Saturday, October 19, 2013

Pembela Allah

ALLAH PERLU DIBELA? (Matius 26:47-56)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Atau kausangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Matius 26:53)

Akhir-akhir ini ada kelompok ini itu yang suka melakukan penggeledahan, penggerebekan, penyisiran, penyerangan, dan  pembunuhan. Dalam melakukan tindakannya, para pelaku itu cenderung bertindak keras, brutal, dan bahkan anarkis. Anehnya, semua itu  mereka lakukan dengan dalih membela agama atau Allah. Pertanyaannya: benarkah Allah perlu dibela?

Ya, masakan Dia perlu ditolong manusia? Dia punya cara tersendiri  untuk membela diri-Nya. Peristiwa di Taman Getsemani menyodorkan  suatu jawaban yang unik. Sebelum Yesus ditangkap, Petrus berusaha membela-Nya dengan menetak putus telinga Malkhus. Bagaimana reaksi  Yesus? Dia malah menegur Petrus dan menyembuhkan hamba Imam Besar  itu (ay. 52-54). Sebelumnya, Yesus juga pernah menegur Petrus yang berusaha menggagalkan rencana keselamatan-Nya (Mat. 16:22-23).  Akhirnya, ketika Dia tergantung di kayu salib, Allah Bapa malah "meninggalkan-Nya" (Mat. 27:46).

Tetapi, justru itulah cara Allah membela-Nya! Ketika Dia tidak mau  dibela Petrus, dan tidak mau memanggil "lebih dari dua belas pasukan  malaikat" (ay. 53), juga ketika Ia berdiam diri saat diadili, itulah  saat Allah "membiarkan-Nya mati" agar rencana keselamatan itu bisa  terwujud. Bayangkan, seandainya Allah melepaskan-Nya, maka gagallah rencana itu dan tiada jalan bagi kita beroleh keselamatan.

Allah Bapa dan Allah Anak "sengaja tidak membela diri", namun  sesungguhnya itulah pembelaan-Nya terhadap rencana keselamatan yang  sudah dirancang-Nya demi kita. Maka, Allah tak perlu dibela! --HS

KITALAH YANG SESUNGGUHNYA DIBELA ALLAH, BUKAN KITA YANG MEMBELA DIA!

Sumber : Renungan Harian

Berani Bertobat

KEMBALI KEPADA BAPA (Lukas 15:11-32)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. (Lukas 15:24)

Agustinus, bapa gereja yang hidup pada abad kelima, sebelumnya hidup jauh dari Tuhan. Kehidupan moralnya bobrok. Ia berpikir akan menemukan kebenaran dan kedamaian sejati di luar Kristus. Dalam situasi seperti ini, beruntung ia mempunyai seorang ibu yang setia  mendoakannya dengan cucuran air mata supaya ia bertobat. Sampai pada suatu saat Agustinus menyadari kesalahannya, kemudian bertobat dan menyerahkan hidupnya sebagai hamba Tuhan.

Anak bungsu dalam perumpamaan ini bisa jadi juga berpikir, "Aku akan menemukan kebahagiaan di luar sana yang tidak akan kudapatkan jika selalu bersama dengan bapa." Pada mulanya, ia mendapatkan  kebahagiaan yang ia idam-idamkan (ay. 13). Namun, hal itu ternyata  hanya sementara. Ketika hartanya habis, hidupnya menderita, sesuatu yang belum pernah ia alami ketika tinggal bersama bapanya (ay.  14-17). Beruntung kemudian ia sadar dan ingat kehidupan pada masa lalu bersama dengan bapanya dan memiliki kerinduan untuk pulang (ay.  18-19). Situasi sulit telah menyadarkan si bungsu bahwa ada sesuatu yang salah dalam hidupnya. Ia mengambil keputusan tepat. Ternyata, bapanya pun merindukan anak itu kembali. Dan ia mendapati, hidup  bersama dengan bapanya jauh lebih bahagia daripada saat ia melarikan diri.

Adakah di antara kita yang saat ini pergi dan meninggalkan "rumah  Bapa"? Hal itu mungkin tampak menyenangkan pada mulanya. Tetapi,  pada akhirnya pelarian kita akan berujung pada penderitaan. Jadi, lebih baik kita segera berbalik kembali kepada Bapa. --Yakobus Budi  Prasojo

MENYADARI KESALAHAN DAN BERTOBAT BUKANLAH TINDAKAN MEMALUKAN, MELAINKAN SEBUAH KEBERANIAN.

Sumber : Renungan Harian

Percaya Janji-Nya

KETIKA PERSEDIAAN MENIPIS (1 Raja-raja 17:13-16)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan..." (1 Raja-raja 17:13a)

Anak kami memiliki suatu kebiasaan yang menggelitik. Setiap kali ia makan atau minum sesuatu yang ia senangi, ia enggan membagikannya kepada orang lain. Kalaupun mau membagikannya, ia akan berpesan, "Jangan dihabiskan ya." Kebiasaan ini tampaknya bukan hanya menghinggapi anak kecil. Orang dewasa pun kerap mempertahankan milik kepunyaannya, terutama hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan atau kehidupannya.

