Wednesday, August 06, 2014

Kekuatan Doa

Bagaimana Orang Percaya Menghadapi Tantangan Iman
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Billy Graham, seorang penginjil yang dipakai Tuhan pada abad ke-20, pernah berkata: "Kalau kita mau menerima Kristus, tidak ada harga yang harus kita bayar karena salib Kristus sudah membayar dosa kita." Itu sebabnya agama berbeda dengan iman Kristen, karena agama adalah usaha manusia yang berdosa mencari Allah yang kudus. Tetapi iman Kristen adalah, Allah yang kudus mencari manusia yang berdosa. Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita, tetapi karena Kristus yang mengganti kita. Kita yang seharusnya binasa, disalib, dihukum, dan masuk neraka tetapi Tuhan Yesus yang mengganti itu semua.

Ketika kita menjadi pengikut Kristus, ada harga yang harus kita bayar. Bahkan kalau kita menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh, kita harus memberikan hidup kita bagi Tuhan dan akan muncul tantangan iman yang harus kita hadapi.

Gereja mula-mula juga mengalami tantangan iman, yaitu diancam. Dalam Kisah Para Rasul 4:17 disebutkan, "Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersiar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama itu." Dalam hal ini tantangan iman itu ternyata datang dari kelompok orang yang beragama. Oknum yang mengancam mereka ternyata bukan kelompok teroris, kelompok komunis, penyembah Baal; melainkan Mahkamah Agama orang Yahudi yang percaya pada Taurat namun menentang nama Yesus.

Dalam sejarah gereja, rupanya tantangan iman para reformator datang dari gereja sendiri, yaitu dibunuh atau mati syahid. Hal yang sama terjadi pada Martin Luther, sang tokoh reformator gereja, yang harus mengungsi beberapa kali karena diancam oleh gereja yang berkuasa.

Bagaimana respon gereja mula-mula ketika menghadapi tantangan iman?

1 Ada persekutuan dengan sesama yang erat

Dalam kisah 4:23 dikatakan, "Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka."

Meskipun Petrus dan Yohanes adalah rasul, namun mereka memahami bahwa saat menghadapi tantangan mereka harus membangun persekutuan. Rick Warren dalam bukunya The Purpose Driven Life mengatakan, gereja harus mempunyai lima pilar. Pertama, pilar penginjilan. Kedua, pilar penyembahan. Ketiga, pilar persekutuan. Keempat, pilar pemuridan. Kelima, pilar pelayanan. Seringkali gereja memiliki penyembahan yang luar biasa, pelatihan yang luar biasa bagus, akan tetapi semakin individualistis, terutama gereja-gereja modern. Itulah sebabnya persekutuan mulai lemah, padahal dalam Kisah Para Rasul 1:14 dikatakan bahwa "mereka semua bertekun dengan sehati." (Lihat juga kisah2:46 dan Kisah Para Rasul 4:32).

2 Membangun persekutuan dengan Tuhan melalui doa

Dalam Kisah Para Rasul 4:24-26 dikatakan, "Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya."

Kita berdoa karena kita percaya akan firman, begitu juga sebaliknya, kalau kita tidak berdoa berarti kita tidak percaya akan firman Tuhan. Jika saat ini kita sedang menghadapi tantangan dan pergumulan, jangan biarkan situasi yang mempengaruhi iman kita. Sebaliknya, biarlah kita membaca firman-Nya yang adalah ya dan amin.

Jangan pernah mengandalkan diri sendiri; kita harus mengandalkan Tuhan. Kalau kita berbisnis, jangan pernah mengandalkan orang-orang besar. Kita seharusnya belajar untuk berdoa; jika memang itu berkat Tuhan, penghalang apapun bisa Tuhan ubah menjadi jalan keluar.

Saat Paulus menghadapi tantangan, dia pun berdoa. Mengapa orang percaya selalu berdoa? Karena ada korelasi antara berdoa dan kepenuhan Roh Kudus.

Dalam Kisah Para Rasul 4:31 dikatakan, "Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani." Setiap kali orang percaya berdoa, ada kuasa Roh Kudus yang bekerja dengan luar biasa. Kalau kita punya  tantangan iman, sebaiknya kita mengambil waktu khusus selama dua atau tiga hari. Belajarlah berdiam dalam kaki Tuhan dan memohon supaya kuasa-Nya turun, karena kita percaya saat Roh Kudus bekerja, hidup kita akan berbeda. Kita menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang.

Sumber: Pdt. Amos Hosea

Aman Bersama-Nya

Dia Pegang Tanganku
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu kan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. (Mazmur 139:9-10)

Solomon Rosenberg dengan istri, dua anak laki-laki, dan orangtuanya, ditangkap oleh tentara Nazi dan dimasukkan ke kamp  konsentrasi. Di sana hanya ada satu aturan "sederhana": "Selama kamu masih bisa bekerja, kamu boleh hidup. Namun bila kamu menjadi  terlalu lemah hingga tak bisa bekerja, kamu akan dieksekusi." Tak lama, Rosenberg menyaksikan ayah-ibunya dihukum mati. Anggota  keluarga terlemah setelah mereka adalah David, si bungsu, dan ini membuat Rosenberg sangat sedih. Setiap sore, begitu mereka berkumpul  kembali di barak, mereka berpelukan dan bersyukur.

Suatu sore Rosenberg pulang dan tidak menemukan keluarganya. Setelah  mencari-cari, ia menemukan Joshua-putra sulungnya-sedang menangis di sudut. "Papa, hari ini terjadi juga. David tidak mampu bekerja, dan  tentara menangkapnya." Rosenberg bertanya, "Tapi, di mana ibumu?" Joshua menjawab sedih, "Pa, saat tentara datang, David menangis  ketakutan. Lalu Mama berkata, 'Tidak ada yang perlu ditakuti, David.' Lalu Mama menggandeng tangannya dan menemani David pergi."

Dalam Mazmur 139, Daud merayakan kemahatahuan dan kemahaadaan Allah  sebagai penghiburan besar bagi umat-Nya. Perjalanan hidup kita mungkin tak "seseram" kamp konsentrasi. Namun, tetap saja ada masa  yang begitu gelap dan berat. Terlalu menakutkan bila harus kita hadapi sendiri. Kadang keluarga dan kerabat tak selalu ada, tetapi  Dia Mahaada. Bahkan dalam tantangan dan kesulitan terbesar pun, Bapa surgawi "akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku" (ay.10)! --Agustina Wijayani /Renungan Harian

BILA HIDUP MENJADI BEGITU MENAKUTKAN, PEGANGLAH TANGAN SANG MAHAADA DAN JANGAN LEPASKAN.

Sumber : Renungan Harian

Monday, July 28, 2014

Jalan Keselamatan

KUBURAN NOMMENSEN (Amsal 10:1-32)
Dikirim oleh : Evi Sjiani Djiun

Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk. (Amsal 10:7)

Ketika masih SMA di Sigumpar, Sumatera Utara, Pak Siregar sering membolos. Agar tidak kepergok guru atau orangtua, ia dan temannya bersembunyi sambil merokok di kuburan tak jauh dari sekolah. Kuburan itu tak lain makam Nommensen, misionaris Jerman yang dikenal sebagai Rasul Orang Batak. Membaca tulisan di nisan itu, Pak Siregar muda merenung. "Untuk apa orang ini datang jauh-jauh dari Jerman untuk mati di sini?"

Pertanyaan itu tersimpan di benaknya hingga bertahun-tahun. Ketika kuliah, seseorang memberitakan Injil kepadanya, dan ia bertobat. Saat itulah ia benar-benar mengerti alasan kedatangan Nommensen, yaitu untuk memberitakan Kristus, karena hanya Dialah jalan keselamatan. Arah hidupnya pun berubah. Sekarang, Pak Siregar telah melayani selama belasan tahun sebagai pemberita Injil yang berani.

Kitab Amsal memuat berbagai nasihat, petuah, atau panduan untuk hidup secara sejahtera. Pasal ini merupakan kumpulan nasihat Salomo. Ia antara lain berbicara tentang kenangan yang muncul saat kita mendengar nama tertentu. Terdapat kontras yang tajam antara mengingat nama orang benar dan nama orang fasik (jahat). Warisan orang benar-teladan, gaya hidup, nasihat, iman, dll.-masih dapat memberkati seseorang sekalipun ia sudah tiada. Hal itu dapat menginspirasi orang lain agar menjadi pribadi yang lebih baik. Marilah kita setia menjalani hidup sebagai orang yang telah dibenarkan Kristus, agar dapat memberkati orang lain tiap kali mereka mengingat kita. --HT /Renungan Harian

MENJALANI HIDUP DENGAN MENJADI BERKAT AKAN MEWARISKAN KENANGAN PENUH MAKNA SETELAH KITA TIADA.

