Tuhan bersukacita atas permulaan kecil ini, mengapa kita tidak?

Kesempatan yang ada di tangan kita mungkin tampak tidak berarti. Apakah kita akan ciut hati, lalu mengerjakannya dengan tidak bersemangat? Biji sesawi mengingatkan bahwa Allah tidak dibatasi oleh ukuran, sumber daya, atau kualifikasi kita. Kita dapat menjadi bagian dari pelayanan Kerajaan Allah ketika kita mendayagunakan kesempatan sekecil apa pun, dengan dedikasi sepenuh hati, dan menyerahkan hasil akhirnya ke tangan Tuhan --ARS

KERAJAAN ALLAH ADALAH KERAJAAN SURGAWI KELIRULAH KITA KALAU MENAKARNYA DENGAN STANDAR DUNIAWI

Sumber : Renungan Harian

Mudah Marah

MARAH (Ulangan 9:7-21)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Setiap orang hendaklah ... lambat untuk marah; sebab kemarahan manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:19-20)

James Harrison adalah ayah dari lima anak yang tinggal di kota Graham, Amerika Serikat. Pada 4 April 2009 lalu, ia membunuh kelima anaknya di rumahnya sebelum kemudian bunuh diri. Dari penyelidikan polisi, diduga ia melakukan perbuatan tersebut karena marah besar setelah mendapati istrinya berselingkuh sehari sebelumnya.

Kemarahan yang tak terkendali memang berbahaya. Karena itu, Alkitab menasihati kita untuk tidak mudah marah. Bukan berarti kita tak boleh marah sama sekali. Pada saat tertentu, karena alasan yang tepat, kita boleh bahkan harus marah, walau mesti dengan cara yang tepat sebagaimana Musa lakukan.

Saat itu ia sedang tidak bersama-sama bangsa Israel. Ia tengah berada di Gunung Horeb untuk menerima loh batu perjanjian Tuhan. Tiba-tiba didengarnya kabar bahwa Tuhan murka karena bangsa Israel menyembah berhala. Musa pun pergi memeriksanya dan menjadi ikut murka saat melihat apa yang terjadi. Ia pun melemparkan dua loh batu itu hingga pecah. Kemudian, ia mengambil waktu diam sembari berdoa; memohonkan pengampunan Tuhan selama empat puluh hari.

Dari apa yang Musa lakukan, kita bisa belajar tentang alasan dan langkah tepat saat seseorang marah. Sehubungan dengan dosa, kita patut marah atas apa yang dilakukan, meski tetap harus mengasihi pribadi yang melakukannya. Maka, kemarahan tidak semata-mata didasarkan pada emosi atau keegoisan kita. Selanjutnya, pikirkanlah dengan tenang respons tepat yang dapat kita berikan; respons yang memuliakan Tuhan dan membawa damai sejahtera bagi sesama --ALS

MARAH ITU TIDAK SALAH, ASAL ALASAN DAN CARANYA TETAP BERKENAN KEPADA ALLAH

Sumber : Renungan Harian

Besar Kecil

YANG KECIL SAJA (Filipi 4:10-20)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)

Dua orang ibu tinggal di dekat pelabuhan. Setiap pagi mereka menyiapkan minuman hangat untuk para nelayan yang pulang melaut. Sebagai gantinya, mereka akan diberi beberapa ikan hasil tangkapan. Ibu yang pertama selalu berterima kasih setiap kali diberi ikan kecil maupun besar. Lain halnya dengan ibu kedua. Ia selalu panik jika diberi ikan besar. Katanya, "Maaf, bolehkah saya minta yang kecil saja?" Suatu saat, karena bingung melihat kebiasaan temannya itu, ibu pertama bertanya kepada ibu kedua, "Mengapa engkau selalu menolak diberi ikan besar?" Dengan tenang ibu itu menjawab, "Karena saya tak punya wajan yang cukup besar untuk memasaknya." Ibu pertama tak dapat menahan tawanya, "Bukankah engkau bisa memakai pisau dan memotong-motongnya?"

Seperti dua ibu itu, setiap saat kita diperhadapkan pada hal-hal kecil dan besar, bahkan hal yang sangat besar; hal-hal yang datang dalam bentuk yang menyenangkan, juga yang tidak. Paulus dalam ayat 12 dan 13 bersaksi bagaimana Tuhan tetap berkarya dalam kekurangan maupun kelimpahan hidupnya, dan memampukannya melewati itu semua.

Kita tetap harus menghargai hal-hal kecil. Namun, kita juga jangan menolak impian, pekerjaan, dan pelayanan yang Tuhan percayakan hanya karena kita melihat semuanya itu terlalu besar dan hati kita tidak cukup luas atau iman kita terlalu kecil untuk menerima berkat-Nya. Bukan saatnya lagi "minta yang kecil saja", karena yang kita perlukan adalah kerja ekstra dan keyakinan bahwa segala perkara, seberapa pun ukurannya, dapat kita tanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita --SL

HAL KECIL DAN BESAR DAPAT SAYA TANGGUNG DALAM DIA YANG MEMBERI KEKUATAN KEPADA SAYA!

