Monday, July 28, 2014

Jalan Keselamatan

KUBURAN NOMMENSEN (Amsal 10:1-32)
Dikirim oleh : Evi Sjiani Djiun

Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk. (Amsal 10:7)

Ketika masih SMA di Sigumpar, Sumatera Utara, Pak Siregar sering membolos. Agar tidak kepergok guru atau orangtua, ia dan temannya bersembunyi sambil merokok di kuburan tak jauh dari sekolah. Kuburan itu tak lain makam Nommensen, misionaris Jerman yang dikenal sebagai Rasul Orang Batak. Membaca tulisan di nisan itu, Pak Siregar muda merenung. "Untuk apa orang ini datang jauh-jauh dari Jerman untuk mati di sini?"

Pertanyaan itu tersimpan di benaknya hingga bertahun-tahun. Ketika kuliah, seseorang memberitakan Injil kepadanya, dan ia bertobat. Saat itulah ia benar-benar mengerti alasan kedatangan Nommensen, yaitu untuk memberitakan Kristus, karena hanya Dialah jalan keselamatan. Arah hidupnya pun berubah. Sekarang, Pak Siregar telah melayani selama belasan tahun sebagai pemberita Injil yang berani.

Kitab Amsal memuat berbagai nasihat, petuah, atau panduan untuk hidup secara sejahtera. Pasal ini merupakan kumpulan nasihat Salomo. Ia antara lain berbicara tentang kenangan yang muncul saat kita mendengar nama tertentu. Terdapat kontras yang tajam antara mengingat nama orang benar dan nama orang fasik (jahat). Warisan orang benar-teladan, gaya hidup, nasihat, iman, dll.-masih dapat memberkati seseorang sekalipun ia sudah tiada. Hal itu dapat menginspirasi orang lain agar menjadi pribadi yang lebih baik. Marilah kita setia menjalani hidup sebagai orang yang telah dibenarkan Kristus, agar dapat memberkati orang lain tiap kali mereka mengingat kita. --HT /Renungan Harian

MENJALANI HIDUP DENGAN MENJADI BERKAT AKAN MEWARISKAN KENANGAN PENUH MAKNA SETELAH KITA TIADA.

Sumber : Renungan Harian

Penolakan

Menerima Keadaan Diri
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:39)

Thomas Alva Edison sejak kecil memiliki pendengaran yang kurang. Berulangkali ia dimarahi oleh guru karena datang terlambat dan tidak bisa mendengar dengan baik. Namun begitu, orangtuanya terus mendukung dan menolongnya sampai anak ini tumbuh dengan kepercayaan diri yang kuat.

Suatu hari Thomas Alva Edison mencoba menyelidiki sejenis serat yang dapat dialiri listrik. Sekali gagal, dua kali gagal, tiga kali gagal, empat kali mengecewakan. Tapi, dia tidak pernah putus asa. Dengan dukungan orangtuanya, dia terus berusaha sampai menemukan sejenis serat yang dapat dialiri listrik setelah teori ketiga ribu. Bila saat ini kita bisa menikmati lampu pijar, itu karena Thomas Alva Edison. Seorang yang punya kelemahan tetapi tidak pernah menolak dirinya.

Di sekeliling kita, kita mungkin menemukan orang yang memiliki kekurangan dibandingkan yang lain – apakah itu suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, adik, paman, bibi, kakek, atau pun nenek. Satu hal yang bisa kita lakukan dan tunjukkan kepada dia adalah menerima dia apa adanya. Belajarlah bersyukur pada Tuhan dan doakan dia sebagaimana kita menerima diri kita sendiri.

Jangan menolak orang terdekat kita yang memiliki kekurangan itu. Sebab, melalui dia, Tuhan bisa saja sedang mau menunjukkan kuasa dan keajaiban-Nya kepada kita. Thomas Alva Edison adalah bukti bahwa ketika orangtuanya menerima keadaan diri anaknya sama seperti mereka menerima keadaan diri mereka, sang anak justru membawa kebanggaan tidak hanya bagi orangtuanya tetapi juga bagi Tuhan.

Mengasihi sesama manusia, baru akan dapat terwujud bila kita mengasihi diri sendiri. Bahkan jika kita sudah dapat mengasihi diri sendiri sebenarnya barulah kita dapat mengasihi Tuhan. Sebab, mustahil kita mengasihi yang tidak kelihatan tanpa kita bisa mengasihi yang kelihatan.

Sumber : Disadur dari buku Pribadi Tangguh - Pendeta Yuyung Nehemia

Kelemahan

CACAT (2 Samuel 14:25-30)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Di seluruh Israel tidak ada yang begitu banyak dipuji kecantikannya seperti Absalom. Dari telapak kakinya sampai ujung kepalanya tidak ada cacat padanya. (2 Samuel 14:25)

Hirotada Ototake, pemuda Jepang yang lahir tanpa kaki dan tangan. Berbudi luhur. Bertekad baja. Dengan perjuangan keras, ia mampu hidup mandiri di atas kursi rodanya. Ia bekerja sebagai guru Sekolah Dasar yang kreatif dan disukai para murid. Kehidupannya diangkat ke dalam novel dan film. Salah satu prinsip hidupnya, "Kecacatan itu lumrah, seperti suatu kekurangan; semua orang memilikinya, hanya yang satu terlihat lebih mencolok daripada yang lain."

Alkitab mencatat seorang pemuda yang secara jasmani tampak begitu sempurna. Itulah Absalom, salah seorang putra raja Daud. Bila ditakar penampilannya secara fisik, tak ada kekurangan padanya. Tetapi, kitab Samuel mengisahkan karakternya yang buruk dan kehidupannya yang tragis. Membunuh saudaranya. Pandai memanipulasi orang. Mengkhianati ayahnya. Melaksanakan kudeta yang gagal. Mati dalam kondisi leher tersangkut di dahan pohon lalu dadanya tertikam tiga bilah lembing. Ia punya kecacatan karakter yang serius. Hanya masalahnya: tak terlihat.

Kita dapat melihat banyak orang yang menderita cacat tubuh, kondisi jasmani mereka sudah tidak dapat diperbaiki, namun berprestasi menonjol dan berbudi luhur, mungkin malah lebih unggul dari "orang normal". Orang seperti itu tentu patut kita dukung. Sebaliknya, kita perlu waspada terhadap "cacat rohani". Syukurlah, cacat ini dapat diperbaiki-dengan beriman pada Kristus dan menyambut penebusan-Nya. Maukah kita merendahkan diri untuk memperoleh pemulihan-Nya? --PA /Renungan Harian

Sumber : Renungan Harian

Kegagalan

MELUPAKAN MASA LALU (Filipi 3:1b-16)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. (Filipi 3:13)

Winston Churchill adalah sosok perdana menteri yang menjalankan kepemimpinan penuh inspirasi bagi Inggris selama Perang Dunia II dan sesudahnya. Namun, siapa yang tahu bahwa seorang kapten bernama Winston Churchill pernah melakukan kesalahan pada Perang Dunia I sehingga ia dianggap "gagal" dan karier militernya habis. Jika Churchill hanya duduk dan merenungkan kegagalan masa lalu, besar kemungkinan kita tidak akan pernah mendengar tentang kiprahnya. Ia melupakan masa lalu dan belajar dari kegagalan.

Tokoh bacaan kita, Paulus, juga berhasil melupakan masa lalu. Ia adalah seseorang dengan masa lalu yang kelam sebagai pengikut Kristus-meskipun dari sudut agama Yahudi, "prestasinya" luar biasa. Ia punya alasan untuk berkutat dan terikat dengan masa lalunya. Bagaimana tidak, ia dapat dikatakan menjadi aktor intelektual di balik penganiayaan umat Allah, ia hadir ketika Stefanus dibunuh. Namun, ia punya titik balik ketika ia berkata: "...tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku." Dia memusatkan perhatian pada masa depan.

Sepanjang sejarah, hanya Kristus yang tidak pernah berbuat dosa. Sedangkan kita, bahkan keseharian kita dipenuhi kegagalan dan kejatuhan. Namun, itu tidak bisa menjadi alasan untuk membuat kita tetap tergeletak. Mohonlah anugerah Tuhan, supaya kita mengalami titik balik, yaitu ketika kita, dengan kerendahan hati bertobat dan "mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku." --DK/Renungan Harian

ENTAH BERAPA KALI KITA PERNAH GAGAL DAN JATUH. OLEH ANUGERAH TUHAN, KITA MAMPU BANGKIT DAN MENJADI TANGGUH.

Sumber : Renungan Harian

Monday, June 30, 2014

Kekuatan Lain

MERASA AMAN (1 Tawarikh 21:1-17)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel. (1 Tawarikh 21:7)

Sepintas kita menganggap tindakan Daud menghitung jumlah rakyatnya adalah hal yang wajar. Ternyata, tidak bagi Tuhan! Dia memandang tindakan Daud ini jahat. Di pasal-pasal sebelumnya, Daud dan tentaranya menghadapi banyak pertempuran dan ancaman dari musuh. Kondisi ini mendorong Daud untuk mengetahui seberapa besar kekuatan yang ia miliki. Sensus pun dilakukan dan ia mendapati satu juta orang lebih rakyatnya mampu berperang. Cukup besar untuk menghalau musuh.

Mengapa Tuhan memandang jahat tindakan Daud? Rupa kekuatan perang yang besar itu membuat Daud merasa aman. Bukankah sering terjadi, ketika seseorang merasa cukup aman dan nyaman dengan kekuatannya, bisa jadi ia tidak lagi mengandalkan Tuhan? Dosa Daud adalah mengandalkan angka atau jumlah pasukan. Ia mengandalkan kekuatan tempur prajurit Israel. Dan Daud pun harus menghadapi pendisiplinan Tuhan: sebuah pilihan untuk memusnahkan semua kebanggaan itu. Tentu saja disiplin ini diberlakukan agar Daud hanya bergantung pada dan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Kita merasa aman ketika sumber daya yang kita miliki kita rasa cukup. Akan tetapi, ada saatnya kita menyadari, sumber daya itu tidak lagi memadai. Kadang-kadang Tuhan perlu mendisiplinkan kita dengan memusnahkan sumber daya yang menjadi andalan kita dan yang membuat kita merasa aman. Dengan itu, kita diingatkan dan disadarkan bahwa tidak ada satu pun kekuatan di bumi ini yang dapat memberi rasa aman selain Tuhan. --SYS

KETIKA SUMBER DAYA ANDALAN HANCUR, ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN TIDAK AKAN KEHILANGAN RASA AMAN.

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts

Flash Labels by NBT