Kisah Elia dan janda di Sarfat menawarkan perspektif yang baru. Dalam keadaan yang begitu susah, janda ini didatangi seseorang yang tidak ia kenal, yang meminta bagian dari tepungnya yang masih tersisa, yang akan dibuatnya menjadi roti bagi dirinya dan anaknya. Bukan sebuah permintaan yang mudah untuk dituruti. Elia menyertai permintaannya itu dengan menyampaikan janji tentang pemeliharaan Allah pada tahun-tahun kekeringan tersebut. Nah, di sini bukan hanya janda itu yang memberikan milik terakhirnya; Elia juga memberikan miliknya: iman dan keyakinannya akan pemeliharaan Tuhan. Ketika mukjizat terjadi, janda Sarfat dan anaknya bersama dengan Elia dipelihara oleh Tuhan dengan cara yang ajaib.

Tidak jarang kita merasa mampu dengan apa yang kita miliki. Kekayaan, pekerjaan, saudara, dan sebagainya. Tanpa kita sadari, iman dan keyakinan kita bergantung pada hal-hal tersebut. Pada saat hal-hal itu "menipis", iman kita diuji. Apakah kita akan mempertahankannya? Atau, kita akan melepaskannya, dan berganti mengandalkan sesuatu yang lebih pasti: pemeliharaan Allah? –YKP

APAKAH IMAN KITA BERGANTUNG PADA HAL-HAL YANG DAPAT BERUBAH ATAU PADA SESEORANG YANG PASTI MEMENUHI JANJI-NYA?

Sumber : Renungan Harian

Bertobat

LEGA DENGAN MENGAKU (Mazmur 51:1-19)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Kurban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. (Mazmur 51:19)

Seorang anak tanpa sengaja merusakkan laptop pemberian orangtuanya. Ia dilanda rasa bersalah, ketakutan, dan sekaligus  mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Tetapi, ia takut menceritakan masalah. Ia malah terus berusaha menghindar  meskipun hatinya tidak pernah tenang dan hidupnya menjadi susah. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengaku, siap dimarahi dengan segala  risikonya. Leganya, sang ayah justru memberikan solusi untuk memperbaiki laptop itu.

Daud berbuat dosa yang begitu keji. Bukan hanya berzinah dengan  Batsyeba, ia kemudian membunuh suami perempuan itu, Uria (ay. 1).  Meskipun menyadari pelanggarannya, pada awalnya ia menutupinya sehingga terus bergumul dengan dosa itu (ay. 3). Pada akhirnya, Daud  mengerti bagaimana ia dapat mengakhiri pergumulannya. Ia tahu kepada siapa ia harus datang. Ya, ia memohon dengan sungguh-sungguh kepada  Tuhan, agar hidupnya dipulihkan (ay. 9-15). Ia menyesal dan berduka  atas kejahatan yang telah ia perbuat. Daud sadar, hanya Tuhan yang dapat memulihkan hidupnya dari dosa tersebut.

Kita pun tak ayal pernah atau sering melakukan pelanggaran. Tidak ada gunanya kita menjauh dari Tuhan. Semakin menjauh, kita semakin terasing, hati kosong, tidak tenang, dan tertekan. Tuhan  menginginkan kita berbalik kepada-Nya. Dengan hati yang hancur, rela  untuk bertobat, dan memohon anugerah-Nya agar dimampukan untuk tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut. Dalam pengampunan-Nya, kita dapat kembali menatap ke depan dengan penuh rasa syukur. --US

MENGAKUI DOSA DAN BERTOBAT MELEPASKAN KITA DARI TUNTUTAN RASA BERSALAH.

Sumber : Renungan Harian

Pikul Salib

CINTA DAN PENGURBANAN (Matius 16:24-26)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24)

Selama sepuluh tahun menikah, Nia tidak mencintai suaminya. Ia marah karena mereka dijodohkan. Sebaliknya, Anto memberikan yang terbaik untuk istrinya. Ia bangun pagi, menyiapkan makanan, dan bekerja. Suatu ketika Nia pergi ke salon dengan dompet kosong karena   Anto lupa mengembalikan uang yang baru saja ia ambil untuk keperluan  sekolah anak. Ia bergegas menyusul Nia. Sungguh sayang, di jalan ia mengalami serangan stroke. Anto pun meninggal dunia. Dan, Nia baru  menyadari cinta dan pengorbanan suaminya waktu suaminya sudahmeninggal.

