Thursday, October 28, 2010

Kekudusan

Kekudusan (1 Petrus 1:15,16)

Masih saja ada pengajar-pengajar yang mengatakan bahwa setelah kita menerima  Yesus maka mati pasti masuk sorga. Benarkah hal itu? Benarkah Yesus mau menebus lagi dosa-dosa yang telah diampuni hingga berkali-kali? Maukah Yesus menerima kita yang murtad setelah menjadi kristen? Kelihatannya tidak sesederhana pernyataan itu.

Dalam Yesus memang ada hidup kekal. Tetapi kekekalan itu tidak akan kita dapatkan jika kita tidak melakukan firman-Nya. Tolak ukurnya ialah pendengar atau pelaku?!

Kemudian yang harus tetap jaga ialah kekudusan kita. Pada saat kita menerima Yesus sebagai juru selamat kita, maka pada saat itu kita menjadi kudus. Dan kekudusan itu bisa menjadi ternoda apabila kita melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Jadi kita harus tetap menjaga kekudusan seperti kita menjaga pakaian putih kita terhadap segala debu yang bisa mengotorkan pakaian itu. Sebab tanpa kekudusan maka kita tidak bisa melihat Tuhan.

Salam kasih, Deny S Pamudji
Jakarta, 21 Agustus 2001

Penderitaan

Penderitaan (1 Petrus 3:17)

Penderitaan ternyata melanda baik untuk orang jahat maupun untuk orang baik. Adalah wajar jika orang jahat terkena penderitaan karena hukum dunia juga menghendaki agar orang jahat diberi hukuman. Tetapi, orang dunia juga tahu bagaimana menghargai orang baik, sehingga ada pemberian (reward) atas perbuatan baik itu. Namun, penderitaan itu tidak mutlak untuk orang jahat, melainkan untuk orang baik juga.

Tetapi, walaupun sama-sama menderita, Firman Tuhan mengatakan lebih baik menderita karena perbuatan baik daripada perbuatan jahat. Menderita karena berbuat baik itu hampir sama dengan merasakan derita yang Yesus rasakan di dunia. Tetapi menderita karena perbuatan jahat, apakah ada artinya? Karena sudah selayaknyalah jika kita menderita akibat perbuatan jahat kita.

Salam kasih, Deny S Pamudji
Jakarta, 22 Agustus 2001

Teguran Seorang Anak

TEGURAN SEORANG ANAK (Lukas 2:41-52)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Jawab-Nya kepada mereka; "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Lukas 2:49)

Ini cerita dari D.L. Moody, dalam buku berjudul Orang Buta Yang Membawa Lentera (Gloria Graffa, 2010). Seorang gadis kecil pulang  dari gereja. Sambil duduk di pangkuan ayahnya ia berkata, "Ayah, apakah Ayah minum minuman keras lagi?" Perkataan putrinya itu membuat sang ayah gelisah. Jika istrinya yang menegur, tentu ia sudah hilang kesabaran dan minum lebih banyak alkohol. Namun, putrinya menegur dengan kasih. Ia pun bertobat. Sejak itu, rumahnya menjadi "surga" kecil.

Ada seorang manager dari perusahaan keramik ternama Indonesia bercerita bagaimana dia bisa berhenti merokok.  Dia bilang bukan dokter yang membuat dia berhenti merokok , melainkan puteri kesayangannya yang masih kecil.  Koq bisa?  Ceritanya si kecil mendapat pengajaran di sekolah tentang bahaya merokok.  Di mana merokok dapat membuat seseorang pendek umur.  Jadi dengan kepolosannya, ketika pulang dari sekolah, si kecil bertanya pada papanya.  “Papa, kata ibu guru di sekolah, merokok itu dapat menyebabkan kematian.  Saya gak mau Papa mati karena merokok!”  Perkataan yang sederhana, membuat dia merenung semalaman.  “Iya ya, kalau saya mati, siapa yang akan membesarkan puteri saya?!  Betapa egoisnya saya sehingga saya tidak memperhatikan ada seorang puteri yang membutuhkan saya”.  Sejak itu dia bertekad untuk tidak merokok, dan Puji Tuhan, dia bisa mengatasinya.  Dia bilang tidak mudah memang melepas rokok.  Butuh usaha yang berat.  Namun semua bisa dilakukan karena dia begitu mengasihi puterinya. 

Sekarang, walau teman2nya merokok, tidak pernah sedikit pun dia memegang rokok.  Bahkan dia bisa bercerita bagaimana bahayanya rokok dan bagaimana dia bisa menghentikan kebiasaan merokok.

Saat berusia 12 tahun, Yesus sempat membuat orangtua-Nya cemas dan mencari-cari-Nya hingga tiga hari karena terpisah dari rombongan (ayat 45, 46). Ketika akhirnya Yusuf dan Maria menemukan-Nya, Yesus menegur mereka dengan mengungkap tujuan kehadiran-Nya di dunia, yakni melakukan urusan Bapa-Nya (ayat 49). Dan Maria, khususnya, menerima teguran itu untuk mengenali kehendak Allah (ayat 52). Keterbukaan komunikasi ini tidak merenggangkan hubungan, tetapi justru mengarahkan kembali keluarga itu akan rancangan besar Allah bagi mereka.

Seorang anak yang mengenal kasih Kristus sangat mungkin menjadi saksi yang berani. Sebab ia tulus, tak ada niat menjerumuskan atau mempermalukan orang lain. Khususnya bagi keluarga sendiri. Tak  selalu orangtua yang mengoreksi anak. Bahkan, ketika suami atau istri tak mampu menegur pasangannya, maka si anak dapat. Justru anak kerap dapat menegur orangtua dengan cara yang lebih mudah diterima.  Maka, bawa anak sedini mungkin kepada Kristus. Tanamkan kesetiaan beribadah. Dukung pertumbuhan rohaninya melalui bacaan dan pujian rohani. Agar mereka menjadi murid Kristus yang ikut mewujudkan surga kecil dalam keluarga! --AW

DALAM KELUARGA KRISTIANI YANG MAU BERTUMBUH SETIAP ANGGOTA TERBUKA UNTUK DITEGUR DAN MENEGUR

Sumber : Renungan Harian + Kesaksian

Menang Dalam Penjara

MENANG DALAM PENJARA (2 Korintus 4:16-18)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami (2 Korintus 4:17)

Dalam buku A Day in the Life of Ivan Denisovich, Alexander Solzhenitsyn mengisahkan Ivan yang mengalami berbagai kengerian dalam kamp tahanan di Soviet. Suatu hari, ketika ia berdoa dengan   mata terpejam, seorang tahanan lain memperhatikan dan mengejek, "Doa tidak akan membantumu keluar lebih cepat dari tempat ini." Setelah membuka matanya, Ivan menjawab, "Aku berdoa bukan untuk keluar dari penjara, tetapi aku berdoa agar dapat melakukan kehendak Allah di dalam penjara."

Sikap umum orang dalam menghadapi masalah kemungkinan besar mirip dengan sikap tahanan lain itu terhadap penjara: menganggapnya sebagai sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan secepat mungkin. Orang melamunkan kehidupan yang bebas dari masalah.

Rasul Paulus juga pernah mengalami pemenjaraan-itu hanya sebagian dari penderitaan yang bertubi-tubi menimpanya. Akan tetapi, ia tidak melihat aneka penderitaan itu sebagai rintangan semata. Ia tidak menjadi kecewa karenanya. Ia menganggap penderitaan itu dipakai Tuhan sebagai alat untuk menguatkan kehidupan rohaninya hari demi hari, meneguhkan iman dan pengharapannya akan kekekalan. Apabila dibandingkan dengan upah kekal tersebut, penderitaan itu dapat dipandang sebagai masalah yang dapat dihadapi dan dilampaui.

