Thursday, April 25, 2013

Dorkas

PELAYANAN KASIH (Kisah Para Rasul 9:36-43)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. (Kisah Para Rasul 9:39)

Pernahkah Anda bingung tentang apa yang dapat Anda lakukan untuk  melayani Tuhan? Anda merasa tidak mampu memimpin kebaktian,  menyanyi, berkhotbah, berdiskusi soal iman, atau menulis artikel rohani. Tampaknya orang lain dapat melakukan pelayanan jauh lebih  baik daripada Anda. Lalu, Anda pasrah sambil menghibur diri bahwa Anda memang tidak diberi kemampuan untuk melayani.

Tidaklah demikian dengan Dorkas. Ia seolah tidak perlu berpikir  panjang mengenai pelayanan apa yang dapat ia lakukan. Seluruh  hidupnya adalah pelayanannya. Ia menyatakan kemurahan hatinya kepada  orang miskin (ay. 36). Keterampilannya membuat pakaian diabdikannya  untuk para janda. Semuanya itu ia lakukan dengan kasih yang tulus. Tidak heran, banyak yang merasa kehilangan dan menangis sedih ketika  ia meninggal. Syukur kepada Tuhan, melalui doa Petrus, Dorkas  dibangkitkan hidup kembali dan nama Tuhan dimuliakan (ay. 41-42).

Melayani Tuhan dapat dilakukan melalui banyak cara. Pelayanan tidak  hanya dilakukan di gereja, tetapi dapat juga di tengah masyarakat.  Tidak pula harus dengan keahlian yang khusus. Apa pun yang kita lakukan dengan kasih dan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus dapat  menjadi pelayanan yang membawa berkat. Memberi tumpangan, melatih orang cacat, memasak makanan untuk orang telantar, merawat anak yatim, dan menyekolahkan anak jalanan adalah beberapa contohnya.  Kiranya melalui perbuatan kita, orang mengenal Tuhan kita yang Mahabaik itu. --HEM

PELAYANAN KITA ADALAH SELURUH HIDUP KITA YANG KITA DEDIKASIKAN UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA.

Sumber : Renungan Harian

Salah Pilih

MERPATI YANG INGKAR (Yunus 1:1-17)

Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; Aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." (Yunus 1:9)

Yunus dipanggil Tuhan untuk memperingatkan penduduk Niniwe akan penghukuman-Nya. Masalahnya, orang Niniwe tidak lain adalah musuh bangsanya. Dengan menyampaikan peringatan Tuhan, ada kemungkinan mereka bertobat. Jadi, ia malah naik kapal menjauhi Niniwe.

Ketidaktaatan itu nyatanya bukan hanya berdampak pada dirinya, namun  juga menimbulkan bencana bagi orangorang di sekitarnya: badai  menerjang kapal yang ditumpanginya. Ketika para penumpang berjuang antara hidup dan mati, ia tidur nyenyak di ruangan paling bawah.  Ketika terjaga, ia berseru, "Aku takut akan Tuhan!" Padahal ia sedang dalam petualangan yang menunjukkan bahwa ia memberontak  kepada Tuhan. Sebuah paradoks. Ironisnya, namanya berarti "merpati", yang terkenal sebagai lambang ketulusan dan kesetiaan.

Banyak orang bersaksi bahwa ia taat pada Tuhan, padahal ia sedang  menempuh jalan yang bertentangan dengan rancangan-Nya. Dengan  pertimbangan tertentu dan juga pembenaran diri, mereka mengeraskan hati dan melawan Tuhan secara sengaja. Orang seperti itu justru  berpotensi melukai orang-orang di sekitarnya: dengan sikap, perkataan, dan tindakan.

Apakah Anda mengetahui kebenaran, namun sedang menjauh darinya?  Apakah Anda sedang berada dalam sebuah situasi yang kacau dan  membahayakan? Mungkinkah Anda sendiri penyebab semua perkara itu? Jika demikian, kembalilah kepada panggilan Tuhan dan lakukanlah apa  yang Dia inginkan untuk Anda lakukan. --HT

PILIHAN KITA—BAIK ATAU BURUK—BUKAN HANYA BERDAMPAK BAGI DIRI SENDIRI, TETAPI JUGA BAGI ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA.

