Monday, November 03, 2014

Bersama Dia

Pentingnya Saat Teduh
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Yesus perlu menghabiskan waktu sendirian bersama Bapa-Nya. Lukas 5:16 berkata, "... Akan tetapi, Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa." Lukas 5:15 menjelaskan bahwa ketenaran Yesus sudah menyebar dan kesuksesan pelayanan-Nya mendorong-Nya untuk menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan Tuhan.

Di tengah-tengah pelayanan yang semakin sibuk, Dia memisahkan diri dari orang banyak untuk bersaat teduh. Markus 1:35 berkata, "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana." Sebelum kesibukan dari hari-Nya dimulai, Yesus menghabiskan waktu dengan Bapa.

Ralph Neighbour Jr pernah menyatakan, "Jika Anda harus memilih antara berdoa dan melakukan, pilihlah untuk berdoa. Anda akan mendapatkan lebih banyak, dan kemudian mencapai lebih dengan apa yang Anda lakukan karena memang Anda sudah menerimanya!"

Pola saat teduh dari sebagian tokoh kekristenan yang luar biasa dicatatkan dengan baik oleh orang-orang yang hidup setelahnya. Para ahli sejarah memberi tahu bahwa John Welch menghabiskan tujuh sampai delapan jam setiap hari dalam doa-doa rahasianya. J.O Frasier, seorang misionari ke suku Lisus di China bagian barat, menghabiskan setengah harinya untuk berdoa dan setengah harinya untuk menginjil.

Apa yang diteladankan oleh tokoh-tokoh kekristenan di atas bukan suatu patokan yang harus diikuti saat Anda mau memulai saat teduh. Pasalnya, Tuhan sendiri lah yang akan mengungkapkan berapa banyak waktu yang ingin Dia habiskan bersama Anda setiap hari.

Pertanyaan sekarang, sudahkah Anda memiliki saat teduh yang berkualitas setiap hari dengan-Nya? Jika Anda mau hidup sukses dalam jalan-Nya maka Anda tidak boleh melewatkan waktu khusus bersama-Nya ini di dalam kehidupan Anda.

Sumber: Ledakan Kelompok Sel - Joel Comiskey / bm

Friday, October 31, 2014

Reaksi Beda

MENEGUR DALAM KASIH (2 Korintus 2:5-11)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa karena kesedihan yang terlampau berat. (2 Korintus 2:7)

Di media sosial sempat beredar cerita tentang seorang anak yang bertugas menolong sang pastur dalam ibadah ekaristi (perjamuan kudus). Secara tidak sengaja si anak menumpahkan minuman anggur yang dibawanya. Dalam emosinya, sang pastur memukul si anak dan mengusirnya keluar dari gereja. Anak itu kemudian meninggalkan kekristenan dan menjadi seorang ateis (tidak percaya akan keberadaan Tuhan). Anak itu tidak lain adalah Josip Broz Tito, yang setelah besar menjadi pendiri dan pemimpin besar negara komunis, Yugoslavia.

Alkitab mengajarkan bahwa seseorang yang bersalah memang harus ditegur dan kalau perlu dihukum, supaya orang tersebut menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi. Tapi, Alkitab juga mengingatkan bahwa teguran ini harus didasari oleh kasih dan tidak dilakukan secara berlebihan, baik dalam hal keras maupun lamanya hukuman. Selanjutnya, orang tersebut harus segera diampuni dan dihibur. Dalam bahasa aslinya, kata "dihibur" mengandung makna memberikan semangat, menguatkan, dan menasihati. Dengan kata lain, hendaklah orang itu tidak sampai merasa dibuang dan tidak lagi dikasihi, supaya orang itu dapat segera bangkit dan berubah.

Melanjutkan kisah di atas, di tempat lain terjadi peristiwa yang sama. Tapi si pastur memeluk si anak yang ketakutan, mengampuni, dan menghiburnya. Anak itu konon adalah Fulton Sheen, seorang uskup di Amerika Serikat. Suatu teladan prinsip menegur dalam kasih yang indah dan praktis. Teladan yang mana yang kita ikuti dalam hidup kita? --AS /Renungan Harian

TEGURLAH ORANG YANG BERSALAH SUPAYA IA SADAR AKAN KESALAHANNYA, AMPUNI DAN HIBURKANLAH IA DALAM KASIH SUPAYA IA BISA BERUBAH.

Sumber : Renungan Harian

Memaksa Tuhan

DOA ITU MENGUBAHKAN (Lukas 22:39-46)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi. (Lukas 22:42)

Ketika bergumul dengan kanker tulang, pada saat-saat terakhir hidupnya teman saya menulis, "Saya percaya doa tidak selalu mampu mengubah keadaan, tapi mampu mengubah cara pandang saya. Saya percaya doa tidak mampu mengembalikan mereka yang saya cintai, tapi mampu memberikan kebahagian bagi mereka. Saya percaya doa tidak selalu mampu memperbaiki hati yang hancur, tapi mampu mengubahnya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan. Dan, saya percaya doa tidak selalu mampu mewujudkan keinginan saya, tapi mampu mengubahnya menjadi keinginan-Nya."