Kita dipanggil untuk memikul salib. Apakah yang diwakili oleh salib? Salib adalah gambaran kebenaran akan cinta dan pengorbanan. Yesus memikul salib karena cinta-Nya. Karena cinta Dia sengaja memilih memikul salib. Dia memberikan kurban yang paling mahal kepada Bapa, yaitu nyawa-Nya sebagai tebusan salah. Ketika Dia memanggil  murid-murid-Nya memikul salib (ay. 24), kita harus melihat bagaimana dan mengapa Dia memikul salib. Dengan cara ini kita pun mengetahui  arti salib.

Salib hanya dapat dipikul karena cinta kita kepada-Nya. Cinta memampukan kita melewati penderitaan sehebat apa pun. Orang yang memikul salib juga harus siap berkurban. Bukan sembarang kurban, melainkan kurban yang sangat berharga. Apakah yang kita miliki dan  kita anggap berharga? Harta? Kedudukan? Itulah kurban salib. Salib adalah bukti totalitas. Setiap orang yang siap memikul salib harus  siap menyerahkan segala-galanya untuk Tuhan sesuai dengan cara-Nya. --MP

CINTA DAN PENGURBANAN BERJALAN BERIRINGAN, MENGUATKAN KITA DALAM MEMIKUL SALIB.

Sumber : Renungan Harian

Dongeng Alkitab

HANYA SATU JALAN (Yohanes 14:1-14)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Kata Yesus kepadanya, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)

"Guru agama saya di SMP mengajarkan bahwa semua agama itu sama, dan Alkitab itu berisi banyak dongeng. Padahal itu adalah sekolah Kristen, " kata seorang pengusaha sukses yang juga majelis di gereja kami. "Memang saya lahir dalam keluarga Kristen, dan hidup saya juga  benar menurut standar moral dan etika. Saya bahkan tidak merokok.  Saat itu saya merasa tidak memerlukan Yesus."

Namun, rasa penasaran mendorongnya untuk membaca Alkitab. Ia  terhenyak oleh pengakuan Yesus tentang diri-Nya sendiri. Yohanes  14:6 menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada Allah tanpa melalui Dia. Ini membuatnya merenung. Siapa sebenarnya Yesus  ini? Mengapa Dia berkata begitu? Di tengah ajaran serba relatif yang  ia terima, pernyataan ini menawarkan kemutlakan. Ia pun mempelajari Alkitab dengan tekun dan akhirnya menyerahkan hidupnya kepada Yesus.

Demi toleransi terhadap penganut agama lain, banyak orang Kristen  berkompromi. Mereka memandang Yesus sebagai salah satu jalan ke  surga, bukan satu-satunya. Mereka cenderung hanya berbicara tentang pengajaran humanistis yang bersifat universal, agar dapat diterima  semua orang apa pun agamanya. Akhirnya, semua menjadi bersifat relatif. Prinsip ini jelas melenceng dari Alkitab.

Pandangan kita tentang Yesus dipengaruhi oleh sikap kita terhadap  Alkitab. Apakah kita sungguh memercayai Alkitab itu firman Allah?  Bertekunlah membaca dan mempelajarinya karena segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang keselamatan ada di dalamnya. --HT

ADA BANYAK JALAN KE ROMA, NAMUN JALAN MENUJU ALLAH HANYA SATU, YAITU YESUS KRISTUS.

Sumber : Renungan Harian

Memahami Kehendak-Nya

SUDAHLAH (Lukas 22:47-53)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi Yesus berkata, "Sudahlah itu." (Lukas 22:51a)

Saat Ibu saya didiagnosis menderita kanker kandungan, ia protes kepada Tuhan. Kenapa penderitaan itu harus ia alami? Ia masih ingin  hidup untuk mengantarkan adik-adik saya yang masih kecil bertumbuh  menjadi mandiri dan dewasa. Tetapi, seiring dengan berjalannya  waktu, ia dapat menerima keadaan itu sebagai cara Tuhan dalam  mendewasakan keluarganya.

Dalam keheningan Getsemani, Yesus bertelut di hadapan Bapa dalam  kesedihan dan kegentaran. Namun, Dia berserah penuh pada penggenapan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Dia tidak takut lagi.  Ketika krisis semakin memuncak, datanglah serombongan orang yang dipimpin oleh Yudas. Yudas mencium Yesus sebagai tanda bahwa Dialah  yang harus ditangkap. Ciuman, yang dalam tradisi mereka merupakan tanda persaudaraan, dijadikan Yudas sebagai tanda pengkhianatan.  Melihat situasi yang terjadi, para murid bermaksud melakukan perlawanan. Yesus menenangkan murid-murid-Nya, dan berkata,  "Sudahlah itu." Yesus tahu bahwa itulah saat bagi mereka dan bagi kuasa kegelapan untuk menunjukkan perlawanan pada Allah. Itu jugalah  saat bagi Allah untuk menggenapi rencana-Nya bagi umat manusia.