Sumber : Renungan Harian

Rendah Hati

TERUS BELAJAR (Bacaan : Yohanes 3:1-13)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus (Yohanes 3:1-2)

Saya terkadang menghadiri seminar-seminar yang diadakan di kampus tempat saya bersekolah. Dalam acara-acara tersebut, kerap kali para dosen juga turut hadir. Termasuk mereka yang sudah sangat senior dan terpandang. Mereka duduk di sana, mendengarkan pembicara dengan saksama dan mengajukan pertanyaan jika tidak mengerti. Tanpa malu dan tanpa bersikap sok pintar. Tanpa harus menjaga citra di depankami para mahasiswa.

Sikap mereka ini mengingatkan saya akan Nikodemus. Ia adalah seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi pada zamannya. Seseorang yang dihormati masyarakat dan dipandang sebagai orang yang paling mengerti ajaran-ajaran agama. Yesus hampir pasti lebih muda dan lebih rendah secara status sosial. Namun, suatu malam ia datang kepada Yesus untuk belajar. Di tengah pengajaran-Nya, Yesus sempat mengeluarkan teguran keras (ayat 10). Sebagai seorang yang terpandang, sangat normal kalau Nikodemus tersinggung dan meninggalkan Yesus. Namun, ia merendahkan hatinya dan terus mendengarkan pengajaran Yesus, bahkan menjadi pengikut-Nya (Yohanes 19:39).

Kerendahan hati Nikodemus ini perlu diteladani. Kerap kita merasa sudah cukup pintar, cukup senior dan terhormat sehingga tidak lagi perlu diajar. Namun, sebetulnya selama hidup, kita harus terus belajar. Tentang apa pun; pengetahuan, hikmat, iman. Juga dari siapa pun, termasuk mereka yang lebih muda dari kita. Dan kapan pun, dalam forum formal maupun informal. Membuat diri kita makin baik, bijak, dan sempurna seperti Yesus. Pertanyaannya, apakah kita cukup rendah hati untuk terus diajar? --ALS

AGAR BISA TERUS BELAJAR TANPA HENTI KITA PERLU TERUS MERENDAHKAN HATI

Sumber : Renungan Harian

Iblis Pencuri

PENCURI (Yohanes 10:1-10)
Dikirim Oleh : Evi Sjiane Djiun

Pencuri datang hanya untuk mencuri, dan membunuh dan membinasakan (Yohanes 10:10)

Pencurian merupakan peristiwa kriminal merugikan yang kerap terjadi di sekitar kita. Pencurian uang, kendaraan, dan harta benda lainnya. Akan tetapi, tidak ada pencuri yang lebih profesional dari Iblis. Cara kerjanya sangat halus dan rapi sehingga banyak orang kristiani yang menjadi target Iblis seakan-akan tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal di dalam hidupnya telah dicuri oleh Iblis. Mereka baru menyadari ketika segala sesuatu sudah habis. Apa saja yang kerap dicuri oleh Iblis?

Kegembiraan: Iblis ingin mencuri sukacita kita. Keyakinan: Iblis ingin kita meragukan Allah. Pendirian: Iblis ingin kita berdiri untuk sesuatu yang kosong. Belas kasihan: Iblis ingin kita menjadi egois, tidak memedulikan orang lain. Komitmen: Iblis ingin kita menjadi orang yang tidak berketetapan hati. Damai sejahtera: Iblis ingin kita hidup dalam kehampaan. Kepastian: Iblis ingin kita meragukan keselamatan yang kita terima dari Yesus. Karakter: Iblis ingin kita tidak bertumbuh dalam Kristus. Kekudusan: Iblis ingin hidup kita tidak layak di hadapan-Nya. Iblis ingin mencuri segala yang baik dari hidup kita dengan cara-cara keji; membunuh dan membinasakan kita (ayat 10) jasmani dan rohani. Ini sangat kontras dengan tawaran Yesus, Gembala kita. Dia datang untuk memberikan hidup (ayat 10).

Apakah hari-hari ini kita kehilangan kasih, sukacita, damai sejahtera, komitmen, keyakinan, karakter Allah, dan sebagainya? Bisa jadi Iblis telah memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencurinya. Mintalah kuasa Tuhan untuk merebut kembali semua "kekayaan" surgawi yang sudah dicuri Iblis --PK

IBLIS SELALU MEMANFAATKAN SITUASI DAN KONDISI UNTUK MENCURI "KEKAYAAN" SURGAWI DALAM HIDUP KITA

Sumber : Renungan Harian

Friday, August 26, 2011

Certain Things

Ten Things That Are Certain And Unshakable
By Roy Lessin

It has been a year since the events of 9/11 impacted our lives (this was written in 2002). What a year it has been! The images and realities of what occurred during those morning hours of September 11 have changed us forever. We have gone through this past year facing new fears and great uncertainties. Things that once were considered unimaginable and unthinkable are now a part of our everyday lives. Our comfort and security have been stretched and tested, and our values have been shaken to their foundations.

The Bible tells us that "the clouds are the dust of His feet" (Nahum 1:3 KJV). In the midst of the clouds of smoke, doubt, fear, and uncertainty, God has been moving and working out His plan. Because God is a redeemer, I believe that He reveals His mercy and goodness in the times of our greatest need. One redemptive element that has emerged this past year has been the way we have sharpened our focus on what is important, and re-evaluated our priorities on what is of lasting value.

As we think and wonder what is ahead for us as a nation and as individuals, I would like to share ten things that are certain and unshakable, and that you can build your life upon.