Sumber : Renungan Harian

Kerja Untuk Tuhan

MAKNA SEBUAH PEKERJAAN (Kolose 3:18-25)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Ketika saya mulai mengikuti program pascasarjana, dosen pembimbing  memberikan suatu nasihat. Ia mengatakan, meskipun dirinya menjadi sponsor atas proyek penelitian yang saya kerjakan, saya harus  memandang dan menganggap proyek itu sebagai proyek pribadi saya. Saya harus berpikir bahwa saya bukan sedang mengabdi kepadanya,  melainkan kepada masyarakat dan masa depan saya sendiri. Pemikiran ini, menurutnya, penting untuk mendorong saya bekerja dengan  bersungguh-sungguh.

Keseriusan kita dalam mengerjakan sesuatu seringkali memang  ditentukan oleh makna yang kita berikan pada pekerjaan tersebut.  Konsep inilah yang melatarbelakangi nasihat Paulus kepada jemaat di Kolose dalam nas hari ini. Secara khusus, Paulus memberikan  penjelasan mengenai pekerjaan para hamba. Ia menasihati mereka untuk memaknai pekerjaan mereka sebagai pelayanan kepada Tuhan yang pasti  akan dibalas-Nya dengan upah surgawi. Paulus percaya bahwa dengan pemaknaan ini, mereka akan mampu mengerjakan pekerjaan mereka dengan berintegritas dan tulus hati.

Pemaknaan semacam itu bukan hanya berlaku bagi para hamba, namun  juga bagi kita semua dalam mengerjakan tugas apa pun. Tugas harian kita sebagai pekerja, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya  kadang terasa melelahkan, bahkan menyebalkan. Ada kalanya kita  melakukannya dengan malas-malasan. Akan tetapi, kalau kita memaknainya sebagai pelayanan yang berharga di mata Tuhan, niscaya  kita akan terdorong untuk terus berusaha mengerjakannya dengan sebaik mungkin --ALS

MEMAKNAI TUGAS SEBAGAI PELAYANAN KEPADA TUHAN MENGGUGAH KITA UNTUK MERAIH KEUNGGULAN.

Sumber : Renungan Harian

Tamu

MELAYANI DENGAN RENDAH HATI (Lukas 14:7-14)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

... Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu... (Lukas 14:14)

Biasanya orang sangat senang menerima penghargaan karena itu menunjukkan kemampuan dan kelebihannya. Namun, penghargaan juga bisa  membuat orang menjadi tinggi hati. Dalam bacaan kita, Yesus mengajarkan bagaimana menjadi tamu dan tuan rumah yang seharusnya.

Dalam perumpamaan pertama, Yesus memperingatkan bahwa penghargaan  bukanlah suatu ambisi yang kita kejar, melainkan suatu anugerah. Jangan bersikap merasa layak untuk mendapatkan tempat terhormat,  bisa jadi sikap itu malah berbalik mempermalukan diri sendiri, terlebih jika kita berhadapan dengan orang yang memang lebih pantas  mendapatkannya. Kalau memang layak, kita pasti akan mendapatkan penghargaan. Rendah hati bukan sikap tidak menghargai diri sendiri,  melainkan tahu bagaimana menempatkan diri. Jika menjadi tuan rumah suatu perjamuan, menurut Yesus, yang perlu kita undang bukanlah  orang kaya dan terkenal, sahabat atau kerabat. Sebaliknya, kita mengundang orang yang tidak bisa membalas pemberian kita, mereka  yang layak menerima belas kasih kita. Hendaknya kita menunjukkan sikap tidak membeda-bedakan kelas atau status sosial. Sikap rendah  hati dan keramahtamahan semacam itu mendatangkan berkat Tuhan.

Jadi, daripada ingin dihormati orang banyak, lebih baik kita  memikirkan siapakah yang seharusnya kita layani. Dalam Kerajaan  Allah, ketika melayani orang lain yang paling 'hina', kita telah melayani Tuhan kita, Yesus Kristus. Melayani dengan rendah hati akan  memancarkan kemuliaan Tuhan. --ENO

DARIPADA BERJUANG KERAS UNTUK MENDAPATKAN PENGHARGAAN, LEBIH BAIK MEMUSATKAN PERHATIAN UNTUK MELAYANI ORANG LAIN.

