Monday, January 24, 2011

Menghargai Kehidupan

MENGHARGAI KEHIDUPAN (Mazmur 88)
Dikirim oleh : Fransisca Adella Kipuw

Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati (Pengkhotbah 9:4)

Anak lelaki itu terlahir cacat tanpa dua tangan. Dua kakinya pun tak sempurna, tak cukup kokoh untuk menopangnya berdiri. Apabila "berjalan", ia harus menggulingkan badannya di lantai. Namun, yang membuat saya terkesan tatkala melihatnya melalui tayangan televisi adalah sorot matanya. Tegas. Berani. Gigih. Di panti penampungan itu, ia disayangi dan dilatih untuk mandiri. Dengan jemari kakinya yang mungil, ia mampu memakai dan melepas baju, makan, menggosok gigi, menulis, melukis. Ia dibuang orangtuanya sewaktu bayi. Kini usianya sudah 10 tahun. Kehidupan tidak ramah kepadanya, tetapi ia menjalaninya dengan tangguh.

Orang Yahudi di masa Perjanjian Lama sangat menghargai kehidupan. Sebab, hanya ketika hiduplah manusia dapat berkiprah ini dan itu. Di alam maut, semua nihil dan mustahil. Maka, umur panjang dipandang sebagai berkat dan kemuliaan (Amsal 3:16). Hidup lebih baik daripada mati. "Anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati, " kata Pengkhotbah. Jika Tuhan berkenan, hidup patut dipertahankan dan diperjuangkan. Bahkan ketika penyakit mengancam, doa dan pengharapan untuk hidup tak boleh surut. Pergumulan ini tertuang jelas dalam Mazmur 88. Dalam menghargai hidup, ada perjuangan untuk mempertahankan dan menjalaninya.

Apakah kita menghargai kehidupan? Bagaimana dengan kenyataan banyak janin digugurkan? Bom teror diledakkan? Penggunaan narkoba yang mempertaruhkan masa depan dan nyawa? Apalagi kecenderungan bunuh diri? Menghargai kehidupan memang butuh perjuangan. Ketangguhan bocah cacat itu menggugah sekaligus menantang. Hidup karunia Tuhan layak dijalani dengan tangguh --PAD

SIAPA SAJA YANG MENGHORMATI TUHAN, IA MENGHARGAI KEHIDUPAN SEBAB TUHANLAH PENCIPTA KEHIDUPAN

Sumber : Renungan Harian

Popular Posts