#1. God has a purpose for your life. It is no accident that you are alive today. You are here by God's choosing. You were born at this time in History to fulfill His purpose for this generation. He has given you all the light you need to know His will, and He has given you all the grace you need to do His will. If you are committed to His will, there is nothing that can keep you from it.

#2. God is in charge. God has not retreated somewhere in the universe and gone into hiding. He is today where He has always been-on His throne. There is no king or ruler that has more authority than God; there is no political figure that has more influence than God; there is no nation that has more control than God. No one can outthink Him or outsmart Him. He is God Almighty. If you have placed your life in His hands, He is in charge of your life and all you do.

#3. God is sovereign. Nothing can stop His plan or frustrate His purposes. God is not worried about what will happen or what He will be able to do. Nothing takes Him by surprise. He sees the future and He is already there. He knows where He is leading your life and He knows how to get you there. If you follow Him, you will find that He makes no mistakes.

#4. God's Word is dependable. All Scripture is God's written Word. It is 100% reliable because God is 100% infallible. The Scriptures have endured the test of time-men have tried to destroy them but they still remain; men have tried to dispute them but they have had the final say in every argument; men have tried to refute them but they stand over each man's grave as a living testimony to all that is true, righteous, and eternal. If you obey His Word you will never have regrets.

#5. You belong to a Kingdom that cannot be shaken. Throughout history kings have been overthrown, leaders have fallen from power, kingdoms have been conquered, armies have been defeated, riches have been depleted, and fortresses have toppled over. It is only in the Kingdom of God that anyone can find true rest and security. No rebellion can break down its gates, no weapon can penetrate its borders, and no warrior can come against its King. The way of the Kingdom is where your feet can walk; the truth of the Kingdom is what your faith can embrace; the love of the Kingdom is what your heart can give away.

#6. You are covered by the blood of Jesus Christ. When Jesus came, He came and shed His blood to save you, cleanse you, forgive you, and deliver you from the power of the devil. His blood has bought you, and the enemy has no claim upon your life. You are His and His alone. He is your Redeemer, and He has taken full responsibility for your life since the day you gave your heart to Him. Because of His blood, your future is secure, your inheritance is guaranteed, and your destiny is certain.

#7. God has given you all that you need to serve Him. The grace of God covers you, the presence of God is in you, the angels of God are with you, the arms of God are around you, the gifts of God are for you, and the power of God is upon you. He has not abandoned you or left you in this world as an orphan, alone and forsaken. God is for you, the Holy Spirit is in you, Jesus is with you, and all the heavenly hosts are on your side.

#8. Jesus Christ is coming back. The outcome of all things has already been determined. Jesus is the winner. He is without rival in the universe. No evil, no outlaw, no terrorist or anarchist will be standing in the end. Every enemy of God will be defeated, every false prophet will be exposed, every evil spirit will be chained, and every accusing tongue will be silenced. The final chapter in the Book of Life has already been written, and there will be no need for rewrites or revisions. All that remains is for its writings to be fulfilled. One day soon, you will forever be with the Lord.

#9. God loves you and will not fail you. You are God's child and He is your Father. He loves and cares for you more than you will ever know. All that He is, He is for you. The depth of His love for you cannot be measured, and its height cannot be scaled. He wants you to trust Him completely because He will not fail you. When you go through trials He will keep you from defeat, and when you face temptations He will keep you from shame. When the enemy comes in like a flood, He will raise up a standard against Him.

#10. Jesus Christ will never let you go. He is with you always. No one can pluck you out of His hand, so you need not fear any evil. He is daily praying for you, and His prayers are being answered. He is preparing a place for you in His Father's house, and He will come for you. If you ever question His love for you, just look at His hands. Jesus will never ask you to do something without His grace. In the dark times He will be your light. In troubled times He will be your security. In uncertain times He will be your guidance. In fearful times He will be your peace. You will never face a day without Him; you will never take a step without His presence walking beside you; you will never face a need without His supply; you will never face a circumstance that He can't bring you through.

“No weapon that is formed against thee shall prosper; and every tongue that shall rise against thee in judgment thou shalt condemn. This is the heritage of the servants of the LORD, and their righteousness is of me, saith the LORD.” - Isaiah 54:17 

Source : Sherry's Inspirational

Lessons of Life

Remove Your Mask
Author: Unknown

A 91-year-old woman died after living a very long dignified life. When she met God, she asked Him something that had really bothered her for a very long time. "If Man was created in God's image, and if all men are created equal, why do people treat each other so badly?"

God replied that each person who enters our life has a unique lesson to teach us. It is only through these lessons that we learn about life, people and our relationships with God.

This confused the woman, so God began to explain "When someone lies to you, it teaches you that things are not always what they seem. The truth is often far beneath the surface. Look beyond the masks people wear if you want to know what is in their hearts. Remove your own masks to let people know who you really are.

When someone steals from you it teaches you that nothing is forever. Always appreciate what you have. You never know when you might lose it. Never take your friends or family for granted, because today and sometimes only this very moment is the only guarantee you may have.

When someone inflicts injury upon you, it teaches you that the human state is a very fragile one. Protect and take care of your body as best as you can, it's the one thing that you are sure to have forever.

When someone mocks you, it teaches you that no two people are alike. When you encounter people who are different from you, do not judge them by how they look or act, instead base it on the contents of what is in their hearts.