Pemahaman yang jelas akan kehendak Allah dan kemauan untuk taat pada  kehendak itu membuat Yesus memiliki hikmat untuk bertindak. Dia tahu kapan harus menghindar dan kapan harus menyerahkan diri. Kiranya  pemahaman akan kehendak Allah pun menolong kita untuk mengerti bagaimana kita harus bersikap dan bertindak dalam situasi genting  yang harus kita hadapi. --EN

PEMAHAMAN AKAN KEHENDAK ALLAH ADALAH SEBUAH UNDANGAN UNTUK MENYERAHKAN HIDUP KE DALAM KUASA-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Berharga Di Mata-Nya

ANONIM (Yesaya 43:1-7)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. (Yesaya 43:1b)

Di sebuah toko perhiasan, seorang pemuda membeli gelang untuk kekasihnya. "Kamu mau nama kekasihmu diukir di sini?" tanya si penjual. Setelah menimbang sejenak, pemuda itu menjawab, "O tidak, jangan namanya, tapi tulislah Untuk Satu-satunya Kekasihku  Tercinta." "Wah, romantis sekali Anda!" sahut si penjual. Dengan wajah agak merah dan bibir tersenyum-senyum kecil, pemuda itu  berkata, "Sebenarnya bukan romantis, tetapi praktis. Andai suatu saat kami putus, saya masih bisa memakainya lagi."

Pemberian nama. Pencantuman nama. Pemanggilan nama. Semua itu penting bagi manusia. Apa jadinya andaikan ketika lahir Anda tidak  diberi nama? Bagaimana orang mengenal Anda jika Anda tak bernama? Perasaan apa yang timbul di hati Anda kala seseorang memanggil Anda  dengan sapaan kasar "Hei!" saja? Pasti semua itu kondisi yang tak  wajar. Tanpa nama, orang hanya akan diperalat. Diperlakukan jahat. Dianggap tak punya harkat. Yang pasti bukan seorang sahabat. Semua  tawanan kamp konsentrasi di bawah komando Adolf Hitler tak bernama.   Anonim. Hanya nomor. Dipanggil dengan nomor.

Nabi Yesaya berpesan kepada para tawanan Yehuda di pembuangan  Babilonia: bahwa Allah memanggil mereka dengan nama mereka. Betapa  mereka berharga di mata-Nya. Tuhan tidak pernah ragu untuk memanggil  nama mereka, bahkan mengukirnya di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16). Pesan serupa berlaku bagi Anda dan saya. Ingat, kita berharga di mata-Nya. Jangan sia-siakan hidup kita. Kita milik-Nya. Dia memanggil kita menurut nama kita. --PAD

JADIKAN HIDUP INI BERHARGA KARENA ANDA BERHARGA DI MATA-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Sikap Yunus

BERANI BERTANGGUNG JAWAB (Yunus 1:1-15)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu. (Yunus 1:12)

Kisah Yunus sungguh menggelitik. Berbeda dari Musa yang meragukan panggilan Tuhan, Yunus malah berani melarikan diri dari panggilan   Tuhan. Musa melewati laut, berjalan di tanah yang kering; Yunus melewati laut, terkurung di dalam perut ikan besar. Musa berseru  agar Tuhan mengurungkan niat-Nya memusnahkan bangsa Israel; Yunus bersungut-sungut ketika Tuhan mengurungkan niat-Nya memusnahkan  penduduk kota Ninewe.

Sekilas tidak ada hal yang membanggakan dari diri Yunus, tapi  sebenarnya ada hal yang luar biasa pada nabi yang satu ini. Dalam  perjalanannya ke Tarsis, menjauh dari hadapan Tuhan, Tuhan menurunkan angin ribut dan badai besar sehingga kapal yang Yunus  tumpangi nyaris hancur (ay. 4). Di tengah kepanikan yang luar biasa, ia berkata, "Akulah alasan mengapa badai ini terjadi. Campakkanlah  aku ke dalam laut, supaya badai menjadi reda" (ay. 12). Tidak ada jaminan bahwa ia akan selamat jika dicampakkan ke dalam laut.  Tetapi, Yunus berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Sekalipun ia harus bertaruh nyawa. Luar biasa, bukan?

Apakah kita bertanggung jawab atas perbuatan kita? Sayangnya, tidak  setiap orang memiliki sikap positif ini. Ada orang yang melupakan, bahkan melarikan diri dari tanggung jawabnya. Sebagai orang  pilihan-Nya, kita dapat belajar untuk berani bertanggung jawab. Sikap ini sangat penting. Lebih dari sekadar untuk membangun  reputasi pribadi, sikap berani bertanggung jawab harus kita miliki  untuk memuliakan Tuhan yang kita sembah. --OS

TUHAN SELALU BERTANGGUNG JAWAB ATAS HIDUP ANDA, APAKAH ANDA MENJALANI HIDUP INI DENGAN PENUH TANGGUNG JAWAB?