Kita masing-masing mungkin sedang merasa terpenjara oleh suatu masalah. Dalam keadaan demikian, apakah yang akan kita minta dari Tuhan? Meminta Tuhan membebaskan kita dari masalah itu-habis perkara? Atau, meminta Tuhan agar memakainya untuk menguatkan iman dan pengharapan kita akan kekekalan? --ARS

PENGHARAPAN AKAN KEKEKALAN MERINGANKAN KITA DALAM MENANGGUNG PENDERITAAN DI DUNIA YANG FANA

Sumber : Renungan Harian

Mendekat Atau Menjauh

MENDEKAP ATAU MERONTA (Yakobus 4:1-10)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu (Yakobus 4:8)

Suatu pagi seorang ayah mencoba menolong burung gereja yang terluka di depan rumahnya. Digenggamnya burung itu, tetapi ia terus meronta ketakutan lalu terbang sebelum sempat diobati. Sore harinya sang ayah membawa putrinya yang sakit ke dokter. Anak itu pun ketakutan melihat dokter akan memberinya suntikan. Ia mendekap ayahnya erat-erat. Sang ayah memeluk sambil mengusap kepalanya. "Tenang, Sayang. Tahan sebentar, " katanya. Hari itu sang ayah berhasil menolong putrinya yang sakit, tetapi gagal menolong si burung gereja. Sebab si anak mendekapnya di kala sakit, sedang si burung gereja meronta dan meninggalkannya.

Setiap orang bisa merasa sakit hati ketika apa yang ia inginkan tidak kesampaian. Saat doanya tidak dikabulkan Tuhan dan orang sekitar tidak mendukung. Dalam menghadapi kekecewaan, ia dihadapkan dengan dua pilihan. Pertama, bersikap memberontak. Rasa kecewa dan tertolak membuatnya menjauhi Tuhan dan bersahabat dengan dunia (ayat 4, 5). Kadang juga bersengketa dengan mereka yang dianggap menjadi penghambat (ayat 1, 2). Pilihan kedua, mendekat kepada Allah (ayat 8).

Dengan rendah hati ia belajar menerima kenyataan bahwa keinginannya bukan kehendak Tuhan. Cara ini memulihkan, sebab ketika ia mendekat pada Tuhan, Tuhan pun akan mendekat kepadanya. Ketika Tuhan menjawab "tidak", apa yang Anda lakukan? Apakah hidup yang sulit telah membuat Anda undur dari-Nya? Selama Anda menjauh, hidup tidak akan menjadi semakin baik. Mendekatlah kepada Tuhan, supaya Dia dapat memulihkan Anda dari sakit hati Anda --JTI

TIDAK DIKABULKANNYA DOA MENIMBULKAN MASALAH KECIL TIDAK MENERIMA KEHENDAK TUHAN MENIMBULKAN MASALAH BESAR

Sumber : Renungan Harian

Wednesday, October 27, 2010

Lidah

Lidah (Yakobus 3:9,10)

Mungkin menjadi pemandangan biasa bila kita melihat seorang yang habis ke gereja, ketika pulang mobilnya tersenggol, kemudian dari mulutnya keluar umpatan kebun binatang. Koq bisa?

Lidah ini sangat penting peranannya dalam kehidupan kristiani. Bahkan ada kuasa dibalik perkataan itu. Jika kita sering memperkatakan yang negatif, maka niscaya kita akan menjadi negatif. Sebaliknya jika kita sering memperkatakan yang positif, maka kita akan menjadi positif.

Begitupun terhadap anak kita. Janganlah kita mengatakan dia bodoh, terlebih-lebih dihadapannya ketika dia mendapat nilai kurang baik dalam ujiannya. Sebab perkataan tsb akan masuk dalam jiwanya dan mempengaruhi dia dan membentuk dia menjadi bodoh.  Sebaliknya perkatakan bahwa dia pintar. Maka dirinya akan terangkat dan dia akan membuktikan bahwa dirinya layak dipanggil pintar.

Tulisan di atas hanyalah contoh dari kuasa perkataan yang kemudian diterapkan dalam terapi kejiwaan. Banyak hal lagi yang bisa digali dari perkataan Tuhan. Sebab itu janganlah malas mendalami Alkitab Sdr.

Salam kasih, Deny S Pamudji
Jakarta, 20 Agustus 2001

Guru

Guru (Yakobus 3:1)

Menyedihkan memang, tetapi ini suatu kenyataan. Masih banyak gereja-gereja yang kurang memperhatikan pembinaan anak-anak sekolah minggu. Guru-gurunya jarang ditatar dan kalaupun sudah ditatar, sering lalai menyediakan waktu yang cukup untuk membuat persiapan mengajar. Pikirnya, ah, mereka toh masih kecil dan bisa dibohongi bila lupa.

Siapapun yang memiliki pikiran seperti itu, harus benar-benar bertobat. Karena satu jiwa mahal harganya dan kita tidak boleh main-main. Jika gereja Sdr sekarang masih belum memperhatikan jiwa anak-anak ini, maka saatnyalah sekarang Sdr mengingatkan mereka.

Satu lagi, menurut suatu riset yang diadakan di Amerika, orang yang masa kecilnya sering pergi ke sekolah minggu, sedikit prosentasenya masuk penjara. Jadi jangan anggap ringan pengajaran sekolah minggu.

Salam kasih, Deny S Pamudji
Jakarta, 19 Agustus 2001

Pandang Bulu

Pandang Bulu (Yakobus 2:1-13)

Konon KKN di negara kita tidak bisa diberantas karena kita masih pandang bulu. Artinya kita masih memilah-milah mana yang harus ditindak dan mana yang harus dipetieskan. KKN baru bisa selesai jika pemerintah kita berani bertindak tanpa pandang bulu. Apakah nanti anggota terdekat dari pemerintah itu sendiri yang harus ditindak, itu tetap harus dijalankan.

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita tidak boleh memandang muka. Kita harus melayani semua orang dengan sama. Jangan karena seseorang lebih kaya maka kita menjadi sangat hormat. Sebalilknya jika orang tersebut tidak punya kekayaan, maka kita merendahkannya.

Karena Tuhan mengetahui pandangan kita seperti di atas, maka Tuhan seringkali memakai orang yang tidak dianggap oleh dunia agar semua orang menjadi malu karenanya.

Pada saat hati kita terasa sombong maka ingatlah bahwa Tuhan telah memberikan berkat yang besar pada setiap orang sehingga Dia mau menyerahkan Anak-Nya agar kita semua menjadi selamat.

Salam kasih, Deny S Pamudji
Jakarta, 18 Agustus 2001

Jaga Kata

Jaga Kata (Yakobus 1:26)

Hampir tidak mungkin kita tidak berkomunikasi dengan orang lain, kecuali memang kita gagu ataupun menjadi pertapa. Orang yang pernah diisolasi dalam penjara sendiri mengatakan betapa sengsaranya diri jika tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain.

Dengan adanya telepon, internet dan satelit, maka komunikasi menjadi lebih cepat tercipta. Tetapi, justeru masalahnya timbul dari kecepatan informasi ini. Sehingga terkadang sulit membedakan mana berita / informasi yang benar dan mana yang salah.

Tetapi seperti kata Khong Hu Cu bahwa segala sesuatu dimulai dari diri sendiri, maka agar komunikasi tidak tercemar, maka perlu kita menjaga kemurnian berita itu sendiri. Dan itu berarti kita perlu menjaga kata-kata kita agar tetap efisien dan berguna.

Salam kasih, Deny S Pamudji
Jakarta, 17 Agustus 2001

Mendua

Mendua (Yakobus 1:8)

Nancy hingga kini belum menikah. Padahal pada saat mudanya, banyak pemuda yang datang padanya dan memintanya agar menjadi isterinya. Sayang, Nancy tidak bisa memutuskan pemuda yang terbaik untuk dijadikan suaminya.