When someone breaks your heart, it teaches you that loving someone does not always mean that the person will love you back. But don't turn your back on love, because when you find the right person, the joy that one person brings you will make up for all of your past hurts times a thousand fold.

When someone holds a grudge against you, it teaches you that everyone makes mistakes. When you are wronged, the most virtuous thing you can do is forgive the offender without pretense. Forgiving those who have hurt us is often the most difficult and painful of life's experiences, but it is also the most courageous thing a person can do.

When a loved one is unfaithful to you, it teaches you that resisting temptation is Man's greatest challenge. Be vigilant in your resistance against all temptations. By doing so, you will be rewarded with an enduring sense of satisfaction far greater than the temporary pleasure by which you were tempted.

When someone cheats you, it teaches you that greed is the root of all evil. Aspire to make your dreams come true, no matter how lofty they may be. Do not feel guilty about your success, but never let an obsession with achieving your goals lead you to engage in malevolent activities.

When someone ridicules you, it teaches you that nobody is perfect. Accept people for their merits and be tolerant of their flaws. Do not ever reject someone for imperfections over which they have no control."

Upon hearing the Lord's wisdom, the old woman became concerned that there are no lessons to be learned from man's good deeds. God replied that Man's capacity to love is the greatest gift He has. At the root of kindness and love, and each act of love also teaches us a lesson.

The woman's curiosity deepened.
God, once again began to explain "When someone loves us, it teaches us love, kindness, charity, honesty, humility, forgiveness, acceptance, and all of these can counteract all the evil in the world. For every good deed, there is one evil deed. Man alone has the power to control the balance between good and evil, but because the lessons of love are not taught often enough, the power is too often abused.
When you enter someone's life, whether by plan, chance or coincidence, consider what your lesson will be. Will you teach love or a harsh lesson of reality? When you die, will your life have resulted in more loving or more hurting? More comfort or more pain? More joy or more sadness? Each one of us has the power over the balance of the love in the world. Use it wisely!"
Don't miss an opportunity to nudge the world's scale in the right direction!

“And the servant of the Lord must not strive; but be gentle unto all men, apt to teach, patient, In meekness instructing those that oppose themselves; if God peradventure will give them repentance to the acknowledging of the truth; And that they may recover themselves out of the snare of the devil, who are taken captive by him at his will.” -2 Timothy 2:24-26

Source : Sherry's Inspirational

Cara Tuhan Berbicara

Cara Tuhan Berbicara Kepada Manusia
Oleh : Amos Hosea

1. Tuhan berbicara melalui ciptaan-Nya (Mazmur 19:2)

2. Tuhan berbicara melalui Yesus Kristus (Ibrani 1:1-2)

3. Tuhan berbicara melalui Firman-Nya (Ibrani 4:12, Efesus 6:17)
Perbedaan antara Logos dan Rhema
Logos (Yohanes 1, 14, 2 Timotius 3:16)
Firman yang bersifat umum, untuk semua kondisi, perintah untuk semua orang, di dalam keseluruhan Alkitab, harus dilihat dalam konteksnya

Rhema (Roma 10:17, Efesus 6:17)
Firman yang bersifat pribadi, untuk kondisi tertentu, perintah untuk orang tertentu, hanya pada bagian tertentu Alkitab, lepas dari konteks.

4. Tuhan berbicara melalui hamba-Nya (Kisah 2:14-40, 5:3,9, 9:17, 10:22) melalui kotbah, penyuluhan, pengajaran, nubuatan, dsb. Syaratnya hamba Tuhan itu hidup dalam kehendak Tuhan, peka mendengar suara Tuhan, memiliki motivasi yang tulus, dan dipenuhi Roh Kudus.

5.Tuhan berbicara melalui nubuatan (Kisah 21:10-14)
Nubuatan harus diperiksa yakni :
Apakah sesuai dengan Alkitab (Yohanes 16:14)
Apakah memberikan kebebasan atau sebuah manipulasi untuk mengikat orang (Yohanes 16:13)
Apakah menghasilkan buah Roh (Matius 7:15-16)
Apakah terbukti penggenapannya (Ulangan 18:20-22)
Apakah memuliakan Tuhan Yesus (1 Korintus 12:3)

6. Tuhan berbicara melalui keadaaan
Tuhan berbicara kepada Yeremia melalui pekerjaan tukang periuk (Yeremia 18:1-11)
Tuhan berbicara kepada Raja Saul melalui punca jubah Samuel yang terkoyak (1 Samuel 15:17-28)
Tuhan berbicara kepada murid=murid melalui ladang yang sudah menguning (Yohanes 4:35)
Tuhan berbicara kepada Ayub melalui penderitaan yang dialaminya (Ayub 42:5)
Tuhan berbicara kepada Harun dan Miriam tentang kesalahan mereka melalui penyakit kusta yang dideritanya (Bilangan 12:10)

7. Tuhan berbicara melalui Mimpi
Mimpi Yusuf (Kejadian 37:5,11) dan Yusuf suami Maria (Matius 1:19-20)
Mimpi harus diuji apakah tidak bertentangan dengan firman Tuhan, dan ketika menerimanya ada damai sejahtera dari Roh Kudus atau tidak

8. Tuhan berbicara melalui hati nurani
Contohnya di Roma 8:15-16, 9:1, syaratnya sudah menjadi anak Tuhan (Roma 8:15 cf Ibrani 10:22) dan selalu berjalan dalam Roh Kudus (Galatia 5:16)

Tuesday, August 23, 2011

Complete The Task

Pecking Away
From Steve Goodier's book "Riches of the Heart"

Do you know when to give up and when to keep trying? Former University of Alabama president, Frank Rose, used to tell a favorite story about a time, in the mid-1960s, when evangelist Billy Graham was invited to speak at an event in the university's football stadium. There were 18,000 people in attendance that evening. America's civil rights movement was well underway and the stadium crowd represented one of the largest racially integrated meetings ever held in the state.