Sumber : Renungan Harian

Kuasa Firman

MELEK ALKITAB? (Kisah Para Rasul 17:10-15)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Orang-orang Yahudi di kota itu ... menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. (Kisah Para Rasul 17:11)

Pada 2002, George Barna melakukan survei terhadap orang Kristen di  Amerika. Ia ingin mengetahui pengetahuan mereka tentang Alkitab.  Hasilnya: 48% responden tidak dapat menyebutkan nama 4 kitab Injil;  52% tidak dapat menyebutkan lebih dari 3 nama murid Yesus; 60% tidak dapat menyebutkan 5 saja dari 10 Perintah Allah; 61% mengira bahwa  "Khotbah di Bukit" adalah khotbah Billy Graham. Bahkan, 71% responden juga mengira bahwa kalimat "Tuhan menolong mereka yang  menolong dirinya sendiri" adalah sebuah ayat Alkitab!

Jemaat Berea adalah jemaat yang "menerima firman itu dengan segala kerelaan hati" (ay. 11). Artinya, mereka tidak mengeraskan hati;  mereka membuka hati untuk diajar tentang kebenaran. Dan, mereka tak sekadar membaca firman, tetapi juga menyelidikinya. Dari situ,  mereka dapat menguji apakah ajaran yang mereka terima itu benar (ay. 11). Sebagai buahnya, iman mereka bertumbuh, kepercayaan mereka pada  sang Mesias diteguhkan (ay. 12a).  Bahkan, hidup mereka pun berdampak: mereka menjadi berkat bagi orang  non-Yahudi, yang turut menjadi percaya (ay. 12b).

Ironis bila di tengah kebebasan untuk membaca dan memiliki Alkitab,  orang justru kerap tidak membaca dan mempelajarinya. Padahal, inilah surat yang memperkenalkan Pribadi Allah yang benar. Inilah panduan  Allah, yang memberi kita jalan saat menghadapi berbagai pergumulan. Inilah pertolongan Tuhan, agar kita tak kalah menghadapi masalah  atau terperangkap dalam ajaran yang salah. Mari mempelajari firman-Nya. --AW

FIRMAN-NYA ADALAH PENGUAT PADA SAAT KITA LEMAH; FIRMAN-NYA ADALAH PEDOMAN PADA SAAT KITA BIMBANG.

Sumber : Renungan Harian

Kekuatan Manusia

Ditopang Kasih Setia (Mazmur 13:1-6)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. (Mazmur 13:6)

Ada batas kekuatan manusia untuk bertahan menghadapi persoalan hidup. Jika kita merenungkan ungkapan hati Daud dalam kitab Mazmur ini, tentu kita dapat menarik kesimpulan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Ya, Daud merasa sangat lelah dan tidak mampu lagi menghadapi beragam persoalan yang bertubi-tubi menimpanya.

"Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus menerus? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?" Bukankah doa-doa seperti ini juga yang sering kita ucapkan kepada Tuhan untuk menyatakan ketidakmampuan kita mengatasi persoalan hidup? Menurut saya, ungkapan hati seperti ini sangat wajar muncul dalam pikiran atau ucapan kita. Daud pun merasa seolah-olah Tuhan meninggalkannya. Tetapi, satu ucapan terakhir yang patut kita cermati dan kita teladani: Daud tetap menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan! Itulah yang membuatnya dapat bertahan dan tampil sebagai pemenang pada akhirnya.

Apakah yang memampukan Daud bertahan? Kasih setia Tuhan. Kasih setia-Nya menyediakan perlindungan dan kekuatan baginya sehingga ia mampu bertahan jauh melampaui batas kemampuannya sebagai manusia. Begitu juga, di tengah pergolakan badai hidup, Anda dan saya dapat mengandalkan kasih setia Tuhan. Dia tidak akan membiarkan kita tergeletak, tetapi kita akan menyaksikan kuasa-Nya menolong dan meneguhkan kita. --SYS

TANPA KASIH SETIA TUHAN, DENGAN APAKAH KITA AKAN BERTAHAN DALAM MENGHADAPI BERBAGAI PERSOALAN HIDUP?

Sumber : Renungan Harian

Kehadiran Allah

DI PERUT IKAN (Yunus 2:1-10)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu. (Yunus 2:1)

Kenyataan hidup sering membawa manusia berada di tempat-tempat yang tidak lazim. Kotor. Berbau. Sesak. Pengap. Gelap. Tidak layak. Jauh dari manusiawi. Bencana alam membuat manusia berada di antara reruntuhan gedung atau di kemah pengungsian. Peperangan menjerumuskan orang ke lumpur rawa, hutan rimba, lubang bawah tanah, atau kamp tawanan. Penyakit menggiring manusia tergolek di bangsal rumah sakit. Kesalahan mengurungnya di balik jeruji penjara.