Ronald juga mengalami hal yang hampir sama. Cuman dia bukan dalam hal jodoh melainkan dalam hal wiraswastanya. Teman-temannya sudah berjaya, tetapi Ronald masih saja 'sederhana' seperti dulu. Padahal teman-temannya pernah mengajaknya untuk berbisnis yang sama dengan mereka. Tetapi Ronald tidak bisa mengambil keputusan karena Ronald mempunyai terlalu banyak pertimbangan sehingga selalu bimbang.

Baik Nancy maupun Ronald gagal karena mereka tidak bisa mengambil keputusan. Dan satu penyebab seseorang tidak bisa mengambil keputusan ialah karena terlalu banyak pertimbangan atau dengan kata lain tidak adanya keputusan tunggal. Segala sesuatu selalu mendua dan akhirnya ... bisa ditebak, yakni kegagalan. Karena setiap orang yang mendua, hatinya tidak pernah tenang dan tidak bisa diharapkan hasil yang optimal daripada orang-orang yang bertipe demikian.

Sebab itu janganlah mendua dalam segala hal. Terlebih-lebih dalam rohani. Sdr harus mengambil keputusan. Ikut Yesus atau ikut setan. Itu saja.

Salam kasih, Deny S Pamudji
Jakarta, 15 Agustus 2001

Mata Kelelawar

MATA UNTUK KELELAWAR (Lukas 12:22-32)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu (Lukas 12:32)

Kelelawar memiliki mata faset yang tidak memungkinkannya untuk melihat jauh, apalagi pada malam hari. Uniknya, Tuhan mencipta kelelawar justru untuk hidup di tempat gelap dan terbang pada malam hari. Maka, bayangkan jika kelelawar berpikir bahwa sumber kekuatannya hanya pada penglihatan. Ia pasti takkan pernah terbang karena takut menabrak benda-benda keras yang dapat melukainya. Ia tidak dapat mencari makanan dan tempat tinggal, lalu akhirnya mati. Ternyata Tuhan memberinya kelebihan lain, yang disebut ekolokasi. Yakni kemampuan memperkirakan jarak benda dengan mendengarkan pantulan bunyi yang berfrekuensi tinggi. Dengan demikian kelelawar dapat terbang cepat tanpa takut menabrak berbagai benda.

Kemampuan ekolokasi pada kelelawar, makanan untuk burung gagak, dan pakaian indah untuk bunga bakung, menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperlengkapi setiap ciptaan sesuai dengan yang ia perlukan untuk hidup. Dan, jika kelelawar pun Dia perlengkapi, Dia juga pasti memperhatikan hidup kita. Maka, jangan habiskan waktu untuk mempertanyakan apa yang tidak kita miliki. Tuhan tidak salah menempatkan kita dengan berbagai persoalan yang ada. Jangan berkecil hati, banyak hal sudah Tuhan persiapkan untuk memperlengkapi kita. Syaratnya cuma satu, "Carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkannya juga kepadamu" (ayat 31).

Kelelawar, burung gagak, dan bunga bakung, dikasihi Tuhan. Terlebih kita. Berbesar hatilah dan carilah Tuhan. Dia menyediakan segala hal yang melampaui keterbatasan kita, agar hidup kita menyatakan kemuliaan dan kebesaran Kerajaan-Nya --SL

KETIKA TUHAN MENCIPTA SESEORANG TUHAN MEMPERLENGKAPINYA TANPA ADA YANG KURANG

Sumber : Renungan Harian

Forgiving Quickly

FORGIVING QUICKLY

Whoever said it first got it right: “Life is too short for drama and petty things, so kiss slowly, laugh insanely, love truly and forgive quickly.” What a wise and wonderful way to live – but not as easy as it seems.

Personally, I'm all for lingering kisses, raucous laughter, and true love. I can't wait. But the idea of forgiving quickly is a tough one. It certainly belongs on the list; it's just that it doesn't come easily. How I enjoy my righteous indignation. Forgiving can be like drinking bitter medicine; I have to force myself to swallow…and even that in small doses.

In his audio book “Living Faith”, U.S. President Jimmy Carter talks about forgiving quickly. He says that without the knowledge that he can be forgiven, it would be impossible for him to face his own shortcomings.

He relates that both he and his wife, Rosalynn, are “strong-willed” persons who find it difficult to admit being at fault.

One day, after a particularly harsh argument, Carter decided that he would never let another day end with each of them angry with the other. So he went out to his wood shop and cut a thin piece of walnut, a little smaller than a bank check. On it, he carved the words, “Each evening forever this is good for an apology or forgiveness, as you desire.” That evening, he gave the plaque to Rosalynn. He reports that, so far, he has been able to honor it each time Rosalyn has presented it to him.

With his plaque, Carter made it possible for them to forgive quickly. They created a climate where it became safe to admit mistakes and where it was expected that those mistakes would be forgiven.

I suspect that if we can forgive quickly, we won't have much problem with all of the kissing, laughing and loving. And we'll probably do more of it.

By Steve Goodier

1 John 4:10-12 “Herein is love, not that we loved God, but that He loved us, and sent His Son to be the propitiation for our sins. Beloved, if God so loved us, we ought also to love one another. No man hath seen God at any time. If we love one another, God dwelleth in us, and His love is perfected in us.”

1 Thessalonians 5:15 “See that none render evil for evil unto any man; but
ever follow that which is good, both among yourselves, and to all men.”

Colossians 3:13-15 “Forbearing one another, and forgiving one another, if any man have a quarrel against any: even as Christ forgave you, so also do ye. And above all these things put on charity, which is the bond of perfectness. And let the peace of God rule in your hearts, to the which
also ye are called in one body; and be ye thankful.”

Matthew 5:43-45 Jesus says, “Ye have heard that it hath been said, Thou shalt love thy neighbour, and hate thine enemy. But I say unto you, Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you, and pray for them which despitefully use you, and persecute you; That ye may be the children of your Father which is in heaven: for He maketh His sun to rise on the evil and on the good, and sendeth rain on the just and on the unjust.”

All of these scriptures can be found in the King James Version Bible.

Souce : God’s Work Ministry -
http://www.Godswork.org



Tuesday, October 26, 2010

I Saw Jesus

Mommy, I Saw Jesus
by Amy Buettner

After our 4-year-old son nearly drowned, the doctors told us he would never be the same again. They were right.

It began as a typical late spring evening in our little city of Tuscaloosa, Alabama. But June 15, 2000, was destined to become a night my family will never forget. My oldest son Jacob's junior league baseball team had just lost a playoff game that, on paper, they were supposed to win. My husband, Craig, who was helping coach the team with a friend, had promised the boys that if they won, they would have a big pool party. But seeing the sulking faces of a bunch of 10-year-olds, Craig and his friend decided to let the boys have the party anyway.

So, at the home of one of the young players, the team and their families enjoyed the warm evening air. Everyone was having a great time in and around the pool. After swimming, we all gathered together to eat on the patio. The nine-foot-deep pool lay 20 yards away from the patio.

After getting our five children settled, my husband and I sat down to eat. Kennedy, our 4-year-old son, sat a few feet away on his towel, eating a hot dog with the "big boys."

Halfway through my meal, I realized Kennedy was no longer on his towel. At this point, many of the younger children had finished eating and were up playing on bikes and riding toys. I thought Kennedy was probably riding one of the toys, but I had an overwhelming sense that I needed to find my son.

I immediately went to the pool and did not see him. I scanned the area in and around the pool, looking for his little red swimsuit. I never thought to look on the bottom of the pool's deep end. I headed to the front of the house thinking the street would be the next worst place he could be.

I returned to the patio and told Craig that I could not find Kennedy. He also got up and went to the pool area. We searched and called for more than five minutes. As we were both returning from searching around the yard, we heard the screams. Above them all was our 10-year-old son Jacob yelling, "Daddy, Daddy, Kennedy was on the bottom of the pool!" I heard someone yell, "Call 911."