Sumber : Renungan Harian

Berubah

KISAH NAMA (Filemon 1)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. (Filemon 1:11)

Nama adalah doa! Demikian kata orangtua. Dalam suratnya kepada  Filemon, Paulus juga memaknai nama secara menggelitik.  Nama Onesimus berarti "berguna". Ia menjadi tak berguna ketika lari dari tuannya, Filemon (ay. 1). Setelah bertemu dengan Paulus di  penjara, ia berubah menjadi orang yang "berguna" (ay. 10). Paulus malah menyebutnya "saudara yang kekasih", yang "sangat berguna" (ay.  11). Dalam bahasa aslinya, Paulus menggunakan permainan kata untuk menegaskan arti nama Onesimus: "dahulu memang dia tidak berguna  bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku" (ay. 11). Paulus juga menyebutnya: "buah hatiku" (ay. 12). Paulus  meminta pada Filemon (namanya berarti: yang mengasihi), agar bersedia menerima kembali Onesimus "bukan lagi sebagai hamba,  melainkan... sebagai saudara yang kekasih" (ay. 16). Paulus menjamin dan mau mengganti semua kerugian yang dialami Filemon karena  tindakan Onesimus.

Karya Kristus telah mempertobatkan Paulus (semula bernama Saulus),  Filemon, dan kini Onesimus. Siapa pun nama kita, pertobatan membuat kita menjadi berguna! Tak ada ukuran tentang seberapa indah suatu  nama; yang penting adalah seberapa besar kita berguna bagi sesama. Di dalam Tuhan, kita berguna ketika kita "menghibur hati seseorang  di dalam Kristus" (ay. 20). Sudahkah kehadiran kita menghiburkan hati sesama? Atau malah sebaliknya, kehadiran kita membuat mereka  berduka? Mari kita menjadi orang yang berguna oleh anugerah Kristus, yang memanggil kita dalam karya-Nya! --CHA

OLEH ANUGERAH DAN KARYA KESELAMATAN KRISTUS, AKU DIUBAH MENJADI ORANG YANG BERGUNA BAGI ALLAH DAN SESAMA.

Sumber : Renungan Harian

Sunday, April 21, 2013

Gunung Kemustahilan

Jangan Menyerah

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:13

Namanya Wilma Rudolph, dilahirkan dalam kondisi prematur, yang mana dokter awalnya berpikir bahwa Wilma tidak mungkin bisa lahir dengan selamat. Kenyataan berbicara lain, Wilma lahir dengan selamat. Pada usia empat tahun, Wilma terkena pneumonia ganas dan membuat kaki kirinya lumpuh. Untuk bisa berjalan, ia harus menggunakan bantuan penopang kaki dari logam. Pada usia sembilan tahun, Wilma bertekad untuk membuang penopang kaki itu dan memilih untuk berjalan sendiri. Perjuangan dan latihannya selama bertahun-tahun membuahkan hasil. Pada usia tiga belas tahun, Wilma sudah bisa berjalan teratur dan pada tahun yang sama ia memutuskan untuk terjun dalam olahraga lari.

Wilma selalu mengikuti perlombaan lari dan selalu hasilnya adalah ia finish paling akhir. Selama tiga tahun, ia selalu finish paling akhir. Tapi setelah itu prestasinya mulai terlihat. Wilma mulai menang dan terus menang. Akhirnya, gadis cilik yang seharusnya tidak bisa berjalan itu mampu memenangkan tiga medali emas di Olimpiade Roma tahun 1960!

Inilah kisah perjuangan dan keuletan yang membuktikan bahwa kondisi seburuk dan sesulit apapun sebenarnya tidak bisa berkuasa dalam diri seseorang. Orang yang berhasil dan orang yang gagal hanya dibedakan oleh respon mereka ketika menghadapi tantangan dalam hidup mereka. Optimis atau pesimis. Berani bangkit atau membiarkan diri terpuruk. Semangat atau loyo. Ulet atau gampang dipatahkan. Respons kita cukup menunjukkan apakah kita seorang pemenang kehidupan ataukah sebaliknya, kita tidak lebih dari pecundang.

Dalam Kristus, kita selalu diajar menjadi orang yang positif, semangat, dan tidak kenal menyerah. Firman Tuhan berulang kali mengingatkan bahwa perkara sebesar apapun dapat kita tanggung bersama dengan Kristus yang memberikan kekuatan kepada kita. Bagaimana dengan hidup Anda saat ini? Apakah Anda sedang menghadapi “gunung kemustahilan” dalam hidup Anda? Ingatlah bahwa Wilma Rudolph yang seharusnya tidak bisa berjalan, tapi bisa berlari, bahkan bisa memenangkan medali emas Olimpiade!

Jadilah orang yang ulet dan tidak kenal menyerah, walaupun harus menghadapi “gunung kemustahilan”.

Sumber : Renungan Motivasi Google

Terus Berusaha

Jangan Frustasi dan Menyerah!

"Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana." (Amsal 24:16)

jangan frustrasi, jangan menyerah, bangkitDalam sebuah pertandingan kejuaraan di tahun 70an, Rudy Hartono maestro bulu tangkis Indonesia saat itu berhadapan dengan pemain hebat asal Malaysia, Punch Gunalan. Ketika itu Punch memimpin dengan telak. Rudy ketinggalan angka 1-14. Satu angka lagi, Punch akan menjadi juara. Secara logika tentu kemenangan hanya tinggal menunggu waktu saja. Tapi apa yang terjadi? Rudy Hartono tidak menyerah sama sekali. Secara luar biasa dia membalikkan keadaan. Angka demi angka diraih untuk menyusul Punch hingga akhirnya keluar sebagai pemenang.

Dalam sebuah acara TV beberapa puluh tahun berikutnya, Rudy menceritakan apa yang terjadi saat itu. Demikian kira-kira katanya: "kalau saat itu saya menyerah dan berpikir "yah mati deh.... saya pasti bisa benar-benar mati dan kalah" katanya. Rudy saat itu berpikir positif. Nothing to lose."Kalaupun kalah tidak masalah, karena saya sudah benar-benar berusaha", katanya.

Sikap positif ini membuat Rudy memandang ketinggalan angka dalam posisi kritis itu menjadi sebuah peluang untuk meraih kemenangan. Tekanan secara perlahan berpindah kepada Punch, dan Rudy pun memenangkan pertandingan.

Bayangkan jika Rudy saat itu mudah menyerah, mendasarkan hanya pada logika dan hilang semangat ketika dalam posisi kritis, hasil akhirnya tentu akan berbeda.

Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menyerah. Kita tahu bahwa ada pengharapan tanpa batas dalam Kristus. Amsal menuliskan "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana." (Amsal 24:16).

Sebagai anak-anak Tuhan yang punya pengharapan, tidak seharusnya kita mudah jatuh, frustrasi, menyerah dan kemudian kalah. Orang benar boleh jatuh berkali-kali, tapi tetap bangkit, dan kemudian menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang. "Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:36-37).

Tentu saja ada rasa sakit ketika kita terus menerus bertemu dengan kegagalan. Tapi jangan jadikan itu sebagai sesuatu yang traumatis kemudian membuat kita sulit bangkit karena terus terbelenggu dengan masa lalu. Jadikan kegagalan itu sebagai sebuah pelajaran berharga, dan jadikanlah sebuah titik tolak untuk bangkit.

Rasul Paulus pernah berkata demikian: "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa." (2 Korintus 4:8-9). Sebuah perkataan yang menunjukkan sebuah mental baja yang tidak mudah menyerah. Kita tahu bagaimana beratnya pergumulan Paulus setelah ia bertobat. Di lempar batu, menghadapi badai besar dalam salah satu pelayarannya ketika melayani, dipenjara, dianiaya dan lain-lain. Bagaimana Paulus bisa mencapai pola pikir seperti itu? Demikian katanya:"Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami."(ay 10). Yang dimaksud Paulus dalam ayat 10 ini dia jelaskan pada ayat 17."Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (ay 17).

Segala penderitaan yang dialami Paulus dan rekan-rekan sepelayanan belumlah sebanding dengan penderitaan yang dialami Yesus dalam menebus dosa-dosa manusia. Dan penderitaan itu semua masih terbilang ringan jika dibandingkan dengan kemuliaan kekal, sebuah kebahagiaan yang luar biasa dan abadi sifatnya, yang dijanjikan Tuhan. Dengan dasar demikian, Paulus dan rekan-rekan tidak merasa tawar hati bahkan menghadapi maut sekalipun. "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." (ay 16).

Penderitaan boleh datang, kegagalan boleh hadir dalam hidup kita, tapi semua itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal untuk belajar melangkah dalam proses perjalanan hidup kita untuk mencapai kesuksesan. Dalam Filipi, Paulus mengungkapkan sebuah tips penting menjalani kehidupan: "aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."(Filipi 3:13-14).

Yesus pun mengingatkan dengan tegas bahwa kita tidak boleh terus terikat dengan segala kegagalan di masa lalu. "Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Lukas 9:62).

Jangan menyesali kegagalan dan masa lalu anda secara berlebihan, apalagi jika itu mendatangkan frustrasi hingga kemudian menyerah. Jadikan semua itu sebagai titik awal sebuah proses belajar menuju keberhasilan, dan jadikan semua itu sebagai pelajaran untuk bersandar kepada Tuhan. Mulailah mengandalkan Tuhan dalam segala segi kehidupan kita. Ketika anda masih terjatuh saat ini, jangan patah semangat, karena Tuhan punya rencana luar biasa dalam hidup anda. Bangkitlah!