Perut ikan juga bukan tempat yang wajar bagi Yunus. Di situlah ia berada selama tiga hari tiga malam. Bagaimana perasaannya? Arus air yang menggelora, bagi orang Israel kuno, adalah simbol dari kebinasaan yang menakutkan. Di situ Yunus merasa begitu dekat dengan kematian. Terlempar ke tempat yang dalam dan kelam. Dikepung dan dilingkupi oleh air. Dibelit rumput laut. Lendir di kiri dan di kanan. Berbau anyir. Gelap. Ia merasa jauh dari mana-mana, kecuali gerbang maut. Tersisa satu hal yang bisa ia lakukan: berdoa. Dan itulah yang akhirnya membuat ia sadar: Tuhan tidak meninggalkannya sekalipun ia berada di perut ikan.

Anda sedang berada di tempat yang menyesakkan seperti itu? Bilik rumah sakit? Kamar tahanan? Ruang tunggu operasi? Ruang pengadilan? Lakukanlah hal yang satu ini: Berdoa. Percayalah itu tak akan sia-sia. Kehadiran dan rengkuhan Tuhan tidak dapat dibatasi oleh kondisi apa pun di dunia ini, di tempat yang paling kelam sekalipun. Justru di tempat gelapi itu Anda dapat merasakan betapa kuat dekapan-Nya. --PAD

DI TEMPAT PALING KELAM SEKALIPUN, KEHADIRAN TUHAN MENDATANGKAN TERANG DAN KETENANGAN.

Sumber : Renungan Harian

Kebesaran Allah

DIANGGAP BODOH (1 Korintus 1:18-31)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat... (1 Korintus 1:27)

Kisah sukses orang bodoh tidak ada habisnya. Mereka mampu menyulap label bodoh menjadi kisah inspiratif yang mengundang decak kagum. Salah satunya Sir John Gurdon, peraih Nobel dalam bidang Psikologi  dan Obat-obatan tahun 2012. Ketika berusia 15 tahun ia dilabeli bodoh. Ia pernah menduduki posisi paling akhir dari 250 anak dalam  mata pelajaran Biologi dan ilmu alam lainnya. Namun, Sir John Gurdon sudah bertransformasi. Kini ia mendapatkan pengakuan dunia atas  pencapaian ilmiahnya.

Bagi dunia, Injil itu suatu kebodohan (ay. 23). Mengapa? Dunia  menganggap kepercayaan kepada Kristus sebagai kekonyolan. Bagaimana  mungkin seorang yang mati bisa dianggap hidup? Bagaimana orang yang disalibkan dianggap juru selamat? Bagaimana seorang manusia bisa  menjadi Allah? Bagi dunia, kepercayaan semacam itu sama sekali tidak  masuk akal. Hanya orang bodoh yang meyakininya.

Namun, syukur kepada Allah, Anda dan saya tidak perlu cemas. Allah  berjanji bahwa Dia akan memakai orang-orang yang bodoh untuk  mempermalukan dunia (ay. 27). Tuhan rindu untuk menyatakan diri-Nya kepada dunia. Dan, Dia hendak memakai orang yang cukup bodoh untuk  memercayai berita Injil guna menyatakan kebesaran dan keagungan-Nya.  Melalui kehidupan orang percaya, dunia akan melihat bagaimana kuasa dan anugerah-Nya bekerja. Dunia akan menyaksikan bahwa percaya pada  Kristus itu ternyata bukan tindakan bodoh seperti tuduhan mereka. Siapkah kita dianggap bodoh oleh dunia karena berpegang teguh pada  Kristus? --MP

DIANGGAP BODOH OLEH DUNIA ADALAH KEUNTUNGAN KARENA, DENGAN ITU, ORANG AKAN MELIHAT KEBESARAN ALLAH, BUKAN KEBESARAN KITA.

Sumber : Renungan Harian

Kesaksian Membawa Berkat

PERUBAHAN HIDUP MATIUS (Matius 9:9-13)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, "Ikutlah Aku." Matius pun bangkit dan mengikut Dia. (Matius 9:9)

Pemungut cukai alias petugas pajak adalah profesi yang disegani dan sekaligus dibenci banyak orang. Orang cenderung tidak suka  berurusan dengan petugas pajak. Petugas pajak distereotipkan sebagai orang yang tidak jujur; bukan hanya menipu rakyat, mereka juga  mengelabui pemerintah. Mereka dianggap memperkaya diri dengan mencari untung dari orang kaya yang tidak mau membayar pajak dengan semestinya. Matius, selain pemungut cukai, juga dipandang sebagai  antek penjajah Romawi. Jadi, bisa dibayangkan betapa orang Yahudi membencinya.