As Rev. Graham was giving a message about easing racial tensions, a huge thunderstorm gathered overhead. Suddenly, lightening struck and a ball of fire seemed to emanate from the speaker's microphone and travel down the wire.

Graham immediately sat down. Then he leaned over and spoke to Alabama's legendary football coach, Bear Bryant. "Coach," he said, "you'd have stopped, too, if that lightnin' had hit you like that."
Bear said, "No sir!"
"What do you mean?" asked Graham.
"Well," he said, "if I was down on the one-yard line, I wouldn't have stopped until I scored."

At that, Rev. Graham returned to the microphone and finished his talk.
Safety considerations aside, the story reminds us of one of life's important lessons. In most of what we do, there is a time to stop, but there is also a time to score; a time to pack it in, but also a time to complete the task. The woodpecker owes its success to the fact that it uses its head and keeps pecking away until it finishes the job!

Today, will you quit? Or will you keep pecking away?
”Remember therefore from whence thou art fallen, and repent, and do the first works; or else I will come unto thee quickly, and will remove thy candlestick out of his place, except thou repent.” – Revelation 2:5

Source : Sherry's Inspirational

Monday, August 22, 2011

Helping Others

When The Message Light Doesn't Blink
Author: Steve Goodier

Seeing one of her neighbor's children playing alone, a woman asked him where his brother was.  "Oh," he said, "he's in the house playing a duet.  I finished first."

Too many people find themselves playing a duet alone.  Too many people are lonely.  They rise alone in the morning, they eat meals alone, they watch television alone and retire alone in the evening.  They have too few friends and family to share their lives with.  It feels as if they should be playing a duet or an ensemble and everyone else finished first.  They are more than alone; they are lonely.

"I don't have an answering machine," one man said.  "I live alone, and I'm sometimes told that I've missed calls when I've been out.  'You should really get an answering machine,' my friends tell me, but I won't.  I don't want to come home to find the message light not blinking.  I don't want to know with such certainty that no one tried to get in touch.  It's worth missing a message or two to avoid that."

A folktale tells of a monarch long ago who had twin sons.  There was some confusion about which one was born first.  As they grew to young manhood, the king sought a fair way to designate one of them as crown prince.

Calling them to his council chamber one day, he said, "My sons, the day will come when one of you must succeed me as king.  The burdens of sovereignty are very heavy.  To find out which of you is better able to bear them cheerfully, I am sending you together to a far corner of the kingdom.  One of my advisors there will place equal burdens on your shoulders.  My crown will one day go to the one who first returns bearing his burden like a king should."

In a spirit of friendly competition, the brothers set out together.  Soon they overtook a frail and aged woman struggling under a heavy weight.  One of the boys suggested that they stop to help her.  The other protested: "We have a burden of our own to worry about.  Let us be on our way."

So the second son hurried on while the other stayed behind to help the woman with her load.  On his journey to the kingdom's edge, the same young man found others who needed help.  A sightless man who needed assistance home; a lost child whom he carried back to her worried parents; a farmer whose wagon needed a strong shoulder to push it out of the mud.

Eventually he did reach his father's advisor, where he secured his own burden and started home with it safely on his shoulders.  When he arrived back at the palace, his brother met him at the gate and greeted him with dismay.  "I don't understand," the brother said, "I told Father the burden was too heavy to carry.  How did you manage it alone?"

The future king replied thoughtfully, "I suppose when I helped others carry their burdens, I found the strength to carry my own."

Isn't that the secret of living with loneliness?  When we find others who need help with their burdens, we also find the strength to carry our own!
Get busy helping others, even if it is nothing more than making a phone call or writing an encouraging note, and you'll find that your burden of loneliness will become easier and easier to manage.  And soon you'll be too happy and busy to even notice if the message light is blinking.

“For he satisfieth the longing soul, and filleth the hungry soul with goodness.” -Psalm 107:9 

Source : Sherry's Inspirational

Friday, August 12, 2011

An Editor

Occupational Hazard (Philippians 1:12-18)

The things which happened to me have actually turned out for the furtherance of the gospel. —Philippians 1:12

My occupation is words. Whether I am writing or editing, I am using words to convey ideas so that readers can understand. I can usually see what’s wrong with someone else’s writing (though sometimes not with my own) and figure out how to fix it.

As an editor, I am paid for being critical. My job is to see what’s wrong with the way words are used. This ability becomes a disability when I carry it over into my personal life and always look for what is wrong. Focusing on what’s wrong can cause us to miss everything that’s good.

The apostle Paul had reason to focus on what was wrong in the Philippian church. Certain people were preaching the gospel out of selfish ambition to add to Paul’s suffering (Phil. 1:16). But instead of concentrating on the negative, he chose to look at the positive and rejoice in it: Jesus Christ was being preached (v.18).