Belajarlah dari kegagalan dan jadikan itu sebagai awal kesuksesan

Sumber : Renungan Harian Online

Friday, April 19, 2013

Sesuai Talenta

PELAYANAN KASIH (Kisah Para Rasul 9:36-42)
Dikirim oleh: Evi Sjiane Djiun

Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. (Kisah Para Rasul 9:39)

Pernahkah Anda bingung tentang apa yang dapat Anda lakukan untuk  melayani Tuhan? Anda merasa tidak mampu memimpin kebaktian,  menyanyi, berkhotbah, berdiskusi soal iman, atau menulis artikel rohani. Tampaknya orang lain dapat melakukan pelayanan jauh lebih  baik daripada Anda. Lalu, Anda pasrah sambil menghibur diri bahwa Anda memang tidak diberi kemampuan untuk melayani.

Tidaklah demikian dengan Dorkas. Ia seolah tidak perlu berpikir  panjang mengenai pelayanan apa yang dapat ia lakukan. Seluruh  hidupnya adalah pelayanannya. Ia menyatakan kemurahan hatinya kepada  orang miskin (ay. 36). Keterampilannya membuat pakaian diabdikannya  untuk para janda. Semuanya itu ia lakukan dengan kasih yang tulus. Tidak heran, banyak yang merasa kehilangan dan menangis sedih ketika  ia meninggal. Syukur kepada Tuhan, melalui doa Petrus, Dorkas  dibangkitkan hidup kembali dan nama Tuhan dimuliakan (ay. 41-42).

Melayani Tuhan dapat dilakukan melalui banyak cara. Pelayanan tidak  hanya dilakukan di gereja, tetapi dapat juga di tengah masyarakat.  Tidak pula harus dengan keahlian yang khusus. Apa pun yang kita lakukan dengan kasih dan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus dapat  menjadi pelayanan yang membawa berkat. Memberi tumpangan, melatih orang cacat, memasak makanan untuk orang telantar, merawat anak yatim, dan menyekolahkan anak jalanan adalah beberapa contohnya.  Kiranya melalui perbuatan kita, orang mengenal Tuhan kita yang Mahabaik itu. --HEM

PELAYANAN KITA ADALAH SELURUH HIDUP KITA YANG KITA DEDIKASIKAN UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA.

Sumber : Renungan Harian

Masa Lalu

FOKUS KE DEPAN (Filipi 3:1b-16)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku... yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:13b-14)

Ketika kita mengemudi kendaraan, pandangan kita terutama terfokus pada hal-hal yang ada di depan kita. Kendaraan lain yang melintas,  jalan yang mungkin berlubang, juga manusia atau hewan yang bisa saja tiba-tiba menyeberang. Sesekali saja kita harus menengok ke spion  untuk memastikan tidak ada kendaraan yang sedang mengejar kita karena suatu keperluan atau barangkali ada kendaraan yang ingin  mendahului kita pada saat kita ingin berbelok arah.

Demikian juga dengan cara kita menjalani hidup. Sebaiknya pandangan  kita arahkan ke depan, berfokus pada apa yang menjadi cita-cita kita pada masa yang akan datang dengan disertai rasa optimis, doa, dan  kerja keras. Masa lalu—rentetan kejadian yang sudah tidak bisa  diubah lagi—kita gunakan sebagai bekal untuk menyongsong masa depan. Masa lalu adalah sejarah yang memberi kita pengalaman berharga agar kita lebih bijaksana dan teliti pada masa kini dan nanti.

Kita semua memiliki masa lalu. Ada yang gemilang sehingga orang  seakan ingin terus memeluknya. Ada pula yang menimbulkan trauma  sehingga orang terus dihantui oleh bayangan buruk. Kedua sikap itu sama-sama tidak sehat. Entah baik entah buruk, kita perlu belajar  melepaskan masa lalu, agar kita dapat melanjutkan hidup dengan cara yang bermakna dan meraih pencapaian yang maksimal. Jadi, mari kita   mengarahkan pandangan ke masa depan dan menjadikan masa lalu sebagai acuan untuk menjadi orang yang lebih baik pada masa kini dan nanti.  --RE

MASA LALU SEHARUSNYA MENJADI PENDORONG UNTUK MAJU, BUKANNYA BEBAN YANG MEMBUAT LANGKAH KITA TERTAHAN.