I ran toward the pool, and what I saw makes my heart ache even now. There on the concrete lay my precious Kennedy. He was limp, bloated to twice his size, and his coloring was a sick grayish blue. Craig, a family physician, was already crouched over our son, performing CPR. Kneeling behind him were two men praying and quoting Scripture.

This could not be happening, I said to myself, not to my child. I fell to my knees, grabbing Kennedy's legs, which felt like rubber, and prayed for the Lord to please save my son. I found out later that Kennedy did not have a heartbeat for the first five minutes of CPR.

After 12 minutes of CPR, the ambulance arrived. Kennedy was breathing and he had a heart rate of 120. Craig rode to the hospital in the ambulance with Kennedy. Our 5-week-old baby son and I were driven by our dear friend, who was also one of the men on their knees praying for Kennedy. This friend prayed and quoted Scripture the entire trip.

After arriving at the local hospital, Kennedy was intubated. His lungs were swelling and he was having seizures and posturing, which is a sign of brain damage.

Several of Craig's medical colleagues were there at the hospital, taking care of Kennedy. They worked feverishly, but they were not optimistic about his chances. He had been without oxygen for too long. The pediatrician who had trained Craig several years ago actually pulled me aside and explained how bleak the situation was, that Kennedy would likely have severe brain damage—if, in fact, he survived.

The ER doctors worked diligently, but they knew Kennedy needed to get to the children's hospital in Birmingham for the best care. It was a 20-minute trip for Kennedy on the Lifesaver helicopter. It would take Craig and I an hour by car. As we left, we knew things were not looking good for our little boy.

A small comfort…When we arrived at Children's Hospital, we were amazed at everyone who drove to Birmingham to support and pray for us. The prayers began to ripple through our community. After the doctors worked on Kennedy, the ICU physician came out to tell us that Kennedy was in critical condition but there was a chance for survival. He told us Kennedy might not recognize us and that he might thrash around uncontrollably. He also told us that there was a five-day waiting period during which Kennedy's brain could begin swelling.

After the doctor left, I again prayed for my precious little boy. I prayed for complete healing, but I would take Kennedy anyway God would give him back to me.

We were able to see Kennedy a few hours later. My little man had tubes everywhere, one down his throat into his lungs, one arterial line into his heart, numerous IV’s, and a catheter in his bladder. He was a pitiful sight, but he was alive.

Later that evening, we were unable to recall the name of the ICU doctor who attended to Kennedy. He had been such a wonderful caregiver. Craig asked a nurse what his name was. She said, "Oh that is Dr. Buckmaster." Craig and I looked at each other and smiled.

My loving brother, Mark Kennedy, who had died of brain cancer six months earlier, was nicknamed, "The Buckmaster" because of his love for deer hunting. It was a small comfort God gave us to let us know that he was in control. The next morning, we found out that Dr. Buckmaster's first name was Mark.

Out of deep waters…the next few days consisted of waiting and praying. Kennedy's lungs were very sick. Yet, two days after being found and pulled off the bottom of a swimming pool by a team of 9- and 10-year-old boys (a miracle in itself), our little son began to show signs that he was still with us.

The first signs were fighting with the tube down his throat, squeezing our hands on command, and the most exciting moment was the first time he gave us a little thumbs-up. Throughout this time of waiting, God sent us caring family, friends, and hospital staff. But most comforting was his Word. Each day, the Lord spoke to us through Scripture.

On Sunday, June 18, God told me to read Psalm 18:16-19 (NIV)

“He reached down from on high and took hold of me; he drew me out of deep waters. He rescued me from my powerful enemy, from my foes, who were too strong for me. They confronted me in the day of my disaster, but the Lord was my support. He brought me out into a spacious place; he rescued me because he delighted in me” (vv. 16-19, NIV).

I knew my little boy was going to be completely healed. Exactly one week after the accident, Kennedy was released from Children's Hospital. A child, who was supposed to die, or at least have severe brain damage, left the hospital on his granddad's shoulders. Minutes after arriving back home in Tuscaloosa; he asked his dad, "Daddy, will you play baseball with me?" I am sure you can guess what his daddy's answer was.

To heaven and back…the story of Kennedy's accident and healing is a miracle by itself. But there is so much more. I desperately wanted to know how Kennedy got on the bottom of that pool. There were almost 40 people at the party, and no one saw him get in the pool. Why hadn't I watched him more closely? The guilt began to gnaw away at my conscience.

After Kennedy was able to talk, I said, "You were asleep for a long time, I have been missing you. What did you do?" He answered, "An angel picked me up and we flew. We flew through walls, clouds, and I flew through you, Mommy."

I asked him what the angel looked like, and he told me the angel had long white clothes. Kennedy told me they flew to heaven and that there was a door with jewels all around it and "when they opened that door, it was snowing in there."

I was careful not to put words in Kennedy's mouth; I wanted this to be his memory. The only time I asked him a detailed question was when I asked him if he had seen his Uncle Mark in heaven. Kennedy told me that he did see Mark in heaven and that he looked "just like Jesus and all his boo-boos were gone." He told me Mark was happy and that he wanted to stay in heaven.

Kennedy told me that Jesus held him and that there were a lot of angels. Kennedy also described seeing a volcano. He told me, "There were people in the volcano, there was a dragon in there with them and they were sad, there was fire all around the volcano."

As Kennedy was describing all this to me, I asked him continually if he was ever afraid. He said, "No, I was with Jesus and Uncle Mark, and I was standing on glass; I was invisible." I asked Kennedy how he got back, and he told me Uncle Mark gave him a push and an angel flew him back. I asked him if he would like to go back to heaven again someday, and he said, "Yes, but Jesus is coming here."

Kennedy was a little boy who two weeks before his accident would have gotten upset if you discussed death and going to heaven with him. He was just 4, and he wasn't prepared for that. He didn't want to leave Mommy. Now, suddenly, he's a boy who tells us about Jesus and heaven with excitement and joy. Our son saw Jesus.

Many people have asked us how this experience has changed our lives. For one thing, it has turned us into fanatics when it comes to children and swimming safety. But more important, it has given our family a boldness to shout from the mountaintops what the Lord did for our little boy and what awaits us when we leave this world.

I know that Kennedy's experience will sound unbelievable to most people. And I understand. In fact, it would mean nothing to us if we did not have God's Word. Kennedy's story is a whisper, and God's Word is the trumpet.

Adapted from Kids Life: The Magazine for West Alabama Parents (May/June 2001), © 2001 Amy Buettner. Used by permission. Copyright © 2002 by the author or Christianity Today International/Christian Reader magazine. November/December 2002, Vol. 40, No. 6, Page 68

“The name of the LORD is a strong tower: the righteous runneth into it, and is safe.” –Proverbs 18:10

Source : Sherry’s Inspirational - http://groups.google.com/group/Sherrys_Inspirational

The Lord Is My Shepherd

The Lord is My Shepherd: A Nice Story
Author: Daniel Nyarirangwe

After 21 years of marriage, I discovered a new way of keeping alive the spark of love. A little while ago I had started to go out with another woman. It was really my wife’s idea. “I know that you love her,” she said one day, taking me by surprise.

“But I love YOU,” I protested.

“I know, but you also love her.”

The other woman that my wife wanted me to visit was my mother, who has been a widow for 19 years, but the demands of my work and my three children had made it possible to visit her only occasionally.

That night I called to invite her to go out for dinner and a movie. “What’s wrong, are you well,” she asked? My mother is the type of woman who suspects that a late night call or a surprise invitation is a sign of bad news.

“I thought that it would be pleasant to pass some time with you,” I responded.

“Just the two of us.” She thought about it for a moment then said “I would like that very much.”

