Monday, March 31, 2014

Penampilan

MELIHAT LEBIH DALAM (1 Samuel 16:1-13)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. (1 Samuel 16:7)

Pada acara Britain's Got Talent 2009, seorang perempuan paruh baya menghadap dewan juri, lalu memperkenalkan diri sebagai kontestan. Ia mengaku berasal dari sebuah daerah yang tidak terlalu terkenal,  tetapi berkata bahwa dirinya telah dipersiapkan sejak lama untuk  menjadi penyanyi profesional. Melihat penampilannya yang lugu dan klaimnya yang terlalu berani, para juri hanya tersenyum. Beberapa  penonton tertawa sinis. Namun, begitu perempuan itu mulai melantunkan lagu, reaksi mereka berubah. Keraguan berganti jadi  kekaguman. Tak ada yang menyangka sosok yang sederhana itu ternyata bisa menyanyi dengan indah, dan pada babak final tampil sebagai  runner-up. Namanya Susan Boyle.

Samuel pada awalnya juga memandang sebelah mata pada Daud. Ketika  Tuhan meminta Samuel mengurapi raja yang baru, ia mengira bahwa kandidat yang pantas ialah anak Isai yang bertubuh tinggi besar,  yang cocok untuk maju berperang. Ia terkejut ketika Tuhan justru  memilih Daud, yang setiap hari menggembalakan domba. Ya, Tuhan mampu melihat lebih dalam daripada daya lihat manusia.

Kadang-kadang kita juga gagal menilai orang dengan benar. Mungkin  kita menganggap rendah orang lain berdasarkan kesan pertama yang kurang meyakinkan, padahal ia sebenarnya berpotensi besar, bahkan  mungkin lebih baik dari kita. Sepatutnya kita tidak terbiasa  buru-buru menilai seseorang dari penampilannya, namun belajar untuk sungguh-sungguh mengenal dan menghargainya dengan sebaik mungkin.  --TYS

MANUSIA SERING HANYA MELIHAT APA YANG DI DEPAN MATA, LALU TERTIPU OLEH MATANYA SENDIRI.

Sumber : Renungan Harian

Tahan Uji

KETEKUNAN SI PORTER (Roma 5:1-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Dan ketekunan menimbulkan tahan uji. (Roma 5:4, TB)

Pemuda miskin itu semula menjadi porter (pengangkut barang) hotel di Hong Kong. Suatu ketika ia dimarahi majikan gara-gara asyik mengamati mobil mewah seorang tamu sampai lalai bekerja. Teguran itu mencuatkan niatnya untuk memperbaiki nasib. Ia ingin jadi orang kaya, bahkan lebih kaya dari semua atasannya di hotel itu. Ia keluar dari pekerjaannya, memperdalam kungfu, dan mencoba peruntungan di dunia film. Ternyata, kariernya kemudian melejit dan kini kita mengenalnya sebagai aktor laga terkenal di Asia. Siapakah dia? Chow Yun Fat. Ketika ditanya, apa rahasia keberhasilannya, ia menjawab, "Ketekunan."

Ketekunan memang salah satu unsur penting untuk sukses. Ketekunan mengandung arti rajin, ulet, pantang menyerah. Orang yang "tekun" biasanya "tahan banting" atau "tahan uji" (ay. 4) saat menghadapi tantangan dan masalah hidup. Contohnya Paulus sendiri. Ketekunannya bergaul erat dengan Tuhan membuatnya "tahan uji", seperti terlihat dalam ucapannya ini, "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa" (2 Korintus 4:89). Luar biasa!

Ketekunan kita di dalam Tuhan tidak akan sia-sia. Ketekunan menghasilkan karakter "tahan uji" dan pada akhirnya membuahkan "pengharapan" bahwa kita pasti terluput dari murka-Nya (ay. 9). Jika saat ini kita tengah dirundung masalah, mari bertahan. Melalui "sekolah ketekunan", kita akan berbuah bagi-Nya. --HS

KETEKUNAN ITU PAHIT, TETAPI BUAHNYA MANIS.

Sumber : Renungan Harian

Hidup Yang Beda

KELUARGA ISTIMEWA (Kejadian 7:1-24)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. (Kejadian 7:1)

Ketika saya berjumpa dengan teman lama, hampir selalu ada  pertanyaan mengenai keluarga. Pertanyaan yang biasanya diajukan,  "Berapa anakmu? Umur berapa saja? Apakah mereka masih bersekolah atau sudah bekerja?" Bila kita memiliki keluarga yang baik, tentu  kita akan dapat bercerita dengan bangga. Namun, pernahkah Anda membayangkan bahwa Allah bisa bangga terhadap Anda dan keluarga   Anda? Andaikan hal itu terjadi, Anda dan keluarga Anda pastilah istimewa.

Hanya Nuh dan keluarganya yang diselamatkan dari bencana air bah  yang mahadahsyat. Kita mungkin bertanya, apakah istimewanya keluarga ini? Nuh menonjol dan berbeda dari orang sezamannya karena ia benar  dan tidak bercela. Nuh juga bergaul dengan Allah (6:9; 7:1). Hal ini berbeda sekali dengan keadaan dunia saat itu yang penuh dengan  kejahatan dan kekerasan (6:5, 11). Saya membayangkan bagaimana Nuh dan keluarganya menghadapi tekanan yang berat dan cemoohan karena  tidak turut serta dalam kejahatan orang-orang pada zaman itu. Mungkin saja ia harus menanggung cercaan dan pengucilan. Ia mampu  menghadapinya karena Allah memberinya kasih karunia (6:8).