God wants us to be discerning—we need to know good from bad—but He doesn’t want us to focus on the bad and become critical or discouraged. Even in circumstances that are less than ideal (Paul was writing from prison), we can find something good because in times of trouble God is still at work. —Julie Ackerman Link

The eyes of faith when fixed on Christ
Give hope for what’s ahead,
But focus on life’s obstacles
And faith gives way to dread. —D. De Haan

When your outlook is blurred by problems, focus on Christ.

Source : Our Daily Bread

Good Example

Doing Good (Luke 6:2-36)

Jesus of Nazareth . . . went about doing good and healing all who were oppressed by the devil, for God was with Him. —Acts 10:38

Someone once said, “The good you do today will be forgotten tomorrow. Do good anyway.” I like that; it’s a great reminder. In the book of Acts, Luke summarized Jesus’ earthly ministry by saying that He “went about doing good” (10:38).

What does the Bible mean when it tells us to “do good”? Jesus did good by teaching, healing, feeding, and comforting people. Using Jesus as the perfect example, His followers are called to meet the needs of others, including those who hate them: “Love your enemies, bless those who curse you, do good to those who hate you” (Matt. 5:44; see also Luke 6:27-35). They are to serve their enemies without expecting anything in return.

Moreover, as opportunity arises, His followers are to do good especially to fellow believers (Gal. 6:10). They are not to let persecution, selfishness, and busyness cause them to forget to do good and to share what they have with others (Heb. 13:16).

To be like our Savior and His early followers, we should ask ourselves each day: “What good thing can I do today in Jesus’ name?” When we do good, we will be offering a sacrifice that pleases God (Heb. 13:16) and that draws people to Him (Matt. 5:16). —Marvin Williams

From the example of Jesus,
Who went about doing good,
We are to honor our Savior
By helping wherever He would. —Hess

Imitate Jesus—go about doing good.

Source : Our Daily Bread

Wednesday, August 10, 2011

Kekuasaan

TEBAR PESONA (2 Samuel 2:1-7)

Dikirim oleh : Evi Sjiane Dkun

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3:1)

Untuk menjadi pemimpin dalam perusahaan atau organisasi tertentu, beberapa orang terkadang berkompetisi demi mendapat dukungan dan simpati dari rekan kerja maupun atasan; atau tebar pesona demi mendapat dukungan orang lain. Masing-masing akan menyiapkan diri sedemikian rupa untuk dapat menjadi pemimpin pada saatnya kelak. Namun, mari kita belajar kepada Daud mengenai hal ini.

Alkitab memberitahukan bahwa Daud ditetapkan oleh Allah menjadi pemimpin sejak pipinya masih kemerah-merahan atau masih muda jauh sebelum Saul meninggal dunia. Akan tetapi, hal itu tidaklah membuat Daud jumawa lalu tebar pesona ke penjuru Israel untuk mendapat dukungan, serta menjelek-jelekkan keluarga Saul. Sebaliknya, Daud tetap taat menanti waktu Tuhan. Saul, orang yang akan ia gantikan, tetap ia hormati sebagai orang yang diurapi oleh Allah. Dan, ia tetap menjalani hidupnya secara biasa-biasa saja sebagai rakyat yang harus menghormati rajanya. Sikap Daud yang tetap sabar menanti waktu Tuhan dan tetap menghormati Saul, adalah hal yang perlu kita tiru.

Kekuasaan memang telah lama menjadi salah satu hal yang menyilaukan mata manusia selain harta. Orang berlomba-lomba menggapainya. Terkadang beberapa orang berkompetisi memakai cara-cara yang tidak sehat. Mulai dari tebar pesona, memberi janji yang muluk, membagikan uang, sampai menyikut kiri-kanan, menjilat sana-sini. Padahal seharusnya kita menyadari bahwa di dalam Tuhan, segala sesuatu ada waktunya. Dan, kalaupun kita berusaha meraihnya, seharusnya kita tetap menggunakan cara yang berkenan di hadapan Allah dengan tetap menghormati satu sama lain --RY

APABILA TUHAN MENGARUNIAKAN KEKUASAAN PADA SESEORANG, TUHAN JUGA AKAN MEMBERINYA HIKMAT UNTUK MENGELOLANYA

Sumber : Renungan Harian

Janji Tuhan

JANJI TUHAN (Yosua 10:28-43)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyerahkan mereka kepadamu (Yosua 10:8)

Suatu hari saya membeli sebuah gambar puzzle untuk anak saya. Kemudian saya mengajarkan kepadanya bagaimana memasangkan dan mencocokkan setiap keping dan potongan gambar. Awal-nya, ia melakukannya dengan sabar. Ia mencoba dan mencoba lagi. Namun, lama kelamaan ia jenuh. Anak saya kemudian membiarkan saya yang menyelesaikan gambar puzzle tersebut. Rupanya ia sudah jenuh mengerjakannya, dan sudah tidak sabar ingin melihat hasil akhirnya saja.

Tuhan telah menjanjikan kepada bangsa Israel sebuah negeri yang indah dan kaya. Namun, ternyata Tuhan tidak memberikan seluruhnya sekaligus. Dia memberikannya satu bagian demi satu bagian. Kota demi kota diserahkan kepada bangsa Israel. Dia membuat raja demi raja dan kerajaan demi kerajaan bertekuk lutut kepada umat pilihan-Nya. Tuhan ingin bangsa Israel mendapatkan kota-kota baru setiap harinya. Kemenangan demi kemenangan pun diperoleh.

Pemenuhan janji Tuhan dalam hidup kita terkadang juga datang secara bertahap tak sekaligus. Ketika kita selesai mendapatkan satu bagian dari janji Tuhan, kita harus kembali percaya bahwa Dia akan memenuhi bagian janji yang berikutnya. Demikian seterusnya sehingga kita, waktu demi waktu, tetap ada dalam pengharapan kepada-Nya. Karena itu, tetaplah bersabar pada pemenuhan janji-janji Tuhan bagi kita. Jangan buru-buru menanti hasil akhir saja. Kita pun harus menyediakan diri untuk bekerja keras, juga bertekun dalam perjuangan dengan tetap mengandalkan Tuhan. Maka, Dia akan memberikan kita kemenangan demi kemenangan kepada kita, sesuai janji-Nya --FZ

APABILA SEBAGIAN JANJI TELAH TUHAN GENAPI, DIA PASTI MENERUSKAN BAGIAN JANJI BERIKUTNYA UNTUK DIGENAPI

Sumber : Renungan Harian

Ragam Pencobaan

WASPADAI KEDUA SISI (Kejadian 39:1-7)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri (Kejadian 39:6)

Bisnis Pak Rudy sedang guncang truk pengangkutan miliknya mengalami kecelakaan. Ia baru saja kehilangan ibunda tercinta. Penyakit kencing manisnya kambuh. "Semua ini pencobaan buat saya, " begitu katanya. Namun, sesungguhnya pencobaan tak hanya berkaitan dengan kesusahan. Sebaliknya, situasi menyenangkan juga bisa jadi sasaran empuk pencobaan.

Keberhasilan Yusuf di rumah Potifar berkat penyertaan Tuhan sungguh mengagumkan. Kepercayaan yang diterimanya kian besar. Di kalangan pekerja di rumah itu, ia beranjak dari tingkat paling rendah sampai ke puncak. Wewenangnya untuk mengurus segala sesuatu begitu besar, hingga secara dramatis dilukiskan bahwa tuannya itu "tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri" (ayat 6). Dipandang dari segi karier, Yusuf sedang berada di puncak. Kondisi itu disempurnakan oleh penampilannya yang memikat: "manis sikapnya dan elok parasnya" (ayat 6). Di saat seperti itulah pencobaan datang. Istri majikannya melancarkan rayuan jitu (ayat 7).

Dalam arti tertentu, pencobaan di puncak keberhasilan malah lebih berbahaya. Banyak anak Tuhan terjatuh saat menapaki puncak kesuksesan. Tak tahan menanggung buaian kenikmatan. Waktu sengsara ditanggung bersama istri tercinta, tetapi waktu jaya lupa diri dan mengkhianati istri setianya. Ketika krisis rajin ke gereja, tetapi menghilang tatkala krisis berlalu. Menyalahgunakan jabatan justru ketika kepercayaan yang diberikan makin besar. Pencobaan bisa datang dari dua sisi. Kita pantas berhati-hati. Libatkan Tuhan dalam melawan pencobaan, sebab Dia sumber kemenangan --PAD

MINTALAH KEKUATAN DARI TUHAN UNTUK MENANGGUNG PENCOBAAN, BAIK PADA WAKTU SUSAH MAUPUN PADA WAKTU SENANG

Sumber : Renungan Harian

Wednesday, August 03, 2011

Dibalik Kekayaan

KEKAYAAN (Yesaya 2:6-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan (Yesaya 2:11)

Fortune adalah majalah bisnis di Amerika yang didirikan oleh Henry Luce pada 1930. Majalah ini dikenal oleh masyarakat dunia karena kerap menuliskan daftar orang terkaya di dunia. Dan, daftar tersebut selalu menimbulkan daya tarik tersendiri buat orang banyak. Mungkin karena kekayaan adalah hal yang selalu dicari oleh manusia.

Alkitab sendiri tidak mencatat bahwa kekayaan atau menjadi kaya itu salah. Justru Alkitab mencatat kekayaan sebagai salah satu berkat dari Tuhan (Amsal 10:22). Akan tetapi, apabila kita tidak berhati-hati, kekayaan dapat mengarahkan hati kita kepada kesombongan dan makin menjauh dari Tuhan seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel pada zaman Yesaya. Pada saat itu bangsa Israel sedang berada dalam kondisi makmur (ayat 7). Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka bersyukur kepada Tuhan. Mereka malah menjauh dari Tuhan, menyembah berhala, dan menjadi sombong. Allah pun menegur dan menghukum mereka.

Berhati-hati dan waspadalah dengan kekayaan. Prinsip yang mengatakan bahwa "segala sesuatu bisa dilakukan asal ada uang" memang banyak berlaku di mana-mana. Prinsip itulah yang biasanya membuat diri kita merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa pertolongan Tuhan, dan akhirnya membuat kita menjauh dari-Nya dan menjadi sombong takabur. Menjadi kaya bukanlah hal yang keliru. Akan tetapi, kita harus memandang kekayaan sebagai berkat atau pemberian dari Tuhan. Karena hanya dengan cara itulah kita dapat bersyukur kepada Tuhan dan menjaga hati kita untuk tidak sombong --RY

MENJADI KAYA ITU BUKAN DOSA TETAPI MENCARI DAN MEMAKAI KEKAYAAN DENGAN CARA SALAH, ITU DOSA

Sumber : Renungan Harian

Wrong Statement

It Can Never Happen To Me (Psalm 30:6-12)

Now in my prosperity I said, “I shall never be moved.” —Psalm 30:6

Actor Christopher Reeve was para-lyzed in a horseback riding accident in 1995. Prior to this tragedy, he had played the part of a paraplegic in a movie. In preparation, Reeve visited a rehabilitation facility. He recalled: “Every time I left that rehab center, I said, ‘Thank God that’s not me.’?” After his accident, Reeve regretted that statement: “I was so setting myself apart from those people who were suffering without realizing that in a second that could be me.” And sadly, for him, it was.

We too may look at the troubles of others and think that it could never happen to us. Especially if our life journey has led to a measure of success, financial security, and family harmony. In a moment of vanity and self-sufficiency, King David admitted to falling into the trap of feeling invulnerable: “Now in my prosperity I said, ‘I shall never be moved’” (Ps. 30:6). But David quickly caught himself and redirected his heart away from self-sufficiency. He remembered that he had known adversity in the past and God had delivered him: “You have turned for me my mourning into dancing” (v.11).

Whether He has brought us blessing or trial, God still deserves our gratitude and trust. —Dennis Fisher

I can always count on God, my heavenly Father,
For He changes not; He always is the same;
Yesterday, today, forever, He is faithful,
And I know He loves me, praise His holy name. —Felten

In good times and bad, our greatest need is God.

Source : Our Daily Bread

No Limits

Still Going (Ephesians 4:7-13)

Whatever you do, do it heartily, as to the Lord and not to men. —Colossians 3:23

The Energizer Bunny can’t top the Service Partners of RBC Ministries. RBC, the publishers of Our Daily Bread, has a volunteer program called Service Partners that gives people the opportunity to donate their skills and time—helping us accomplish our mission “to make the life-changing wisdom of the Bible understandable and accessible to all.”

Some of the Service Partners are well past retirement age. Despite the aches, pains, and limitations of advancing age, they show up regularly and serve cheerfully at a variety of tasks. In 2009, they completed 100,000 hours in service since the program’s inception. They just keep going and going—not unlike the famous pink bunny.

Their example is a reminder that there is no “use by” date on our earthly lives. Scripture doesn’t designate a retirement age for believers. But there is an end product for our service—one unrelated to age. In describing the results of the efforts of “pastors and teachers,” Paul says their purpose is to equip “the saints for the work of ministry” (Eph. 4:12). And that “work of ministry,” which is the job of all believers, can lead to “the unity of the faith and of the knowledge of the Son of God” (v.13). This task should “keep us going” for the rest of our lives. —Dave Branon

Start where you are in serving the Lord,
Claim His sure promise and trust in His Word;
God simply asks you to do what you can—
He’ll use your efforts to further His plan. —Anon.

Young or old—God can use you if you’re willing.

Source : Our Daily Bread

Monday, August 01, 2011

Kepahitan Hidup

KEPAHITAN HIDUP (Rut 1:1-22)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara (Rut 1:20)

Kejatuhan Orde Baru yang diikuti kerusuhan massal mengakibatkan banyak orang lari ke luar negeri. Ada yang seluruh hartanya terjarah habis. Ada pula yang menjual segala miliknya dengan murah dan bertekad memulai hidup baru di negeri yang dianggapnya lebih aman, stabil, dan adil. Namun, tak jarang setelah mengalami hidup di negara maju, ternyata kenyataan hidup tak seindah yang diimpikan. Bahkan, banyak yang merasa hidupnya lebih berat dan susah sehingga memutuskan pulang tanah kelahirannya.

Seperti itulah situasi Naomi. Ketika terjadi kelaparan di Israel, Naomi bersama Elimelekh dan dua anak laki-laki mereka memutuskan pindah ke Moab. Tak ada tanda bahwa mereka bertanya dan bergumul dengan Tuhan, sebab kemakmuran negeri tetangga sudah terbayang. Tahun-tahun berlalu. Kedua putranya memperistri putri-putri Moab. Ternyata kenyataan berbeda dengan impian. Suami dan kedua putranya meninggal. Tinggal Naomi dan kedua menantunya berjuang mempertahankan hidup. Apakah tinggal di tanah yang bukan pemberian Tuhan itu lebih baik? Tidak, Naomi mengalami kepahitan hingga ia mengubah namanya menjadi Mara (pahit). Ia merasa Tuhan telah melakukan banyak hal yang pahit kepadanya. Aneh bukan? Ia sendiri membuat keputusan tanpa bertanya kepada Tuhan, tetapi saat mengalami kepahitan, ia menuduh Tuhan penyebabnya.

Ketika kita mengalami kesulitan dan masalah besar, apakah pertimbangan yang kerap menguasai kita? Emosi dan keinginan diri sendiri, bukan? Tak jarang Tuhan mengizinkan kita mengalaminya, agar kita belajar melihat rencana Tuhan dengan bertahan dan tabah sampai akhirnya kemenangan menjadi bagian kita --SST

CARILAH TUHAN SEBELUM MENGAMBIL KEPUTUSAN SEBAB DIA YANG TAHU SEGALA APA YANG ADA DI DEPAN

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts