Tuesday, December 30, 2014

Kenal Baik

BEREAKSI POSITIF (Kejadian 12:1-9)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. (Kejadian 12:4)

Setahun silam salah satu sahabat saya yang merintis usaha sebagai agen asuransi menawari saya untuk ikut polisnya. Karena mengenal baik dirinya, saya pun bersedia. Sebelum itu sebetulnya sudah ada beberapa agen dengan polis yang sama menawari, namun saya tolak karena tidak percaya mereka. Kepada sahabat, saya bereaksi positif karena saya percaya kepadanya.

Dalam cerita Abram dipanggil Allah, Tuhan menjanjikan satu negeri kepadanya dan akan membuatnya menjadi bangsa yang besar, memberkatinya, membuat namanya masyhur, dan menjadi berkat (ay. 2). Abram tidak mengajukan syarat atau usul tertentu, ia percaya. Bukti kepercayaannya adalah menyediakan diri dan membiarkan dirinya dipakai Tuhan untuk rencana-Nya yang besar, dengan pergi seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya (ay. 4). Abram tidak bersikap pasif, namun ia bereaksi secara positif. Meski usianya sudah senja, hal itu tidak menjadi alasan bagi Abram untuk bersantai-santai atau membantah perintah Tuhan untuk pergi.

Kita dikatakan beriman saat tunduk kepada perintah Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh percaya pada Dia, pasti kita tanpa ragu menuruti kehendak-Nya meskipun hasilnya mungkin tidak sesuai dengan keinginan daging kita. Kalau kita percaya kepada manusia yang tidak sempurna, mau menuruti ucapannya karena mereka atasan atau orang yang kita percayai, seharusnya kita sangat percaya kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan bukan di bibir saja, namun dibuktikan dengan reaksi yang positif terhadap perintah-Nya. --RTG /Renungan Harian

ORANG YANG BERIMAN KEPADA TUHAN PASTI AKAN BEREAKSI SECARA POSITIF TERHADAP PERINTAH-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Fungsi Doa

SERBA SAYA (Matius 6:7-13)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Matius 6:8)

Meskipun memalukan, namun jujur, jika dicermati, saya lebih sering berdoa untuk mendapatkan berkat-Nya, bukan karena ingin bercakap-cakap dan bergaul akrab dengan-Nya. Isinya cenderung berkisar pada kepentingan saya: diri saya, keluarga saya, pekerjaan saya, masalah saya, rezeki saya-semuanya berfokus pada saya. Kalaupun saya berdoa untuk orang lain, mereka tidak lain orang-orang yang ada dalam lingkaran jejaring dan kepentingan saya.

Karena penasaran, akhirnya saya meneliti lagi doa yang diajarkan Tuhan Yesus. Ternyata, urusan saya, yang diwakili oleh makanan sebagai pemenuhan kebutuhan pokok fisik, hanya diungkapkan dalam satu ayat (ay. 11). Sebagian besar lainnya, dituangkan dalam empat ayat, berupa puji-pujian dan permohonan agar kehendak-Nya terwujud di dunia ini (ay. 9-10), dan permohonan agar hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama dipulihkan (ay. 11), dan permohonan agar kita dilindungi dari pencobaan Iblis (ay. 12). Sebuah doa yang tidak menonjolkan kepentingan diri sendiri, melainkan mengutamakan kepentingan Kerajaan Allah. Sangat berbeda dari fokus doa saya selama ini!

Saya pun terdorong untuk mengubah arah doa saya: sedapat mungkin tidak berfokus pada masalah dan kepentingan pribadi saya, namun lebih mengutamakan percakapan akrab dengan Tuhan, menikmati hadirat-Nya, sambil bersyafaat bagi orang lain. Tentang kebutuhan sehari-hari saya, bukankah Dia sudah tahu sebelumnya (lihat 6:8, 32b)? Waktu doa saya menjadi sebuah persekutuan yang menyenangkan dengan Dia. --HS/Renungan Harian

DOA ADALAH SARANA UNTUK BERGAUL AKRAB DENGAN TUHAN, BUKAN "KARTU ATM" UNTUK MENARIK BERKAT-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Pengganggu

Racun Pikiran

Kali ini penulis ingin mengajak Anda sekalian untuk merenungkan perkataan "Racun". Apakah "Racun" itu? Apa yang terlintas dalam pikiran Anda saat Anda mendengar perkataan "Racun"? Apakah Anda dengan segera memikirkan racun untuk membunuh tikus? Ataukah Anda lebih memikirkan tentang lingkungan sehat, sehingga Anda berpikir tentang limbah yang beracun? Atau udara yang beracun karena telah terkontaminasi dengan zat-zat kimia - terpolusi? Atau Anda berpikir tentang persahabatan yang diracuni oleh perkataan yang beracun? Dalam hal ini orang-orang tertentu dapat merupakan "Racun" melalui perkataan-perkataan yang diucapkannya yang bersifat membakar, mengadu domba, memecah belah, dan sebagainya. Apakah Anda juga berpikir tentang racun pikiran, yaitu pikiran-pikiran yang dipenuhi dengan pikiran negatif, yang dapat muncul sewaktu-waktu dan meracuni pikiran sehat Anda? Tindakan apakah yang selama ini Anda ambil untuk menetralisasikan pikiran beracun tersebut?

