Tuesday, July 13, 2010

Anugerah Allah

Anugerah Allah (Efesus 2:8-9)

Betapa sulitnya masuk sorga karena hanya orang yang benar-benar kudus dapat diterima masuk.  Sedangkan untuk kita, mungkin tidak akan terjadi karena kita kurang dapat mengendalikan diri kita.  Kita masih hidup dalam keduniawian kita, keegoisan kita, kesombongan kita, dan ketidakpedulian kita.  Kita masih sulit menerima orang lain dengan apa adanya.  Kita masih menuntut orang untuk bisa begini dan bisa begitu.  Jadi, tampaknya memang kita bukan calon penghuni sorga.

Dalam kepercayaan lain, seseorang diharuskan memenuhi sekian aturan agar bisa dikatakan suci.  Tetapi, adakah orang yang benar suci?  Ternyata ada seorang yang disebut suci dalam dua kitab suci, yakni Isa Almasih atau Yesus Kristus.  Dialah satu-satunya orang yang dikatakan suci.  Dialah yang akan mengadili semua orang di dunia ini dengan pengadilan yang maha adil dan bijaksana.

Allah mengetahui bahwa manusia tidak akan pernah dapat menjadi kudus karena semua manusia telah ternoda semenjak jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa ketidak taatan.  Oleh satu orang, Adam, semua manusia menjadi ternoda.  Tetapi oleh satu orang juga, Yesus, semua orang menjadi bersih.  Kesucian atau kekudusan bukanlah hasil perbuatan manusia.  Manusia tidak akan pernah menjadi suci atau kudus karena dasarnya saja sudah tidak suci atau ternoda.  Kesucian atau kekudusan adalah anugerah yang diberikan Allah melalui pengorbanan darah domba yang suci, yakni Yesus.  Pengorbanan yang teramat mahal karena Allah harus melihat Anak-Nya mati di kayu salib demi memulihkan hubungan manusia dan Allah yang telah terputus oleh dosa.

Sekali lagi hanya anugerah saja karenanya kita tidak boleh menyombongkan diri bahwa kita adalah calon penghuni sorga.  Jauh lebih berarti jika kita tetap menjaga kekudusan kita dalam kehidupan sehari-hari.  Kita harus tetap waspada akan setiap tingkah laku kita.  Ingatlah pengadilan akhir pasti akan digelar dan pada saat itu tidak satu pun dosa/kesalahan kita yang tidak tercatat atau dimintakan pertanggungjawabannya.  Sebab itu janganlah hidup dalam kemerdekaan yang tidak bertanggung jawab.  Kemerdekaan kita adalah karena kita telah dibebaskan dari kuasa kegelapan dan kerajaan maut.

Sudahkah Saudara menerima anugerah itu? 

Salam kasih, Deny S Pamudji

Popular Posts