Source : Renungan Harian

Sunday, April 14, 2013

Peran Malaikat

Malaikat: Agen Rahasia Allah
Angels : God’s Secret Agents
Oleh : Dr Billy Graham
Resensi oleh : Deny S Pamudji

2013-04-14 10.12.06 Apakah itu malaikat? Apakah dia sungguh ada? Apakah dia tampak? Apakah dia lebih tinggi daripada manusia? Apakah perannya dalam kehidupan kini dan mendatang?  Semua jawaban atas pertanyaan itu dapat ditemukan dalam buku ini.

Buku dibuka dengan cerita-cerita tentang bagaimana malaikat membantu seseorang dan bagaimana perannya dalam menjaga pengabar injil terhadap gangguan keamanan. Dan alasan dibuat buku ini ialah agar kita tidak hanya mengetahui tentang setan, tetapi kita tidak mengetahui tentang malaikat yang merupakan pelindung kita.

Bumi merupakan arena pertempuran antara setan dengan malaikat.  Dan setiap kita, bisa dalam persekutuan dengan setan, ataupun perseteruan dengan setan. Yang jelas seseorang yang berada di luar Kristus Yesus berarti sadar atau tidak sadar berada dalam persekutuan dengan setan.

Malaikat disebut keberadaaannya baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Malaikat dapat bergerak cepat karena di luar dalam hukum 3 dimensi. Malaikat mempunyai kekuatan yang lebih dan memiliki pengetahuan apa yang akan terjadi kelak. Malaikat bisa bernyanyi dan bersukaria. Tetapi malaikat tidak berkembang biak dan jumlahnya tidak berubah karena tidak ada kelahiran maupun kematian.

Pada saat kedatangan Yesus yang kedua, maka malaikat ditugaskan untuk memisahkan siapa yang baik dan jahat. Malaikat pula yang ditugaskan untuk menggempur kuasa kegelapan dengan pengarahan dari anak-anak Tuhan.

Iblis juga berasal dari malaikat. Ya, malaikat yang jatuh akibat kesombongannya dan keserakahannya. Lucifer demikian sebutannya mengambil sepertiga dari malaikat di sorga untuk memberontak melawan Tuhan dan karena itulah mereka dibuang ke bumi dan mereka mengacaukan bumi dan isinya akibat dendam mereka.

Walaupun berperan membantu umat yang percaya, namun mereka tidak boleh sama sekali mendapatkan sesuatu atas bantuan yang mereka berikan.  Kita juga tidak diperbolehan menyembahnya karena mereka juga hamba-hamba Tuhan.

Perang yang terbesar antara setan dan malaikat (perang amargedon) akan terjadi pada saat dunia mendekati akhir zaman.

Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1993

Thursday, April 11, 2013

Tersisih

MERASA BERJUANG SENDIRI (1 Raja-raja 19:1-18)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan... hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku. (1 Raja-raja 19:14)

Prof. Irwin Corey—artis, komedian, aktivis politik terkenal yang malang melintang di Broadway, televisi, dan teater dunia—sejak 1994  dapat dijumpai terseok-seok mengemis di sepanjang Manhattan Street, New York. Padahal, ia kaya raya. Ia melakukannya untuk mengumpulkan  dana amal. Setelah istrinya meninggal pada Mei 2011, ia terus  melakukannya, sekaligus untuk mengusir kesepian. Ya, tak jarang  orang sukses di dunia ini mengalami kesepian yang sangat dalam.

Elia dipakai Allah menyatakan perbuatan-Nya yang dahsyat di Israel.  Namun, ketika diancam Ratu Izebel, ia melarikan diri ke padang  Bersyeba. Ia kesepian karena merasa berjuang sendiri membawa bangsa Israel kembali kepada Allah. Rekan sepelayanannya banyak yang mati  terbunuh atau berpaling pada dunia. Di tengah kegundahan, ia ingin Tuhan mencabut nyawanya (ay. 4). Dengan lembut Tuhan menghampirinya,  menegur kesombongan yang menjadi sumber kesepiannya. Nyatanya, bukan hanya dia yang masih setia kepada Tuhan. Masih ada 7.000 orang yang  berjuang melayani Tuhan untuk menjaga dan menggembalakan umat-Nya (ay. 18).

