Saturday, October 18, 2014

Menerima Seutuhnya

KETEGUHAN JONI (Roma 8:18-30)
Dikirim oleh : Evi Sjiani Djiun

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Pada usia 17 tahun, Joni Eareckson Tada mengalami kecelakaan karena meloncat di pantai yang ternyata berair dangkal. Ia pun  lumpuh total. Awalnya, ia putus asa dan marah pada Tuhan. Berkat dukungan keluarga dan orang terdekat, semangatnya kembali bangkit.  Joni tetap lumpuh, tetapi pengalaman hidup dan keteguhan hatinya menginspirasi jutaaan orang. Ia banyak melukis dengan menggunakan  mulut dan melahirkan lebih dari 30 buku laris. Ia juga mendirikan "Joni and Friends", organisasi internasional bagi para tunadaksa.

Dalam mengikuti Tuhan, Rasul Paulus mengakui ada begitu banyak  penderitaan yang ia alami. Sakit penyakit, berkali-kali dianiaya dan dipenjara, ditolak, mengalami karam kapal, adalah penderitaan yang pernah menderanya. Meskipun demikian, ia berkata bahwa penderitaan  yang dialaminya tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepadanya (ay. 18). Ia juga berkata bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (ay. 28).  Semua penderitaan itu dimaknai Paulus sebagai jalan menuju kemuliaan dan kebaikan yang kelak akan diterimanya dari Allah.

Tidak mudah memahami hal buruk yang terjadi dalam hidup kita.  Alih-alih bersyukur, lebih gampang bagi kita untuk mengeluh. Allah,  Bapa kita, memahami situasi kita dan tidak akan mencelakakan kita. Firman-Nya tak pernah gagal! Dia menghendaki agar kita percaya  pada-Nya bahwa di ujung penderitaan, orang yang mengasihi-Nya akan mengalami kebaikan dan kemenangan. --Samuel Yudi S /Renungan Harian

SEKALIPUN TAMPAKNYA KITA TIDAK MELIHAT SESUATU YANG BAIK, NAMUN TUHAN TETAP MELAKSANAKAN JANJI-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Thursday, October 09, 2014

Menjadi Berharga

KEPUTUSAN LEWI (Lukas 5:27-32)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. (Lukas 5:28)

Salahkah Yesus memilih Lewi menjadi murid-Nya? Mungkin banyak orang mengira demikian. Alasannya jelas: ia pemungut cukai, orang yang membayar pemerintah Roma agar ia diberi hak untuk memungut pajak dari orang-orang Yahudi. Profesi ini dipandang sebagai tindakan menolong penjajah dan mengkhianati bangsa sendiri. Kewenangan ini pun kerap dipakai untuk memperkaya diri sendiri.

Namun, tak kalah mengejutkan adalah tanggapan Lewi terhadap panggilan Yesus tatkala ia tengah berada di kantornya. Tanpa ragu, ia meninggalkan segala sesuatu—jabatan dan uang—untuk mengikut Yesus. Sebagai perbandingan, beberapa murid Yesus lainnya adalah nelayan, yang kapan saja bisa kembali pada profesi itu, seperti yang terjadi setelah kematian Yesus. Sementara itu, tak ada kemungkinan Lewi untuk kembali ke profesi lamanya. Di kemudian hari, pengalamannya mengikut Yesus ia rekam dengan cermat melalui Injil Matius sebagai salah satu usahanya untuk menjelaskan siapa Yesus kepada orang-orang Yahudi. Ia sangat banyak mengutip Perjanjian Lama guna menunjukkan penggenapannya di dalam Yesus, supaya orang Yahudi menjadi percaya kepada Mesias.

Lewi tidak membiarkan jabatan dan harta memerangkapnya. Ia meninggalkan semua miliknya. Bagaimana sikap hati Anda tatkala Tuhan dengan jelas memanggil Anda untuk melayani Dia? Adakah hal-hal yang mengikat Anda, yang membuat Anda enggan untuk maju? Mintalah pertolongan Tuhan supaya Anda peka terhadap panggilan-Nya, kapan pun waktunya. --HT /Renungan Harian

SEGALA SESUATU MENJADI TIDAK BERHARGA DIBANDINGKAN PANGGILAN MULIA UNTUK MENGIKUT KRISTUS.

Sumber : Renungan Harian

Pilihan

TINGGAL TIGA TAHUN (2 Raja-raja 1; 2 Raja-Raja 20:1-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

"Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (2 Raja-Raja 20:3)

Apa yang akan kita lakukan jika tahu umur kita tinggal sebentar lagi? Lebih banyak berbuat baik; lebih rajin ke gereja, berdoa, membaca Alkitab; bersenang-senang mumpung masih ada waktu? Atau, bersikap masa bodoh, "Enggak kepikiran tuh. Kan masih hidup sampai sekarang. Nanti saja mikirnya"? Angelina Jolie lain lagi. Ketika tahu umurnya tinggal tiga tahun, ia membuang sejumlah bagian tubuhnya agar terhindar dari penyebaran penyakit kanker dan menyusun daftar keinginan pribadi.

Alkitab juga mencatat reaksi yang berbeda-beda ketika orang menghadapi kematian. Hari ini kita melihat reaksi dua orang yang sedang sekarat. Ahazia memilih untuk menanyakan nasibnya pada dewa Baal-Zebub (2 Raja 1), sedangkan Hizkia memutuskan untuk memohon belas kasihan Tuhan (2 Raja 20). Ahazia akhirnya mati sebelum memiliki keturunan (1:17). Adapun Hizkia, dengan bekal pemahaman akan Tuhan, memohon kemurahan-Nya, dan Tuhan menambahi usianya. Ia menggunakan masa hidup tambahan itu untuk berkarya bagi kerajaan-Nya (20:20).

Banyak orang akan panik jika tahu masa hidupnya tinggal beberapa waktu lagi. Kita mungkin terdorong memanfaatkan kesempatan yang masih ada untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan diri sendiri. Bisa juga kita tergoda untuk meratapi nasib dan mengeluh. Namun, kita memiliki pilihan yang lain: menggunakan setiap detik yang ada untuk semakin mengenal Dia dan menjadi berkat bagi sesama. Jadi, apa yang perlu kita takutkan, bahkan seandainya besok kita mati? --RMA /Renungan Harian

DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH, TIDAK ADA LAGI KETAKUTAN AKAN KEMATIAN.

Sumber : Renungan Harian

Dibersihkan

SELALU ADA HAL BAIK (Yohanes 15:1-8)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. (Yohanes 15:2)

Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, mengalami dua hal bertolak belakang. Ia sukses besar karena bukunya tercetak hingga 15  juta eksemplar. Bersamaan dengan itu, hatinya hancur karena istrinya, Kay, diserang kanker. Menyikapi dua hal ini, Rick berkata,  "Saya terbiasa berpikir bahwa hidup adalah deretan gunung dan lembah. Kita berjalan melalui saat-saat gelap, mencapai puncak  gunung, kemudian kembali lagi, begitu terus-menerus. Kini saya tidak percaya itu lagi. Hidup ini lebih seperti dua jalur kereta api yang  menyatu di ujung, dan di sepanjang waktu Anda akan menjumpai hal baik dan juga hal buruk. Sebanyak apa pun hal baik yang Anda terima,  Anda tetap akan menghadapi hal buruk yang mesti diatasi. Sebaliknya, seburuk apa pun hidup yang Anda jalani, selalu ada hal baik yang  dapat disyukuri."

Hal baik dan buruk kerap kali dapat Tuhan jadikan sarana untuk  mendisiplinkan kita. Sebagai pemilik kebun anggur, Dia menginginkan tanaman-Nya berbuah banyak (ay. 2). Untuk sampai ke tahap itu, Pemilik kebun anggur akan memotong ranting yang tak berbuah dan  membersihkan yang berbuah. Setiap kita akan mengalami proses tersebut untuk menghasilkan kualitas yang sepadan.

Tuhan mendisiplinkan kita supaya kita berbuah banyak. Situasi buruk  semestinya tidak melemahkan kita. Malah, dengan keyakinan, kita bisa berkata bahwa Tuhan tidak pernah berhenti dengan kita—terus  memproses kita. Sudahkah kita rela didisiplin oleh Allah, supayakita makin memuliakan-Nya? --SYS /Renungan Harian

BERTOBAT BERARTI MEMILIH UNTUK KEMBALI MENGIKUTI PIMPINAN ALLAH.

Sumber : Renungan Harian

Panutan

MENIRU ORANGTUA (Amsal 1:7-19)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu. (Amsal 1:8)

Robert Fulghum pernah berkata, "Jangan khawatir anak-anak tidak mendengarkan Anda. Namun, khawatirlah karena anak-anak itu memperhatikan Anda setiap saat." Orangtua harus sangat hati-hati dalam menjalani perannya sehari-hari. Ada anak yang hampir setiap saat memperhatikan, menyerap tingkah langkah orangtua, lalu menirunya.

Tuhan memercayakan tanggung jawab kepada ayah dan ibu untuk menjadi sumber didikan dan ajaran bagi anak-anak mereka (ay. 8). Ketika dilahirkan, anak belum memiliki kesanggupan memilih yang baik, keterampilan mengambil keputusan, kemampuan mengekang diri, dan hal lain yang diperlukan untuk hidup. Orangtua perlu menanamkannya pada anak hingga menjadi seperti "karangan bunga" dan kalung di "leher"—yang selalu dibawa ke mana-mana dan mengingatkan anak ketika harus menghadapi tantangan kejahatan.

Nyatanya, anak belajar paling banyak dari melihat gaya hidup orangtuanya. Dari situ, anak bisa berbicara, berjalan, bahkan menyisir—seperti orangtua yang selalu dilihatnya. Namun, anak bisa berpikir, menjalani hidup, berhubungan dengan Tuhan, seperti orangtuanya juga. Jika orangtua tak mau anak menjadi kikir, ia mesti bermurah hati. Jika tak mau anak berkata dan berpikir negatif, ia harus memandang kehidupan secara positif. Jika tak mau anak berjalan menurut akalnya sendiri, ia harus hidup mengandalkan Tuhan setiap waktu. Lebih luas, ini bukan hanya tugas orangtua. Guru sekolah, guru Sekolah Minggu, pengasuh, kerabat, juga bisa berperan. Ambillah bagian! --AW /Renungan Harian

ANAK-ANAK ADALAH PRIBADI YANG PALING MENGAMATI KITA DAN YANG PALING CEPAT MENIRUKAN GAYA HIDUP KITA.

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts

Flash Labels by NBT