That Friday after work, as I drove over to pick her up I was a bit nervous.

When I arrived at her house, I noticed that she, too, seemed to be nervous about our date. She waited in the door with her coat on. She had curled her hair and was wearing the dress that she had worn to celebrate her last wedding anniversary. She smiled from a face that was as radiant as an angel’s.

“I told my friends that I was going to go out with my son, and they were impressed,” she said, as she got into the car. “They can’t wait to hear about our meeting”.

We went to a restaurant that, although not elegant, was very nice and cozy. My mother took my arm as if she were the First Lady. After we sat down, I had to read the menu. Her eyes could only read large print. Half way through the entrĂ©e, I lifted my eyes and saw Mom sitting there staring at me. A nostalgic smile was on her lips. “It was I who used to have to read the menu when you were small,” she said.

“Then it’s time that you relax and let me return the favor,” I respond. During the dinner we had an agreeable conversation nothing extraordinary - but catching up on recent events of each others life.

We talked so much that we missed the movie. As we arrived at her house later, she said “I’ll go out with you again, but only if you let me invite you”.

I agreed.

”How was your dinner date?” asked my wife when I got home.

“Very nice. Much more so than I could have imagined,” I answered.

A few days later my mother died of a massive heart attack. It happened so suddenly that I didn’t have a chance to do anything for her. Some time later I received an envelope with a copy of a restaurant receipt from the same place mother and I had dined. An attached note said: “I paid this bill in advance. I was almost sure that I couldn’t be there but, never-the-less, I paid for two plates - one for you and the other for you wife. You will never know what that night meant for me. I love you.”

At that moment I understood the importance of saying, in time: “I LOVE YOU” and to give our loved ones the time that they deserve. Nothing in life is more important than God and your family. Give them the time they deserve, because these things cannot be put off to “some other time”.

“The LORD will destroy the house of the proud: but he will establish the border of the widow.”  - Proverbs 15:25 

Source : Sherry’s Inspirational -
http://groups.google.com/group/Sherrys_Inspirational

Pertengkaran

PERTENGKARAN SAUDARA (Bilangan 12)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

... perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya : ...seorang...yang menimbulkan pertengkaran saudara (Amsal 6:16,19)

Sebuah peribahasa Vietnam berkata, "Kedekatan saudara sekandung itu seperti kedekatan tangan dengan kaki." Maka, sebenarnya  pihak-pihak itu tak bisa saling melukai, sebab sakitnya akan terasa oleh semua.

Selama berpuluh tahun Miryam dan Harun setia menyertai dan mendukung Musa-adik mereka-dalam memimpin bangsa Israel. Namun pada satu titik, mereka iri pada hubungan pribadi Musa yang istimewa dengan Tuhan-bahkan Tuhan berbicara kepadanya muka dengan muka (ayat 8). Hingga Miryam dan Harun tega berkata tajam, "Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" (ayat 1, 2). Dan atas sikap tersebut, Tuhan bertindak. Dia memanggil, menegur mereka, dan menghukum Miryam (ayat 10). Syukurlah mereka segera menyadari kedaulatan Tuhan. Musa dan Harun pun memintakan ampun atas Miryam, supaya ia dipulihkan (ayat 11-13).

Hubungan saudara-bersaudara terkadang bisa diwarnai pertengkaran-pada segala usia; dari anak-anak hingga ketika semua sudah sama-sama dewasa bahkan usia lanjut, seperti Musa bersaudara. Topiknya bisa beragam; kasih yang dirasa berbeda dari orangtua, pinjam meminjam uang atau pembagian warisan, perasaan kurang beruntung dibanding yang lain, dan sebagainya. Segala sesuatu bisa terjadi. Maka, izinkan Tuhan terlibat dalam kehidupan kita berkeluarga. Hingga ketika perselisihan terjadi, Tuhan menolong kita melihat keadaan sebenarnya, dan mendapati jalan keluar yang baik bagi semua. Sambil tetap berusaha menjaga hubungan yang rukun, saling percaya dan menerima, serta saling mendoakan --AW

KETIKA SAUDARA-BERSAUDARA TERIKAT OLEH KASIH TUHAN MAKA SELURUH KELUARGA PASTI TERPELIHARA DALAM PERSATUAN

Sumber : Renungan Harian

Seandainya Tuhan …

Seandainya Tuhan Tidak Menolong..
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Daniel 3:16-18
Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."

Saya sangat menyukai kisah tiga pria yang imannya begitu bulat ini, bahkan mereka tidak tergoyahkan sekalipun di perhadapkan kepada kematian. Anda lihat pada ayat di atas, Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak tahu apakah Tuhan akan menyelamatkan mereka atau tidak. Tetapi ada dua hal yang mereka ketahui dengan pasti: Tuhan berdaulat atas segala sesuatunya dan mereka tidak bersedia menyembah Allah lain!

Anda tentu tahu cerita selanjutnya, Anda pasti tahu Tuhan menyelamatkan ketiga orang pria berani tersebut. Tetapi apa yang Anda pelajari dari iman yang dipertontonkan oleh tiga orang pria tersebut?

Kematian itu pasti. Jadi yang perlu Anda tanyakan bukan, “Bagaimana saya akan mati?” Tetapi pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah, “Bagaimana saya akan hidup?” Cara hidup kita menunjukkan siapa Allah yang kita percaya. Jadi, hiduplah sebagai pribadi-pribadi dewasa yang kuat. Tidak terus menjadi umat yang ke kanak-kanakan, yang marah kepada Tuhan ketika pertolongan Tuhan tidak datang seperti yang kita mau.

Mulai hari ini, mari kita belajar menjadi seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan berkata, “Tetapi seandainya Tuhan tidak menolong, kami tetap tidak akan melepaskan iman percaya kami.” Mari menjadi dewasa dalam iman kita.

Jangan pikirkan bagaimana akhir hidup Anda, namun pikirkan bagaimana Anda akan menjalani setiap detik kehidupan Anda. Itu adalah pola pikir seorang pengubah sejarah.

Maju Terus Dalam Tuhan, Tuhan Yesus memberkati

Sumber :  SKK Bidang Doa & Pendalaman Iman PT Indosat

Mati

MATI (2 Tawarikh 9:29-31)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Kemudian Salomo mendapat perhentian bersama-sama dengan nenekmoyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud, ayahnya (2 Tawarikh 9:31)

Kuburan tua itu tidak terurus. Beberapa batu batanya sudah copot. Tanaman liar tumbuh tinggi di sekelilingnya. Walau bekas-bekas kemegahannya dulu masih tampak; tiang penyangga berlapis keramik di bagian tengah, juga kayu jati berukir ikan dan ular yang menaungi batu nisan. Di batu nisan itulah tulisan ini tertera: "Hidup ini fana. Demikianlah kiranya ujung dari kehidupan. Pun mereka yang memegang jabatan setinggi langit; menggenggam kekayaan sebanyak pasir di laut." Konon, itu kuburan seorang pedagang kaya raya yang hidup jauh sebelum zaman kemerdekaan.

Begitulah, akhir kehidupan di dunia: kematian. Maka sebetulnya, aneh kalau ada saja orang yang sampai mau mengorbankan apa pun, menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang kotor dan keji, demi meraih atau mempertahankan jabatan dan kekayaan. Sebab toh pada akhirnya semua itu akan ditinggalkan juga. Tidak akan dibawa mati. Bacaan Alkitab hari ini menceritakan babak terakhir dari kehidupan Salomo, persis setelah perikop sebelumnya memaparkan tentang segala kejayaannya (2 Tawarikh 9:13-28). Dengan urut-urutan perikop demikian, penulis 2 Tawarikh seolah-olah mau mengatakan, betapa pun hebatnya manusia, ia tetap makhluk fana. Di batas akhir hidupnya, yang tinggal hanyalah seonggok kenangan.