Anda kesepian karena merasa berjuang sendiri dalam pelayanan,  karier, atau kehidupan rumah tangga? Kadang-kadang orang kesepian  karena merasa paling hebat sendiri, paling benar sendiri. Berpalinglah pada anugerah Tuhan. Dialah yang memanggil dan setia  menyertai Anda. Dalam kesenyapan, Dia masih bekerja melalui banyak orang yang tetap setia walau tidak terkenal. Dia tidak membiarkan  Anda seorang diri. --SST

TUHAN YANG MEMANGGIL ANDA PASTI MENYERTAI ANDA; DIA TAK AKAN MEMBIARKAN ANDA SEPI SENDIRI.

Sumber : Renungan Harian

Egoisme

MEMURNIKAN KEINGINAN (1 Samuel 1:1-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

... maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya. (1 Samuel 1:11b)

Seorang teman berkata kepada saya, "Aku ingin mencari pekerjaan sambilan." Selama ini gajinya rendah sehingga ia hanya bisa menyewa  sebuah kamar kos yang kecil. Ia ingin tinggal di kontrakan yang lebih besar atau syukur-syukur punya rumah sendiri. Jika keinginan  itu terpenuhi, menurutnya, ia akan lebih bahagia. Wajar orang memiliki keinginan semacam itu. Dan, ada banyak alasan  di balik keinginan-keinginan itu. Bisa berupa kepuasan pribadi, bisa juga agar orang lain merasa senang.

Hana, istri Elkana, ingin mempunyai anak. Sebuah keinginan yang  wajar bagi seorang perempuan bersuami. Keinginan itu diperkuat  perlakuan buruk dari madunya, Penina. Karena itu, ia berdoa kepada Tuhan agar diberi anak lakilaki. Salah satu sisi penting dari doa  Hana adalah janjinya untuk mengembalikan anak yang akan dikandungnya kelak kepada Tuhan (ay. 11). Dengan kata lain, keinginannya itu ia  kembalikan lagi semata-mata untuk menyenangkan Tuhan. Doa Hana dikabulkan, dan lahirlah Samuel. Samuel adalah tokoh penting dalam  perkembangan bangsa Israel. Ia menjadi perantara Allah untuk menyampaikan sabda kepada umat-Nya.

Kita dapat meneladani Hana dalam hal memurnikan keinginan. Kita  boleh saja memiliki keinginan ini dan itu. Namun, alangkah baiknya  jika Allah menjadi poros keinginan kita—bukan melulu untuk kesenangan pribadi atau kelompok. Dengan demikian, jika keinginan  itu dikabulkan, hal yang kita peroleh akan sejalan dengan kehendak Bapa dan dapat memberkati orang-orang di sekitar kita. --CKW

KIRANYA TUHAN BUKAN HANYA MENJADI TEMPAT KITA MEMINTA, TETAPI KIRANYA KEHENDAK-NYA JUGA MENJADI PUSAT KEINGINAN KITA.

Sumber : Renungan Harian

Melatih Kesabaran

AMARAH KEPITING (Pengkhotbah 7:8-14)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pengkhotbah 7:9)

Ketika air laut sedang surut, banyak anak menangkap kepiting kecil di tepi Pantai Belawan, Sumatera Utara. Anak-anak itu memegang  setangkai kayu pendek dengan seutas tali pancing pendek. Sebuah batu atau kayu yang sangat kecil diikatkan di ujung tali pancing. Mereka  menyentuhkannya kepada kepiting yang sedang mengintip dari rongga-rongga pasir yang kering. Biasanya kepiting itu akan marah,  lalu menjepit batu atau kayu kecil itu. Itulah saat yang ditunggu anak-anak itu. Mereka menarik kayunya dan memasukkan kepiting itu ke  dalam ember atau wadah penampung lainnya. Kepiting itu akan menjadi mainan mereka atau kemudian dijual seharga Rp500,00 kepada anak  lain. Amarah telah mencelakakan si kepiting.

Banyak hal yang dapat memancing amarah kita dan menguras persediaan  kesabaran kita. Namun, kemarahan seringkali membuat seseorang bertindak dengan tidak bijaksana. Ketika kita marah, emosi negatif  akan mendominasi perasaan kita dan menuntut pelampiasan yang sepadan. Ketika melampiaskannya, mungkin kita merasakan kepuasan  sesaat, namun setelah itu kita dirundung oleh penyesalan dan rasa bersalah. Kadang-kadang, amarah bahkan bisa mencelakakan kita.

Untuk dapat meredam amarah, kita perlu melatih dan memelihara  kesabaran. Bukan berarti kita tidak boleh marah, namun emosi kita  semestinya tidak lekas terpancing. Kita juga perlu belajar untuk marah pada saat yang tepat dan memberikan respon dengan cara yang  benar sehingga kita tidak perlu menyesalinya kemudian. --HT

AKAN SELALU ADA PERKARA YANG MEMANCING KEMARAHAN KITA, NAMUN KITA DAPAT MEMILIH UNTUK TIDAK MENANGGAPINYA.