Namun, Yesus Sang Mesias tidak segan untuk mencari mereka yang  berdosa dan yang dibenci banyak orang seperti Matius. Dia justru  memberikan pengampunan, keselamatan, dan perubahan hidup menjadi manusia baru bagi pemungut cukai itu. Hidupnya tidak lagi berpusat  pada diri sendiri, tetapi berpusat pada kemuliaan Allah dan menjadi  berkat bagi banyak orang. Sukacita dan perubahan hidup membuat Matius rindu bersaksi bagi orang-orang di sekitarnya yang sedang  bergumul dengan dosa, agar mereka juga berkesempatan disapa dan dijamah Yesus.

Matius meninggalkan meja cukai yang dulu memberinya banyak  keuntungan duniawi. Kini ia memperoleh harta surgawi dan harkat  hidup yang tak ternilai. Tuhan memakai kemampuannya mencatat dengan  teliti untuk menuliskan Injil yang memberkati banyak orang dan  mengantar mereka berjumpa dengan Yesus Sang Juru Selamat. Rindukah Anda menyerahkan hidup untuk diubah dan dipakai oleh Yesus?  Sambutlah panggilan-Nya! --S

KEHIDUPAN YANG BERPUSAT PADA TUHAN AKAN MENDATANGKAN BERKAT BAGI SESAMA.

Sumber : Renungan Harian

Pernyertaan Tuhan

KAPANKAH PAGI? (Mazmur 130:1-8)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. (Mazmur 130:6)

Proses persalinan anak pertama kami cukup sulit. Dokter terpaksamenggunakan alat bantu yang menyebabkan terjadinya cedera di  otaknya. Ia mesti menjalani perawatan intensif sebelum diperbolehkan pulang. Syukurlah, kondisinya hari demi hari kian membaik. Namun,  bagaimana dengan cedera otaknya? Benarkah tidak ada dampak yang serius? Kami berdoa agar semuanya baik-baik saja. Dan, karena beberapa pertimbangan, kami baru memeriksakan kondisi otaknya ketika  anak kami berusia 10 tahun. Menurut dokter saraf, tidak ada  tanda-tanda pernah terjadi cedera otak. Hati kami sungguh bersyukur mendengarnya.

Namun, pengalaman menanti selama hampir 10 tahun, dengan berbagai  kegalauan yang berkecamuk, mengingatkan saya akan bagaimana seorang  pengawal mengharapkan datangnya pagi. Penuh ketegangan dan harus selalu waspada. Kadang jiwa ini lelah. Seolah-olah saya seorang diri  melewati "malam persoalan hidup". Tetapi, di sinilah saya belajar untuk selalu mengharapkan Tuhan.

Tumpukan kertas kerja yang menggunung, rekan kerja yang menusuk dari  belakang, pasangan hidup yang tidak menjalankan janji pernikahan,  anak yang kurang taat, pelajaran di sekolah yang banyak dan sulit, diputus pacar-segudang persoalan hidup dapat meletihkan jiwa. Namun,  di manakah sauh pengharapan kita labuhkan? Tuhanlah Penolong kita.  Dia senantiasa menyertai kita dalam setiap langkah kehidupan, dan tidak meninggalkan kita ketika masalah datang melanda.  Penyertaan-Nya, itulah sumber kelegaan jiwa kita. --MW

BAIK PADA WAKTU MALAM GELAP MAUPUN SAAT FAJAR MEREKAH, TUHAN ADA, MENYERTAI KITA, DAN TIDAK BERDIAM DIRI.

Sumber : Renungan Harian

Jalan Pintas

GOYAH SAAT MENANTI (Kejadian 16:1-16)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." (Kejadian 16:2)

Menanti bukanlah kegiatan yang menyenangkan bagi kebanyakan orang. Ketika seseorang menanti, ia menghadapi ketidakpastian tentang apa  yang akan terjadi. Apalagi kalau masa penantian itu begitu lama. Tidaklah mengherankan jika ada orang yang akhirnya menyerah dan  mengambil jalan pintas.

Ini pula yang terjadi pada Abram dan Sarai dalam bacaan hari ini.  Kisah ini terjadi sekitar sebelas tahun setelah Tuhan berjanji bahwa  Abraham akan menjadi bapak bangsa yang besar. Kita tentu setuju bahwa sebelas tahun adalah periode waktu yang sangat panjang bagi  siapa pun yang sedang menanti, apalagi bagi Abram dan Sarai yang  sudah sangat tua.

Tak heran kalau kemudian, di tengah kegundahan menantikan pemenuhan  janji ini, keyakinan Abram dan Sarai goyah. Akibatnya mereka  mengambil jalan pintas untuk "membantu" Allah memenuhi janji-Nya, dan akhirnya lahirlah Ismael dari Hagar. Tetapi, kita tahu bahwa  usaha mereka ini kemudian justru mendatangkan banyak masalah bagi  mereka sendiri, bagi Hagar, dan bagi keturunan mereka.