Sumber : Renungan Harian

Penolakan

Menerima Keadaan Diri
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:39)

Thomas Alva Edison sejak kecil memiliki pendengaran yang kurang. Berulangkali ia dimarahi oleh guru karena datang terlambat dan tidak bisa mendengar dengan baik. Namun begitu, orangtuanya terus mendukung dan menolongnya sampai anak ini tumbuh dengan kepercayaan diri yang kuat.

Suatu hari Thomas Alva Edison mencoba menyelidiki sejenis serat yang dapat dialiri listrik. Sekali gagal, dua kali gagal, tiga kali gagal, empat kali mengecewakan. Tapi, dia tidak pernah putus asa. Dengan dukungan orangtuanya, dia terus berusaha sampai menemukan sejenis serat yang dapat dialiri listrik setelah teori ketiga ribu. Bila saat ini kita bisa menikmati lampu pijar, itu karena Thomas Alva Edison. Seorang yang punya kelemahan tetapi tidak pernah menolak dirinya.

Di sekeliling kita, kita mungkin menemukan orang yang memiliki kekurangan dibandingkan yang lain – apakah itu suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, adik, paman, bibi, kakek, atau pun nenek. Satu hal yang bisa kita lakukan dan tunjukkan kepada dia adalah menerima dia apa adanya. Belajarlah bersyukur pada Tuhan dan doakan dia sebagaimana kita menerima diri kita sendiri.

Jangan menolak orang terdekat kita yang memiliki kekurangan itu. Sebab, melalui dia, Tuhan bisa saja sedang mau menunjukkan kuasa dan keajaiban-Nya kepada kita. Thomas Alva Edison adalah bukti bahwa ketika orangtuanya menerima keadaan diri anaknya sama seperti mereka menerima keadaan diri mereka, sang anak justru membawa kebanggaan tidak hanya bagi orangtuanya tetapi juga bagi Tuhan.

Mengasihi sesama manusia, baru akan dapat terwujud bila kita mengasihi diri sendiri. Bahkan jika kita sudah dapat mengasihi diri sendiri sebenarnya barulah kita dapat mengasihi Tuhan. Sebab, mustahil kita mengasihi yang tidak kelihatan tanpa kita bisa mengasihi yang kelihatan.

Sumber : Disadur dari buku Pribadi Tangguh - Pendeta Yuyung Nehemia

Kelemahan

CACAT (2 Samuel 14:25-30)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Di seluruh Israel tidak ada yang begitu banyak dipuji kecantikannya seperti Absalom. Dari telapak kakinya sampai ujung kepalanya tidak ada cacat padanya. (2 Samuel 14:25)

Hirotada Ototake, pemuda Jepang yang lahir tanpa kaki dan tangan. Berbudi luhur. Bertekad baja. Dengan perjuangan keras, ia mampu hidup mandiri di atas kursi rodanya. Ia bekerja sebagai guru Sekolah Dasar yang kreatif dan disukai para murid. Kehidupannya diangkat ke dalam novel dan film. Salah satu prinsip hidupnya, "Kecacatan itu lumrah, seperti suatu kekurangan; semua orang memilikinya, hanya yang satu terlihat lebih mencolok daripada yang lain."

Alkitab mencatat seorang pemuda yang secara jasmani tampak begitu sempurna. Itulah Absalom, salah seorang putra raja Daud. Bila ditakar penampilannya secara fisik, tak ada kekurangan padanya. Tetapi, kitab Samuel mengisahkan karakternya yang buruk dan kehidupannya yang tragis. Membunuh saudaranya. Pandai memanipulasi orang. Mengkhianati ayahnya. Melaksanakan kudeta yang gagal. Mati dalam kondisi leher tersangkut di dahan pohon lalu dadanya tertikam tiga bilah lembing. Ia punya kecacatan karakter yang serius. Hanya masalahnya: tak terlihat.

Kita dapat melihat banyak orang yang menderita cacat tubuh, kondisi jasmani mereka sudah tidak dapat diperbaiki, namun berprestasi menonjol dan berbudi luhur, mungkin malah lebih unggul dari "orang normal". Orang seperti itu tentu patut kita dukung. Sebaliknya, kita perlu waspada terhadap "cacat rohani". Syukurlah, cacat ini dapat diperbaiki-dengan beriman pada Kristus dan menyambut penebusan-Nya. Maukah kita merendahkan diri untuk memperoleh pemulihan-Nya? --PA /Renungan Harian

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts

Flash Labels by NBT