Sumber : Renungan Harian

Tuesday, April 02, 2013

Tanggung Jawab

BERANI BERSAKSI (Kisah Para Rasul 1:6-11)
Dikirim Oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku... sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8)

"Tolonglah doakan aku, supaya sakit kepalaku sembuh!" kata seorang  yang bukan Kristen kepada Damai, seorang sahabat saya. Karena belum  berpengalaman berdoa bagi orang yang bukan Kristen, Damai berkata  bahwa ia akan mendoakannya di rumah. Esoknya, temannya berkata, "Terima kasih ya atas doanya. Saya sudah sembuh dari kemarin!"

Damai menjadi sangat terkejut, namun mulai merasa bersalah.  "Seharusnya itu menjadi kesempatan memberitakan Injil, tapi saya  terlalu takut!" katanya. Sejak itu, setiap ada peluang mendoakan orang lain, ia akan terlebih dahulu menjelaskan siapa Yesus kepada   orang itu. Sekarang, ia menjadi penginjil yang berani dan memimpin banyak orang kepada Kristus.

Menjadi saksi bagi Yesus adalah tanggung jawab semua orang Kristen.  Itu bukan pilihan. Saksi adalah seseorang yang melihat atau  mengetahui sesuatu terkait sebuah perkara, dan diminta untuk memberitahukannya. Menjadi saksi tidak memerlukan gelar pendidikan  atau jabatan tertentu. Namun, tidak semua orang bisa menjadi saksi Yesus, melainkan hanya mereka yang telah memiliki hubungan pribadi dengan-Nya, mengenal-Nya melalui firman Allah, dan juga melalui  pengalaman rohaninya.

Setiap orang percaya telah diberi kuasa untuk bersaksi. Anda sudah  diperlengkapi dari tempat mahatinggi. Karena itu, pergunakanlah  kuasa Anda. Saksikanlah Kristus yang berkuasa mengampuni dan menyelamatkan orang berdosa, baik melalui perkataan dan tindakan  Anda, sehingga mereka mengenal-Nya dan masuk ke dalam terang-Nya. --HT

BERSAKSI ADALAH MENGARAHKAN ORANG LAIN PADA KEBAIKAN DAN KEKUASAAN TUHAN.

Sumber : Renungan Harian

Gerakan Doa

Gereja Yang Berdoa (Churches That Pray)
Oleh : C. Peter Wagner
Penerbit : Yayasan Andi & Metanoia
Resensi oleh : Deny S Pamudji

Gereja Yang Berdoa (GYB) merupakan buku ke empat dari C. Peter Wagner.  Buku sebelumnya yakni Doa Peperangan, Perisai Doa, Merobohkan Benteng2 Dalam Kota Anda.

Telah terjadi gerakan doa yang besar yang tidak 2013-03-13 07.03.26mengenal batas denominasi. Bahkan ada keterkaitan hancurnya Uni Soviet (1991) dengan doa syafaat sebagaimana tertulis dalam Love on Its Knees (Dick Eastmen). Gerakan doa yang besar-besaran dimulai dari Korea dengan dipelopori oleh Pdt David Yonggi Cho (pendiri dari Yoido Full Gospel Church).

Adapun pola doa orang Kristen Korea yang dicatat dalam buku ini ialah doa menjelang fajar, persekutuan jumat malam, dan adanya bukit-bukit doa.  Bahkan hampir semua pendeta di Korea memiliki ruang doa pribadi di tiap rumah tangganya.

Doa yang efektif bukanlah doa yang retorik, melainkan doa tindakan yakni doa yang berdasarkan iman, hati yang bersih, kuasa dan tidak berkeputusan (tetapi harus berhenti berdoa jika Tuhan menjawab tidak)

Bagaimana mendengar suatu Tuhan?; Alasan gereja harus berdoa; Bagaimana cara berdoa bersama; Bagaimana mengukur skala keberhasilan doa bersama; Pengaruh doa dalam masyarakat; Bagaimana melakukan doa keliling, doa ekspedisi, doa perjalanan dibahas tuntas dalam buku ini.

Saya kira buku ini dapat dijadikan pedoman bagaimana mengembangkan gereja yang penuh kasih dan kuasa sehingga dapat diterima oleh masyarakat sekita.

Popular Posts