Pesan untuk kita, jangan dimabukkan oleh jabatan dan jangan lupa diri karena harta kekayaan. Apalagi kalau karena itu, lalu kita mau berbuat apa saja, mengorbankan apa saja. Jangan. Sebab semua itu tidak abadi. Pada akhirnya, cepat atau lambat akan kita tinggalkan --AYA

JANGAN KARENA UNTUK SESUATU YANG FANA KITA KEHILANGAN YANG KEKAL

Sumber : Renungan Harian

Deadly Sins

Deadly Sins (John 16:17-24)

You now have sorrow; but I will see you again and your heart will rejoice, and your joy no one will take from you. —John 16:22

You may be familiar with the list of seven deadly sins that was formulated during the sixth century: lust, gluttony, greed, sloth, vengeance, envy, and pride. But you may not know that the original list compiled during the fourth century also included the sin of sadness. Over the years, that emotion was omitted from the inventory.

Some people are blessed with a cheerful disposition. They always seem to be happy. They wear a perpetual smile almost as if they were advertising toothpaste. But then there are others who seem to be chronically sad. They continually complain about life and its burdens. And who can deny that afflictions are discouraging?

While we acknowledge that not everybody is blessed with a bright outlook on life, we need to remember that joy is one of the gifts Jesus promised to His followers. And we need to resist any tendency to let sadness dominate our emotional lives.

Jesus promised His disciples on the night Judas betrayed Him, “Your joy no one will take from you” (John 16:22). Remember that joy is the fruit of the indwelling Holy Spirit (Gal. 5:22). Let’s ask the Lord to help us look beyond our sorrowful circumstances and encourage our hearts by the vision of joy that awaits us (Heb. 12:2). —Vernon Grounds

You alone, Lord Jesus, can true joy impart,
For You know the sorrow of the human heart;
You came here from glory many hearts to win
And in love for sinners suffered once for sin. —Anon.

Joy is a fruit of the Spirit that’s always in season.

Source : Our Daily Breadhttp://www.odb.org

Safely Secured

Safely Secured (Romans 8:35-39)
Abide in My love. —John 15:9

On a whim, I bought a red foil balloon at the grocery store. The message “I Love You” streamed across the front in billowy script. As I was loading bags into my car, the balloon’s string slid through my fingers. I stood there watching it float away, and soon it was nothing more than a tiny red dot—finally, just a memory.

Losing that balloon reminded me of the way love sometimes vanishes from lives. Children rebel and distance themselves; spouses or loved ones desert; close friends stop calling.

I’m so thankful that God’s love is steady; it can sustain us when love here on earth drifts away. In fact, it’s so reliable that Jesus invites us to abide in His love (John 15:9). He wants us to know it’s okay to settle in and get comfortable.

We can always remain in God’s tender embrace because “neither death nor life, nor angels nor principalities nor powers, nor things present nor things to come” (Rom. 8:38), or anything else, can ever separate us from His love through Christ. Once we trust Christ as Savior, the guarantee of God’s love is ours forever.

Have you watched love disappear from your life? Rest in God’s affection—His constant care will keep your heart safely secured. —Jennifer Benson Schuldt

More secure is no one ever
Than the loved ones of the Savior
Not yon star on high abiding
Nor the bird in home-nest hiding. —Berg

Our salvation is secure because God’s Word is sure.

Source : Our Daily Bread - www.odb.org

Monday, October 25, 2010

Kuasa Perkataan

KUASA DAN CIPTA DALAM PERKATAAN

Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini : Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percayalah, bahwa apa yang dikatakan baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu, apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. (Markus 11:23,24)

Pada mulanya Allah memberikan manusia kuasa (Kej 1:26-28). Kata “kuasa” berarti otoritas dan kekuatan. Kuasa Allah dilepaskan melalui perkataan yang diucapkan-Nya. Ketika Dia berfirman, segala sesuatu terjadi. Kejadian pasal 1 dipenuhi dengan manifestasi penciptaan yang semuanya berasal dari Firman Allah.

Allah menyerahkan otoritas dan kuasa-Nya kepada manusia di atas bumi, otoritas dan kuasa tersebut diaktifkan oleh perkataan. Setan datang untuk mencuri otoritas tersebut, lalau menggoda Adam dan Hawa untuk menentang Allah dan berbuat dosa, dan mereka melakukannya. Mereka dikeluarkan dari taman tersebut. Sekalipun demikian, manusia masih tetap segambar dan serupa dengan Allah.

Manusia sedikit banyak tetap mempunyai kuasa dan otoritas sebagai makhluk hidup, tetapi kabar baiknya adalah, Adam kedua, Yesus Kristus, datang ke dunia, untuk menebus dosa kita, dibangkitkan dari antara orang mati dan memuliakan kuasa serta otoritas kita yang hilang dari Adam.

Roma 5:17 mengatakan: Sebab, jika oleh dosa dari satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang yaitu, Yesus Kristus.

Firman Allah mengandung daya cipta. Jadi, ketika manusia diciptakan serupa dan segambar dengan-Nya, kita dijadikan memiliki otoritas kuasa, dan kekuatan yang sama untuk dapat dilepaskan melalui perkataan kita. Kuasa pilihan ada pada perkataan kita dan kuasa serta otoritas Allah dijalankan melalui perkataan kita.

Ibrani 11:3 mengatakan bahwa Allah menciptakan dunia dengan firman-Nya, Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

Dalam Bilangan, pasal 13 dan 14, kita lihat kehidupan dan kematian sebagai akibat perkataan. Kehidupan untuk Yosua dan Kaleb yang perkataannya sesuai dengan Allah; kematian untuk kesepuluh pengintai lainnya yang perkataannya sesuai dengan Setan.

Mazmur 119:130 berkata, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang…” Jika kita memendam firman Allah di dalam hati kita, kita akan dijauhkan dari dosa. Ketika kita manaruh firman Allah di dalam hati kita secara berkelimpahan, kita akan mengucapkan firman tersebut dengan otoritas dan kuasa.

Anda akan menuai hasil dari perkataan anda, baik anda mengatakan kehidupan atau kematian. Perkataan seperti benih-benih dan ketika ditanam, benih-benih itu akan bertumbuh. Ketika anda menanam benih firman Allah yang tidak fana (1 Petrus 1:23), anda akan menuai kebenaran dari Allah. Bicarakan kekalahan, hal-hal yang negatif, yang tidak memberi semangat, dan kata-kata yang penuh kekuatan, dan semua jenis tuaian seperti itu akan muncul dalam hidup anda.

PERKATAAN ANDA DAPAT MENGUBAH JALAN KEHIDUPAN ANDA

Kehidupan anda sedang mengikuti perkataan anda! Ketika orang-orang mulai mengerti kuasa yang dilepaskan melalui perkataan mereka sendiri-untuk yang baik maupun yang buruk-banyak yang berkata, “Seandainya saya mengetahuinya sejak dulu.” Kabar baiknya adalah, anda dapat mengubah jalan kehidupan anda hari ini juga!

Yesus Kristus telah membeli anda dengan darah-Nya. Bapa sorgawi berkata bahwa anda adalah ciptaan baru di dalam Yesus Kristus, Anak-Nya. Dia berkata, “Aku menaruh tangan-Ku di atas dirimu dan segala sesuatu yang dipegang olehmu diberkati. Kamu sangatlah berharga bagi-Ku.” Mulailah mengatakan apa yang Allah katakan tentang anda. Selaraskan perkataan anda dengan Firman Allah.

Keselamatan itu dihubungkan dengan perkataan kita: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan.

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. (Roma 10:8-10)

Apabila anda benar-benar mempercayai sesuatu di dalam hati anda, anda akan mengatakannya dengan mulut anda. Jika anda dalam jangka waktu yang cukup lama terus menerus mengatakan apa yang allah katakan, itu akan melembutkan hati anda hingga anda mempercayainya.