Dunia yang penuh dengan kejahatan dan kekerasan mengingatkan saya  akan perkataan Yesus tentang akhir zaman. Yesus menyamakannya dengan zaman Nuh, masa ketika banyak orang terlena dalam kejahatan (Matius  24:37-39). Kita diminta waspada dan menjaga kesalehan hidup kita. Kita dapat belajar dari kisah Nuh. Oleh kasih karunia-Nya, biarlah  keluarga kita hidup secara berbeda, menjadi terang bagi keluarga lain. –HE

KASIH KARUNIA TUHAN MEMAMPUKAN KITA HIDUP SECARA BERBEDA, TIDAK TERLENA OLEH ARUS KEJAHATAN DUNIA.

Sumber : Renungan Harian

Gembala Yang Baik

PINTU (Yohanes 10:7-18)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. (Yohanes 10:9)

George Adam Smith, seorang guru Alkitab, suatu kali berkunjung ke Israel dan bercakap-cakap dengan seorang gembala. George ingin tahu apa yang dilakukan para gembala Israel terhadap domba-domba yang mereka gembalakan. Menjelang malam, ia melihat gembala menggiring domba ke sebuah gua kecil. "Apakah aman? Bukankah tidak ada pintu penutupnya?" tanya George. "Sayalah pintunya, " kata gembala itu. Dalam budaya di Timur Tengah, gembala akan berbaring di depan lubang gua sehingga tidak ada serigala atau binatang buas yang dapat masuk tanpa melalui tubuhnya.

Gembala yang baik menyerahkan nyawa bagi dombanya. Ia sendiri yang menjadi pintu agar dombanya aman dan terlindung dari serangan binatang buas. Yesus adalah guru, penginjil, dan pembuat mukjizat, namun Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang baik. Dia tidak saja memberikan nyawa-Nya, tetapi Dia juga yang menjaga dan memelihara hidup kita. Apabila Yesus sendiri yang menjadi perlindungan kita, apa yang perlu kita takutkan? Apabila si jahat hendak menyentuh kita, para domba-Nya, apakah ia sanggup melewati Sang Gembala?

Rasa aman sejati bukan terdapat di dalam deposito, properti, atau harta yang kita miliki. Itu semua tidak dapat memberikan keamanan yang sesungguhnya. Kiranya kita tenang di dalam naunganNya. Badai hidup boleh menerjang, masalah dan tantangan dapat menerpa, namun kita tetap tinggal tenang dalam lindunganNya. Ingat, Gembala kita adalah Pintu. Kita aman bersama-Nya. --HS

YESUS ADALAH PINTU YANG SEJATI, PELINDUNG DAN PEMELIHARA KAWANAN DOMBA-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Abraham Lincoln

JUJUR 6 SEN (Amsal 11:3-8)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya. (Amsal 11:6)

Honest Abe—alias Abe yang jujur—nyatanya bukan julukan kosong bagi Abraham Lincoln, presiden ke-16 Amerika Serikat. Sejak kecil ia konsisten bersikap jujur. Ibu tirinya berkomentar, "Ia tidak pernah berdusta pada saya seumur hidupnya, tidak pernah berdalih... atau mengelak untuk menghindari hukuman atau tanggung jawab lain..." Ia bersikap jujur dalam perkara kecil sekalipun, seperti ditunjukkannya ketika menjadi penjaga toko di New Salem, Illinois. Suatu petang, saat mencatat neraca keuangan, Lincoln mendapatkan bahwa ia telah memungut bayaran sekitar 6 sen lebih banyak dari seorang pelanggan. Malam itu juga, ia berjalan kaki beberapa mil ke rumah pelanggan itu untuk mengembalikan uang tersebut.

Salomo menguntai beberapa amsal tentang berkat dari kejujuran. Berjalan dalam kejujuran mendatangkan rasa aman yang kudus. Kejujuran itu seperti jalan yang, sekalipun tidak gampang untuk ditempuh, tidak akan menyesatkan. Kejujuran, dengan demikian, membebaskan dan melindungi kita. Ia membebaskan kita dari daya pikat dosa dan sistem dunia yang penuh jebakan serta melindungi kita dari ancaman kerusakan dan kebinasaan yang menyertainya.

Di negeri kita belakangan ini, kejujuran terasa begitu sulit untuk ditemukan. Sebaliknya, korupsi merajalela. Keadaan memprihatinkan ini sejatinya merupakan kesempatan bagi orang benar untuk bersinar. Di tengah kegelapan korupsi, biarlah kita menjalankan pekerjaan, termasuk pekerjaan yang tampak remeh sekalipun, dengan penuh kejujuran. --Arie Saptaji /Renungan Harian

KETIKA KITA HIDUP DALAM KEJUJURAN, KEJUJURAN AKAN MEMBELA DAN MELINDUNGI KITA.

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts

Flash Labels by NBT