Apakah saat ini Anda sedang menantikan pemenuhan janji Tuhan atau  jawaban dari-Nya? Mungkin itu soal buah hati, soal jodoh, soal  karier, dsb.? Jangan menyerah! Tetapi, jangan pula mengambil jalan pintas melalui cara yang tidak kudus, seperti menggunakan bantuan  ilmu klenik. Sebaliknya, pakailah waktu menanti ini untuk  mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga ketika akhirnya Tuhan menjawab penantian tersebut, Anda siap menyambutnya dengan penuh  rasa syukur. --AS

TUHAN SANGGUP UNTUK MEMENUHI JANJI-NYA; KITA TIDAK PERLU REPOT-REPOT MEMBANTU-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Allah Yang Hidup

MATAKU SENDIRI (Ayub 42:1-6)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5)

Ketika mengikuti kuliah Penginjilan Anak dalam program pascasarjana, seorang pendeta perempuan merasa tercelikkan oleh penjelasan dosen tentang karya keselamatan Kristus. Karena begitu terharu, ia sampai menangis tersedu-sedu. "Sekarang saya baru memahami hal ini dengan jelas. Mata saya seperti terbuka. Mengapa tidak ada dosen yang mengajarkan sejelas ini ketika dulu saya kuliah untuk menjadi sarjana teologi? Jadi apa yang saya pelajari selama ini? Apa yang telah saya ajarkan selama ini kepada jemaat saya?" katanya. Toh ia tetap bersyukur, akhirnya ia dapat memahami makna keselamatan melalui kematian Kristus.

Ayub orang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Ia selalu setia mempersembahkan kurban kepada Allah. Sekalipun bencana menghantamnya bertubi-tubi– segala hartanya lenyap dalam hitungan menit, sepuluh anaknya meninggal, tubuhnya dijangkiti penyakit mengerikan, istrinya merongrong imannya, para sahabat menyalahkannya–ia tetap teguh beriman. Dan, justru melalui segala kesukaran itu, ia benar-benar mengenal Allah. Sekarang ia bukan hanya mendengarkan kata orang tentang Allah. Ia mengalami perjumpaan dengan Allah secara pribadi.

Allah yang menyatakan diri dalam Alkitab bukanlah sekumpulan doktrin atau konsep. Dia sesosok Pribadi. Menjadi Kristen artinya memiliki hubungan dengan Allah yang hidup, yang dapat dialami secara nyata. Apakah Anda menaati Allah karena tradisi saja? Ataukah Anda menjalin hubungan pribadi dengan Dia? --HT

ALLAH TIDAK PERNAH JAUH DARI ORANG PERCAYA; KITALAH YANG KERAP MENGABAIKAN KEHADIRAN-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Allah Setia

ALLAH VS FIRAUN (Matius 10-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu. (Keluaran 1:12)

Dalam cerita humor, sekelompok ilmuwan mendatangi Tuhan, meminta-Nya untuk pensiun karena, berkat kemajuan teknologi, mereka  sudah bisa menciptakan kehidupan sendiri. "Oya?" kata Tuhan. "Coba kita lakukan dengan cara kuno seperti ketika Aku menciptakan Adam  dulu." Para ilmuwan itu menyanggupi, dan mulai membungkuk untuk meraup debu tanah. "Hei, tunggu dulu!" kata Tuhan. "Kalian harus  menyiapkan sendiri debu tanahnya!"

Firaun juga menantang Allah. Bukan dalam hal penciptaan, namun  dengan berupaya menggagalkan rencana Allah atas umat-Nya. Ketika  jumlah bangsa Israel makin banyak, ia menindas mereka dengan kerja paksa. Namun, ia gigit jari. Bukannya menyusut, jumlah mereka malah  makin berlipat. Ia lalu melancarkan serangan kedua: memerintahkan  para bidan membunuh bayi laki-laki yang baru dilahirkan perempuan Israel. Perintah ini ditelikung. Para bidan lebih memilih untuk  takut kepada Allah daripada kepada Firaun. Di ujung perikop, Firaun sedang melancarkan serangan ketiga. Namun, kita tahu, pada akhirnya  Firaun kalah telak.

Di dalam Kristus, Allah ada di pihak kita. Firaun melambang-kan Iblis yang hendak mencuri, membunuh, dan membinasakan umat Allah.  Syukurlah, Allah itu mahakuasa: Dia sanggup menggagalkan segala rencana Iblis. Allah juga setia: Dia tidak bakal meninggalkan  umat-Nya. Terbukti, diterpa tantangan seberat apa pun, umat-Nya terus bertumbuh. Bukankah kebenaran ini dapat membangkitkan rasa  syukur, keberanian, dan damai sejahtera pada diri kita? --AS

KEMAHAKUASAAN ALLAH MEMBERI KITA KEBERANIAN; KESETIAAN ALLAH MEMBERI KITA DAMAI SEJAHTERA.

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts