Tuesday, April 03, 2012

Putus Harap

Buat Jantung Iman Anda Berdetak Kembali
Dikirim oleh : Evi Sjiane Djiun

clip_image001

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Reader’s Digest melaporkan bahwa orang-orang yang mengalami depresi serius mempunyai kemungkinan tiga kali lebih besar untuk meninggal dunia karena penyakit jantung. Bahkan mereka yang mengalami depresi ringan mempunyai tingkat kefatalan 50% lebih tinggi dibandingkan mereka yang normal.

Dalam Amsal 12:12 dituliskan, “Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan.” Ayat diatas berbicara tentang “hati” yang berkaitan dengan penyakit rohani maupun  penyakit fisik. Harapan yang tertunda dapat menyebabkan penyakit jantung, baik jasmani maupun rohani.

Harapan yang tertunda adalah saat impian mati, atau saat impian itu dihantui oleh ketakutan. Jika semangat telah menyurut dan kemasabodohan mengganggu, harapan yang tertunda mungkin sedang bekerja. Jika Anda menyadari diri Anda sedang mengikuti gerakan agamawi, melakukan dan mengatakan hal-hal dengan benar sementara merasakan kekosongan dan kematian dalam diri Anda, Anda mungkin korban dari harapan yang tertunda.

Jika kekecewaan tampaknya lebih kuat dibanding sukacita dalam kehidupan Anda; jika air mata muncul saat Anda berpikir tentang orang tertentu; Jika Anda tidak dapat mengembara ke beberapa tempat dalam pikiran dan hati Anda tanpa merasakan ketidaknyamanan atau emosi negatif; jika janji itu sekarang memancarkan kekecewaan atau sinisme bukannya iman; jika pernyataan “Allah akan menolong Anda” disambut dengan kebimbangan atau pertanyaan; Anda mungkin berada pada tahap tertentu penyakit jantung rohani karena dirongrong oleh penyakit yang bernama harapan yang tertunda.

Berita baiknya, sekalipun harapan yang tertunda dapat menyebabkan pernyakit yang fatal. Ada sebuah obat mujarab bagi Anda. Yesus, Sang Tabib Agung itu datang “untuk merawat orang-orang yang remuk hati” (Lukas 4:18-19, Yesaya 61:1).

Abraham dan Sara adalah sebuah contoh nyata mereka yang berhasil melalui serangan penyakit yang bernama harapan yang tertunda itu. Kasus mereka adalah kasus ekstrim yang bisa menyebabkan penyakit jantung secara rohani maupun jasmani. Anda dapat membaca bagaimana Abraham dan Sara tertawa sinis karena menunggu janji Tuhan selama 24 tahun, dan di kali terakhir Tuhan datang kepada Abraham, Dia menjanjikan seorang anak kepada mereka kembali.

Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" (Kejadian 17:17)

Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?" Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? (Kejadian 18: 12-13).

Abraham dan Sara mengalami masalah serius karena harapan yang tertunda, mereka jadi bersikap sinis terhadap janji Tuhan. Ini adalah sebuah proses yang kemungkinan besar terjadi pada mereka yang harapannya tertunda seperti Abraham dan Sara:

1. Patahnya semangat, tahap awal penyakit ini.
2. Kebingungan, saat kita mulai mempertanyakan diri kita sendiri, impian-impian kita dan janji-janji Allah.
3. Ketidakpercayaan, saat harapan hilang dan penantian lenyap.
4. Kekecewaan, tahap pertama kepahitan, yang biasanya melibatkan ketidakpercayaan terhadap karakter Tuhan.
5. Kepahitan, dimana perasaan-perasaan kebencian mendalam kita mempersalahkan Tuhan, orang lain, dan bahkan diri kita sendiri.
6. Sinisme, lenyapnya iman dan harapan sepenuhnya – sebuah hati yang mati.

Abraham dan Sara mengalami itu semua. Iman mereka untuk mendapatkan anak sudah mati; mereka bersikap sinis. Tetapi jangan berhenti disitu. Dengarlah juga kesaksian akhir bagaimana Tuhan berkarya dalam hidup Abaraham dan Sara hingga hidup dan iman mereka dipulihkan, mereka mencapai penggenapan janji Tuhan itu.

Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." ~ Roma 4:18

Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. ~ Ibrani 11:11

Jika Abraham dan Sara dapat berpindah dari tahap harapan yang tertunda yang begitu ekstrim kepada iman yang bersemangat dan kuat, demikian juga Anda. Teruslah “berharap sekalipun tidak ada lagi harapan.” Mari kita teladani hidup Abraham yang hidup karena percaya kepada Tuhan, bahkan saat ia sudah tidak ada lagi dasar untuk percaya, ia terus berharap.

Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. ~ Galatia 3:6-7

Sumber : Adaptasi dari: Perintahkan Jantung Anda Berdetak Lagi; Duch Sheets;Immanuel

Popular Posts