Mazmur 23:1 berkata, “Tuhan adalah Gembalaku.” Mulailah mengatakan : Tuhan adalah Gembalaku. Jika anda mengatakannya terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama, anda akan mulai mempercayai bahwa Tuhan adalah Gembala anda. Ini benar adanya, baik anda mempercayai dan mengucapkannya maupun tidak. Tetapi, jika anda mulai mengatakannya karena ini adalah kebenaran, ia akan melembutkan hati anda dan mengubah cara pandang anda. Dengan beginilah pikiran anda diperbahurui. Prinsip yang sama ini berlaku untuk semua janji-janji di dalam Firman Allah.

KEKRISTENAN ADALAH “PENGAKUAN IMAN YANG DASYAT”

Pengakuan iman merupakan inti kekristenan. Dalam kenyataannya, kekristenan sering disebut sebagai “Pengakuan Iman yang Dasyat!”

Ibrani 10:23 berkata, “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab, Ia yang menjanjikannya, setia.” Yesus adalah Imam Besar bagi pengakuan iman kita.

Setelah Daniel berdoa selama dua puluh satu hari, seorang malaikat datang kepadanya dan berkata, “Aku datang oleh karena perkataanmu itu” (Daniel 10:12).

Saya sedang memberitahu anda bahwa para malaikat datang oleh karena perkataan anda. Jika anda mengucapkan ketakutan, kamalangan, bencana, dan ketidakpercayaan, itu hanya akan membuat mereka melipat sayap mereka! Tetapi, apabila anda mengucapkan firman Allah dengan iman, para malaikat akan mendengarkan perkataan anda.

Mazmur 103:20 menegaskan kebenaran ini : “Pujilah Tuhan, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya.”

Amsal 13:2 berkata, “Dari buah mulutnya seseorang akan makan yang baik…” Ungkapan ‘menelan perkataan anda sendiri’ berkonotasi negatif bagi beberapa orang. Perkataan Anda adalah sama seperti hukum gravitasi ; tidak dapat ditarik kembali.

Perkataan yang ada ucapkan akan mempengaruhi masa depan anak-anak anda, berkat di dalam pernikahan anda, kesehatan tubuh anda, prestasi kerja anda, dan jalan-jalan yang anda ambil.

Berlututlah hanya kepada Tuhan Yesus atas pengakuan iman anda. Jangan tunduk pada perkataan anda sendiri, kondisi-kondisi tertentu, pendapat orang lain, apa yang terjadi di dunia, atau apa yang dikatakan iblis. Tolaklah pembicaraan tentang hal-hal yang tidak benar menurut firman Allah, yang merupakan otoritas tertinggi.

Dikutip dari buku : LIDAH PENGENDALI HIDUP ANDA
oleh : Pastor Billy Joe Daughherty

Obedience

Lessons Of Obedience (1 John 2:1-11)

This is the love of God, that we keep His commandments. —1 John 5:3

When young Kofi came home after Sunday school, his mother asked him what he had learned that morning. His quick reply spoke volumes: “Obedience . . . again!

Although I’m many years older than Kofi, I agree that obedience to God is a lesson that we must, sometimes reluctantly, learn over and over again.

Oswald Chambers wrote: “The Lord does not give me rules, but He makes His standard very clear. If my relationship to Him is that of love, I will do what He says . . . . If I hesitate, it is because I love someone I have placed in competition with Him, namely, myself.”

When we are obedient, we show God that we love Him and have more faith in Him than we do in ourselves. Arthur W. Pink said that love is “a principle of action, and it expresses itself . . . by deeds which please the object loved.” To obey God means to relinquish what we want and to choose to do what He asks.

God requires the obedience of His followers, and Jesus placed great importance on it. He asked, “Why do you call Me ‘Lord, Lord,’ and not do the things which I say?” (Luke 6:46). And He issued this challenge: “If you love Me, keep My commandments” (John 14:15). —Cindy Hess Kasper

To say we follow Jesus Christ
Without attempting to obey
Reveals our lack of faith that He
Will lead us right in every way. —Sper

Obedience to God is an expression of our love for God.

Source : Our Daily Bread - www.odb.org.
Scripture taken from the New King James Version

Panah

PANAH

Sally, seorang gadis muda, mengemukakan pengalamannya di sebuah sekolah seminari... sebuah pelajaran dari Dr. Smith, yang terkenal dengan kerumitannya.

Suatu hari Sally masuk ke kelas dan segera menyadari bahwa akan ada sesuatu yang menyenangkan hari itu. Di dinding ada satu papan sasaran yang besar, di meja terletak banyak anak panah.

Dr. Smith meminta setiap murid untuk membuat gambar orang yang tidak mereka sukai atau orang yang telah melukai hati mereka; kemudian mereka akan diperbolehkan melempar anak panah pada gambar tersebut.

Seorang gadis, teman Sally, menggambar wajah gadis lain yang telah merebut pacarnya. Yang lain manggambar wajah adiknya. Sally menggambar wajah teman lamanya dengan sangat detail sampai dia tidak lupa menambahkan jerawatnya. Dia sangat puas setelah melihat semuanya lengkap.

Seluruh isi kelas kemudian berbaris dan mulai melemparkan anak panah, diiringi suara tawa riang. Beberapa di antara mereka melempar anak panah begitu kuatnya sampai merobek sasaran. Sally menunggu gilirannya... kemudian dia kecewa, karena waktu sudah habis.

Dr. Smith meminta semua murid untuk duduk kembali di kursi masing-masing. Sambil duduk, Sally memikirkan rasa kecewanya karena belum memiliki kesempatan untuk melempar.

Dr. Smith mulai melepas sasaran dari dinding. Di balik sasaran terdapat gambar wajah Yesus.... Suasana kelas menjadi hening... semua murid menatap gambar Yesus yang telah hancur; seluruh wajahNya berlubang dan sobek bahkan matanya tertembus.

Dr. Smith hanya berkata... "Apa yang kamu lakukan untuk saudaraKu yang paling hina, kamu melakukannya untukKu". (Matius 25:40).

Tidak ada lagi kata-kata, semua mata berkaca-kaca menatap wajah Yesus.…

Sumber : Milis Malaekhi # 1092

Dipojokkan

DIPOJOKKAN (Mazmur 56)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Mazmur 56:12)

Daud pernah mengalami masa-masa yang sulit dalam hidupnya,  terutama ketika ia terpaksa hidup dalam pelarian karena dikejar-kejar untuk dibunuh oleh Raja Saul. Ia hidup dalam tekanan, terlunta-lunta dari satu tempat ke tempat yang lain; mulai Nob, Gat, Gua Adulam, hingga Padang Gurun Zif. Ia harus terpisah dari keluarganya; kelelahan dan kelaparan; terancam dan ketakutan. Ia merasa sendirian, dan semua orang seolah-olah bangkit memusuhinya.

Mazmur 56 ditulis Daud ketika ia ditangkap oleh orang Filistin di Gat, dan ia sampai terpaksa berpura-pura gila (1 Samuel 21:10-15).Akan tetapi, di tengah ketakutan dan kepahitan hidupnya itu, Daud justru menemukan kebenaran sesungguhnya. Ia tahu bahwa manusia bisa mereka-rekakan sesuatu yang jahat untuknya, memusuhi dan menginginkan kecelakaan dirinya, tetapi ia tidak gentar. Sebab ia tahu persis, dalam perlindungan Allah, ia aman.

Saat ini mungkin kita tengah mengalami situasi seperti Daud. Kita dipojokkan oleh rekan sekerja yang bermaksud menjatuhkan kita, diancam oleh orang-orang yang membenci kita, ditinggalkan teman dekat karena kebenaran yang kita perjuangkan. Kita ditentang oleh keluarga dan kerabat sendiri, disalahartikan oleh rekan sepelayanan yang terus mencari-cari kesalahan kita. Jika kita berada dalam posisi begitu, jangan kecil hati ataupun kalut. Perkuat kepercayaan kepada Allah, sehingga seperti Daud kita bisa berkata: "Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (ayat 12). Ya, jika Allah di pihak kita, kepada siapa kita perlu takut? --AYA

ANDALKAN ALLAH, MAKA KITA TIDAK AKAN KECEWA

Sumber : Renungan Harian

Saturday, October 23, 2010

Is Jesus Christ?

What are the prophecies that proved Jesus was the Christ?

The coming of the Messiah was foretold in the Old Testament and fulfilled in Jesus Christ. What are the prophecies that proved Jesus was the Christ?

The fundamental doctrine of Christianity is that Jesus Christ is the Messiah foretold in the Old Testament Scriptures. In order for this to be true, the man who would be the Messiah would have to fulfill all of the prophecies of the Scripture concerning the Christ. Jesus does. “Think not that I am come to destroy the law, or the prophets: I am not come to destroy, but to fulfill.” (Matthew 5:17) The Scripture contains detailed prophecies about the birth, life and death of the Messiah and Jesus is the fulfillment of them all.

Micah prophesied that the Christ would be born in Bethlehem. “But thou, Bethlehem Ephrata, though thou be little among the thousands of Judah, yet out of thee shall he come forth unto me that is to be ruler in Israel; whose goings forth have been from of old, from everlasting.” (Micah 5:2) Though Mary and Joseph lived in Nazareth, they were forced to travel to Bethlehem to register for a census. It was there that Jesus was born. “Now when Jesus was born in Bethlehem of Judea in the days of Herod the king, behold, there came wise men from the east to Jerusalem…” (Matthew 2:1)

Isaiah foretold that the Messiah would be born to a virgin, something only divinely possible. “Therefore the Lord himself shall give you a sign; Behold, a virgin shall conceive, and bear a son, and shall call his name Immanuel.” (Isaiah 7:14) The Gospels record the divine parentage of Jesus Christ: “Now the birth of Jesus Christ was on this wise: When as his mother Mary was espoused to Joseph, before they came together, she was found with child of the Holy Ghost.” (Matthew 1:18)

The Messiah would be a Prophet, revealing the Word of God to His people. “I will raise them up a Prophet from among their brethren, like unto thee, and will put my words in his mouth; and he shall speak unto them all that I shall command him.” (Deuteronomy 18:18) The people recognized Christ to be this prophet. “Many of the people therefore, when they heard this saying, said, of a truth this is the Prophet.” (John 7:40)

The Messiah would enter Jerusalem triumphant. The Scripture even foretold how He would arrive. “Rejoice greatly, O daughter of Zion; shout, O daughter of Jerusalem: behold, thy King cometh unto thee: he is just, and having salvation; lowly, and riding upon an ass, and upon a colt the foal of an ass.” (Zechariah 9:9) Jesus arrived in Jerusalem triumphant riding on a donkey colt. “On the next day much people that were come to the feast, when they heard that Jesus was coming to Jerusalem, 13 Took branches of palm trees, and went forth to meet him, and cried, Hosanna: Blessed is the King of Israel that cometh in the name of the Lord. 14 And Jesus, when he had found a young ass, sat thereon; as it is written, (John 12:12-14) We celebrate this arrival even now as Palm Sunday.

His earthly triumph was not to last, the Old Testament prophesied that the Messiah would be rejected by the Jews. “He is despised and rejected of men; a man of sorrows, and acquainted with grief: and we hid as it were our faces from him; he was despised, and we esteemed him not.” (Isaiah 53:3) While some Jews did recognize Him as the Christ, the chief priests rejected Him. “But though he had done so many miracles before them, yet they believed not on him:” (John 12:37)

The betrayal of the Christ was prophesied in the Psalms. “Yea, mine own familiar friend, in whom I trusted, which did eat of my bread, hath lifted up his heel against me.” (Psalms 41:9) Judas was Jesus’ disciple and betrayer. He shared Jesus’ Last Supper, where Jesus served His communion of bread and wine. Jesus knew His betrayal was coming and knew His betrayer shared His communion. “But, behold, the hand of him that betrayeth me is with me on the table.” (Luke 22:21)

Isaiah prophesied that the Messiah would be tried and condemned to death. “He was taken from prison and from judgment: and who shall declare his generation? For he was cut off out of the land of the living: for the transgression of my people was he stricken.” (Isaiah 53:8) Matthew records the fulfillment of the prophecy by Jesus: “When the morning was come, all the chief priests and elders of the people took counsel against Jesus to put him to death:” (Matthew 27:1)

Jesus stood silent before accusers, as Isaiah said that He would. (Isaiah 53:7) “And the chief priests accused him of many things: but he answered nothing.” (Mark 15:3) He was struck and spat on, as Isaiah said He would be. (Isaiah 50:6) “Then did they spit in his face, and buffeted him; and others smote him with the palms of their hands,” (Matthew 26:67)

When He was led away, the Roman soldiers mocked Him. (Psalms 22:7-8) He was sentenced to be crucified as the Psalms foretold. (Psalms 22:16) “And after that they had mocked him, they took the robe off from him, and put his own raiment on him, and led him away to crucify him.” (Matthew 27:31) He was nailed to a cross next to two criminals. While the people laughed at Him, He prayed for them, fulfilling the prophecies made by Isaiah. (Isaiah 53:12, Matthew 27:38, Luke 23:34)

The Psalms told that the soldiers would cast lots for garments and they did. (Psalms 22:18) “And they crucified him, and parted his garments, casting lots: that it might be fulfilled which was spoken by the prophet, they parted my garments among them, and upon my vesture did they cast lots.” (Matthew 27:35) Exodus told that His bones would not be broken, even though it was standard to break the legs of a person being crucified. (Exodus 12:46) “For these things were done, that the scripture should be fulfilled, A bone of him shall not be broken.” (John 19:36)

He died as a sacrifice for sin, though He was sinless. “But he was wounded for our transgressions, he was bruised for our iniquities: the chastisement of our peace was upon him; and with his stripes we are healed.” (Isaiah 53:5, John 1:29) God raised Him from the dead three days after His death, as the Psalms foretold. (Psalms 16:10, Acts 2:24) Our Lord Jesus Christ now sits at the right hand of God, as David prophesied. “The LORD said unto my Lord, Sit thou at my right hand, until I make thine enemies thy footstool.” (Psalms 110:1, Mark 16:19)

It is beyond chance that parallels like those between the prophecies and the fulfillment in Christ could happen coincidentally. Prophets told of the coming Messiah ages before He came in the person of Jesus Christ, yet the details of the prophecies were even fulfilled. Many of the details were beyond the control of Jesus and His disciples and couldn’t have been staged by Him to fulfill the prophecies. The only remaining conclusion is the Jesus Christ is the Messiah, the fulfillment of the prophecies of the Old Testament.

(All Scripture is KJV)

Friday, October 22, 2010

Tukang Becak Penyumbang Yatim Piatu

Bai Fang Li, Tukang Becak Penyumbang Ratusan Juta untuk Yatim Piatu

Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

clip_image001

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

    

clip_image002clip_image003

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. "Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya...." jawab anak itu. "Orang tuamu dimana...?" tanya Bai Fang Li.

"Saya tidak tahu...., ayah ibu saya pemulung.... Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil..." sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm... tapi masih cukup bagus... gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

"Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini...," katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Dalam Memberi, Bai Fang Li Tak Pernah Menuntut Apapun

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Bai Fang Li berkata "Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan...." katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis.... Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

clip_image004

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang sangat tinggi kepada nasib orang lain yang lebih kurang beruntung dari dirinya.

clip_image005

Sumber : SKK PT Indosat, apakabardunia.com, kaskus.com

Popular Posts