Yesus sebagai manusia mengalami pergumulan seperti kita. Ketakutan hebat menyelimuti-Nya pada akhir hidup-Nya hingga Dia makin sungguh-sungguh berdoa (ay. 44). Yesus menyadari beratnya penderitaan yang harus Dia pikul. Dalam doa-Nya, Yesus pun berharap agar Bapa-Nya, jika berkenan, mengambil cawan derita itu dari hidup-Nya. Sekalipun doa itu tidak dapat mengubah jalan hidup-Nya, namun Yesus percaya bahwa Bapa mampu mampu mengubah peristiwa itu menjadi sumber kekuatan dan penghiburan. Dia pun memilih taat, mengikuti kehendak Bapa-Nya (ay. 42).

Tuhan akan selalu mendengarkan doa kita, namun Dia tidak akan selalu mengabulkan permintaan kita. Namun, sekalipun kita tidak menerima apa yang kita minta, doa itu dapat mengubah sikap hati kita. Apakah keinginan hati kita lebih kuat sehingga kita terus "memaksa Tuhan" untuk memenuhi keinginan kita atau, sebaliknya, kita memilih untuk taat dan mengikuti keinginan hati-Nya? --SYS /Renungan Harian

DOA BUKANLAH SARANA UNTUK MEWUJUDKAN KEINGINAN HATI KITA, MELAINKAN UNTUK MENGAMINI KEINGINAN HATI TUHAN.

Sumber : Renungan Harian

Saturday, October 18, 2014

Menerima Seutuhnya

KETEGUHAN JONI (Roma 8:18-30)
Dikirim oleh : Evi Sjiani Djiun

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Pada usia 17 tahun, Joni Eareckson Tada mengalami kecelakaan karena meloncat di pantai yang ternyata berair dangkal. Ia pun  lumpuh total. Awalnya, ia putus asa dan marah pada Tuhan. Berkat dukungan keluarga dan orang terdekat, semangatnya kembali bangkit.  Joni tetap lumpuh, tetapi pengalaman hidup dan keteguhan hatinya menginspirasi jutaaan orang. Ia banyak melukis dengan menggunakan  mulut dan melahirkan lebih dari 30 buku laris. Ia juga mendirikan "Joni and Friends", organisasi internasional bagi para tunadaksa.

Dalam mengikuti Tuhan, Rasul Paulus mengakui ada begitu banyak  penderitaan yang ia alami. Sakit penyakit, berkali-kali dianiaya dan dipenjara, ditolak, mengalami karam kapal, adalah penderitaan yang pernah menderanya. Meskipun demikian, ia berkata bahwa penderitaan  yang dialaminya tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepadanya (ay. 18). Ia juga berkata bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (ay. 28).  Semua penderitaan itu dimaknai Paulus sebagai jalan menuju kemuliaan dan kebaikan yang kelak akan diterimanya dari Allah.

Tidak mudah memahami hal buruk yang terjadi dalam hidup kita.  Alih-alih bersyukur, lebih gampang bagi kita untuk mengeluh. Allah,  Bapa kita, memahami situasi kita dan tidak akan mencelakakan kita. Firman-Nya tak pernah gagal! Dia menghendaki agar kita percaya  pada-Nya bahwa di ujung penderitaan, orang yang mengasihi-Nya akan mengalami kebaikan dan kemenangan. --Samuel Yudi S /Renungan Harian

SEKALIPUN TAMPAKNYA KITA TIDAK MELIHAT SESUATU YANG BAIK, NAMUN TUHAN TETAP MELAKSANAKAN JANJI-NYA.

Sumber : Renungan Harian

Thursday, October 09, 2014

Menjadi Berharga

KEPUTUSAN LEWI (Lukas 5:27-32)
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. (Lukas 5:28)

Salahkah Yesus memilih Lewi menjadi murid-Nya? Mungkin banyak orang mengira demikian. Alasannya jelas: ia pemungut cukai, orang yang membayar pemerintah Roma agar ia diberi hak untuk memungut pajak dari orang-orang Yahudi. Profesi ini dipandang sebagai tindakan menolong penjajah dan mengkhianati bangsa sendiri. Kewenangan ini pun kerap dipakai untuk memperkaya diri sendiri.

Namun, tak kalah mengejutkan adalah tanggapan Lewi terhadap panggilan Yesus tatkala ia tengah berada di kantornya. Tanpa ragu, ia meninggalkan segala sesuatu—jabatan dan uang—untuk mengikut Yesus. Sebagai perbandingan, beberapa murid Yesus lainnya adalah nelayan, yang kapan saja bisa kembali pada profesi itu, seperti yang terjadi setelah kematian Yesus. Sementara itu, tak ada kemungkinan Lewi untuk kembali ke profesi lamanya. Di kemudian hari, pengalamannya mengikut Yesus ia rekam dengan cermat melalui Injil Matius sebagai salah satu usahanya untuk menjelaskan siapa Yesus kepada orang-orang Yahudi. Ia sangat banyak mengutip Perjanjian Lama guna menunjukkan penggenapannya di dalam Yesus, supaya orang Yahudi menjadi percaya kepada Mesias.

Lewi tidak membiarkan jabatan dan harta memerangkapnya. Ia meninggalkan semua miliknya. Bagaimana sikap hati Anda tatkala Tuhan dengan jelas memanggil Anda untuk melayani Dia? Adakah hal-hal yang mengikat Anda, yang membuat Anda enggan untuk maju? Mintalah pertolongan Tuhan supaya Anda peka terhadap panggilan-Nya, kapan pun waktunya. --HT /Renungan Harian

SEGALA SESUATU MENJADI TIDAK BERHARGA DIBANDINGKAN PANGGILAN MULIA UNTUK MENGIKUT KRISTUS.

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts

Flash Labels by NBT