Sudah barang tentu Penulis tidak dapat menuliskan satu persatu semua racun pikiran yang ada, namun demikian Penulis teringat akan nasehat Rasul Paulus yang tertulis dalam Filipi 4:6 (TB), "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."  Kuatir adalah racun yang dapat melumpuhkan seseorang untuk mencapai apa yang seharusnya dapat dicapainya. Kuatir mempunyai kemampuan untuk mengarahkan sudut pandang orang kepada apa yang sedang dikuatirkannya. Dengan demikian orang tersebut akan diam dalam penjara kekuatiran selama ia ingini dan hanya dia pula yang dapat melepaskan dirinya dari penjara kekuatiran tersebut. Kuatir itu bagaikan raksasa yang menghalangi orang untuk dapat bergerak dimana kemampuan orang tersebut untuk berbuah dilumpuhkan, sehingga pada akhirnya orang tersebut akan diam ditempat tanpa berbuah. Hal ini sangat meletihkan.

Pikiran negatif, mereka-reka hal-hal negatif yang akan terjadi, masukan negatif dari orang-orang dilingkungan dimana Anda berada, juga merupakan racun pikiran, jika pikiran negatif tersebut merasuki pola berpikir yang sehat, maka perilaku orang tersebut akan berada dibawah kontrol pola pikiran negatif tersebut dan yang bersangkutan akan mengambil tindakan sesuai dengan alam pikiran negatif tersebut.   

II Samuel 10:3 (TB) misalnya memberikan contoh yang baik tentang memasukkan pikiran negatif kedalam alam pikiran orang lain, berkatalah pemuka-pemuka bani Amon itu kepada Hanun, tuan mereka: "Apakah menurut anggapanmu Daud hendak menghormati ayahmu, karena ia telah mengutus kepadamu orang-orang yang menyampaikan pesan turut berdukacita? Bukankah dengan maksud untuk menyelidik kota ini, untuk mengintainya dan menghancurkannya maka Daud mengutus pegawai-pegawainya itu kepadamu?"

Kejadian 4:6-7 (TB) juga merincikan tentang pola pikiran negatif, 6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. Dari kedua contoh diatas ini, kita mengetahui bahwa masing-masing mengambil tindakan sesuai dengan pola berpikir mereka yang negatif dan pikiran negatif tersebut membuahkan sebuah tragedi. Empat puluh ribu tujuh ratus orang gugur dalam pertempuran (II Samuel 10:18) dan Habel kehilangan nyawanya karena Kain menuruti hawa nafsu pikiran negatifnya (Kejadian 4:8).

Adakah sesuatu racun yang meracuni alam pikiran Anda yang dapat merusak rumah tangga Anda berdua? Adakah prasangka buruk yang merupakan racun yang mematikan yang masuk dalam alam pikiran Anda tentang pasangan hidup Anda? Apakah Anda menterjemahkan setiap perkataan atau perilaku pasangan hidup Anda secara negatif? Apakah Anda secara terus menerus mencurigai pasangan hidup Anda jika ia berbicara dengan teman lawan jenisnya? Bukankah semuanya ini merupakan racun yang dapat merusak dan mematikan kebahagiaan rumah tangga Anda berdua?

Apakah Anda sadar bahwa pasangan hidup Anda memilih Anda diantara sekian banyak wanita / pria, bukankah hal ini berarti ia mencintai Anda? Jika pernikahan Anda telah dikuduskan dihadapan Tuhan dan Anda mempercayai pasangan hidup Anda sepenuhnya, bukankah prilakunya sangat terbuka dihadapan Tuhan? Perlukah Anda mencurigai pasangan hidup Anda dengan pikiran-pikiran negatif yang meracuni pikiran Anda secara terus menerus? Apakah pikiran-pikiran negatif Anda dapat menghalangi pasangan hidup Anda untuk meninggalkan Anda jika itu merupakan pilihannya? Bukankah mengasihi itu merupakan sebuah pilihan?  Kecuali Tuhan membangun rumah tangga Anda, usaha Anda untuk membangunnya akan sia-sia (lihat Mazmur 127:1 ).

Penulis mengajak para pembaca sekalian untuk mengambil tindakan membuang semua racun-racun pikiran yang meracuni pikiran Anda dan menggantikannya dengan semua pikiran yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar dan semua yang baik yang telah Anda pelajari, terima dan lihat, lakukanlah itu semuanya. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai Anda sekalian dan membuat Anda berhasil dalam segala hal yang Anda kerjakan (Bandingkan dengan Filipi 4:8-9). Semoga bermanfaat dan boleh menjadi berkat.

Penulis
Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD
Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

Jaga Hati

KETAMAKAN KAIN (Kejadian 4:1-16)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

... hati Kain menjadi sangat panas dan mukanya muram. (Kejadian 4:5)

Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, ketamakan bukan lagi sebuah sikap, tetapi menjadi sifat. Tak seorang pun keturunan Adam yang dilahirkan tanpa dosa. Sifat tamak itu pun bercokol dan menjadi potensi dalam hati manusia-yang siap dibuahi.

Ketika persembahan Kain ditolak Tuhan, sedangkan persembahan Habel-adiknya-diterima Tuhan, Kain menjadi panas hati. Ia tidak mau datang dengan rendah hati kepada Tuhan dan bertanya, "Tuhan, apa yang harus aku perbaiki, agar Engkau berkenan menerima persembahanku?" Kain malah membiarkan hatinya dikuasai iri dan dengki. Dengan sikapnya yang tamak, bahkan Kain mengatur siasat jahat untuk merenggut nyawa adiknya-yang bukan menjadi haknya. Ketamakan membangkitkan perasaan iri hati yang amat mendalam. Tuhan sudah memperingatkannya dengan lembut (ay. 6-7), tetapi ketamakan tetap membuat Kain tega menyingkirkan adiknya sendiri. Sebagai kakak yang lebih tua, ia seharusnya wajib menjaga dan menolong adiknya. Ketamakan membutakannya-semata-mata agar ia tak lagi memiliki saingan yang bisa mengungguli dirinya.

Akan tetapi, ketamakan tidak akan berhenti saat seseorang sudah menyingkirkan saingannya. Lebih parah lagi, ketamakan bisa membuatnya mengingkari tanggung jawab kemanusiaannya di hadapan Sang Khalik. Perhatikan bagaimana Kain berkata: "Akukah penjaga adikku?" (ay. 9). Waspadalah dan bersandarlah kepada Tuhan. Jangan sampai sifat manusia lama itu kembali menguasai kita. --S /Renungan Harian

SIFAT TAMAK MELAHIRKAN IRI HATI DAN KEKEJIAN, YANG BERUJUNG PADA PENGINGKARAN KEMANUSIAAN KITA.

Sumber : Renungan Harian

Ambisi Berlebihan

PENYALAHGUNAAN KUASA (1 Raja-raja 21:1-24)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Kata Izebel, isterinya, kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? (1 Raja-raja 21:7a)

Kekuasaan. Didambakan oleh banyak orang. Orang berjuang, saling  berebut, dan saling menjatuhkan demi memperoleh kekuasaan, berapa  pun biayanya. Mereka rela mengeluarkan banyak uang, tenaga, dan waktu, menggunakan cara-cara curang. Tidak jarang orang minta  pertolongan orang pintar, paranormal, atau menjalani ritual gaib. Mengapa? Karena orang beranggapan bahwa dengan memegang kuasa ia  akan berhak bertindak apa saja tanpa ada yang mengalang-alangi.

Seperti itu juga pendapat Izebel ketika suaminya, Ahab, ingin  memiliki kebun anggur Nabot, namun si pemilik kebun tidak mau  menyerahkannya. Ia berkata, "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel?" (ay. 7a). Dengan kekuasaan suaminya, dengan  licik dan keji, ia merencanakan dan memerintahkan pembunuhan atas  Nabot demi memuaskan nafsu serakah sang suami (ay. 11-13). Pada awalnya semua itu berjalan mulus dan tidak menimbulkan dampak  apa-apa. Akan tetapi, Allah yang Maha Melihat tidak tinggal diam.  Nasib tragis menanti Izebel. Menurut firman Tuhan, anjing akan  memakan Izebel di tembok luar Yizreel (ay. 23).

Banyak pejabat negara yang menggunakan wewenang dan kekuasaannya  untuk memperkaya diri dengan korupsi. Padahal, kekuasaan yang  dimiliki setiap orang itu berasal dari Tuhan (Roma 13:4) dan seharusnya didayagunakan untuk kesejahteraan bersama. Sedikit atau  banyak, kita masing-masing juga mempunyai wewenang dan kekuasaan yang kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah, Sang  Pemberi kuasa. --DT /Renungan Harian

KEKUASAAN BUKAN UNTUK MEMUASKAN AMBISI KITA, MELAINKAN UNTUK MEMPERMULIAKAN NAMA-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts

Flash Labels by NBT